Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 digelar di Jaipur, ibu kota dari negara bagian Rajasthan, India, 23-27 Januari 2020. (Foto: KBRI New Delhi)
Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 digelar di Jaipur, ibu kota dari negara bagian Rajasthan, India, 23-27 Januari 2020. (Foto: KBRI New Delhi)

'Pertunjukan Literatur Terhebat Dunia' Digelar di India

Internasional indonesia-india
Willy Haryono • 02 Februari 2020 18:37
Jaipur: Ada pemandangan yang tidak biasa di kota Jaipur, Ibu kota Negara Bagian Rajasthan, India, yang terkenal dengan julukan Pink City of India. Bukan tanpa alasan, pasalnya sejak tanggal 23-27 Januari 2020, berlangsung perhelatan literatur akbar Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020.
 
Kendati pengunjung harus menghabiskan dana sekitar 300 rupees (sekitar Rp60.000) untuk 1 tiket masuk, antrean JLF 2020 tetap membludak dari hari pertama hingga berakhirnya festival.
 
Berdasarkan keterangan KBRI New Delhi yang diterima Medcom.id, belum lama ini, acara diselenggarakan di hotel Diggi Palace Hotel di jantung kota Jaipur. Hotel tersebut merupakan sebuah bangunan bersejarah peninggalan abad ke-18. Arsitektur Diggi Hotel yang bernuansa klasik Rajasthan dengan paduan warna-warni ukiran unik merefleksikan kedalaman nilai-nilai sejarah dan budaya lokal semakin menambah euforia kemeriahan JLF 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak hari pertama, ribuan pengunjung -- yang tidak hanya berasal dari India -- datang silih berganti memadati area Diggi Palace Hotel yang luasnya hampir 8 hektare.
 
Tidak hanya menjadi yang terbesar di wilayah Asia Selatan, JLF 2020 juga menjadi salah satu festival yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya oleh pecinta litaratur dari berbagai belahan dunia. Sekitar 300 narasumber dari dalam dan luar negeri dihadirkan dalam festival ini. Jaipur Literature Festival bahkan disebut-sebut sebagai "The Greatest Literary Show on Earth."
 
'Pertunjukan Literatur Terhebat Dunia' Digelar di India
Kemeriahan JLF 2020 di Jaipur. (Foto: KBRI New Delhi)
 
Jaipur Literature Festival tahun ini merupakan yang ke-13 sejak kali pertama diselenggarakan pada 2006. Panitia acara ini sudah dibentuk setahun sebelumnya.
 
Menariknya, pengunjung JLF 2020 justru didominasi kaum muda, baik dari India maupun yang datang dari Asia dan Eropa. Tren Ini menunjukkan bahwa ada pergeseran ke arah positif bahwa kaum milenial saat ini menaruh perhatian tinggi dalam upaya revitalisasi dan modernisasi dunia literatur yang sejalan dengan perkembangan global.
 
Diselenggarakan oleh organisasi non-profit yang menamakan diri Team Work Arts, JLF adalah platform literatur terbesar di India yang mempertemukan para tokoh dan pemikir, penyair, penulis lintas generasi, jurnalis, filsuf, novelis, penerbit buku, musisi dan ribuan pecinta literatur baik fiksi maupun non-fiksi. Para tokoh ini, datang dari India dan juga luar negeri, bertemu untuk berdiskusi, bertukar informasi, ide dan pengetahuan demi kepentingan eksistensi dan kemajuan literatur global, inklusif dan integral dengan arus kemajuan teknologi masa kini.
 
Team Work Arts sebagai pihak penyelenggara melibatkan relawan yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa dari berbagai universitas di India. Hal tersebut dimaksudkan sebagai media edukasi dan kesempatan untuk memperoleh pengalaman berharga dalam penyelenggaraan acara berskala internasional. Menariknya lagi, semua relawan mengenakan rompi khas Pandit Jawaharlal Nehru berwarna kuning muda itu bertuliskan “May I Help You," sebuah kalimat sederhana namun menggambarkan antusiasme penyelenggara untuk membantu para pengunjung yang hadir.
 
'Pertunjukan Literatur Terhebat Dunia' Digelar di India
Kemeriahan JLF 2020 di Jaipur. (Foto: KBRI New Delhi)
 
JLF 2020 menghadirkan narasumber ternama seperti Anand Girigharadas dan Shoba De yang memaparkan topik mengenai urban life, Nobel Laurate Abhijit Banerjee, Makarand Sathe membahas tema Marathi Theatre, jurnalis Ravish Kumar dan Madhur Jaffrey dan tokoh-tokoh penting lainnya, seperti David Wallace sang penulis “The Uninhabitable Earth", Martin Goodman dan James Thornton yang merupakan penulis buku “Client Earth," untuk sesi pembahasan mengenai perubahan iklim, polusi dan lingkungan.
 
Untuk sesi karya literatur fiksi, panitia mendatangkan penulis seperti Leila Slimani, Avni Doshi, Elizabeth Gilbert, John Lancerter dan Howard Jacobson. Tidak ketinggalan, JLF juga menghadirkan peneliti dan pakar literatur seperti Stephen Greeblat dan Peter Frankopan, dan beberapa jurnalis ternama, seperti Christina Lamb, Katherine Eban, dan Dexter Filkins, serta biografer Jung Chang dan Benjamin Moser.
 
JLF 2020 juga menghadirkan Jaipur Book Mark sebagai acara samping yang menjadi landasan interaksi para pebisnis industri perbukuan dari berbagai negara seperti penerbit, agen literatur, penulis, penterjemah, agen-agen penterjemah serta penjual buku.
 
Jaipur Book Mark tidak hanya berbicara seputar bisnis pada sesi-sesi yang relevan dan diskusi roundtable, tapi juga menyediakan atmosfer dan ruang strategis melalui one-on-one meeting yang diharapkan dapat menciptakan kerjasama potensial melalui penandatanganan kesepakatan bisnis di bidang industri perbukuan. Sebagian dari buku-buku yang dibahas pada JLF 2020 juga dapat dibeli pada Jaipur Book Mark, yang lokasinya juga di Diggi Palace Hotel.
 
Menurut Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI New Delhi, Lestyani Yunarsih, yang berkunjung ke JLF 2020 di Jaipur bersama Kabag Penilaian dan Pengawasan Buku dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud RI, Supriyatno, JLF adalah ajang literatur global yang sangat strategis untuk diikuti, mengingat banyaknya narasumber papan atas dan kapasitas kegiatan yang sangat besar dengan jumlah pengunjung mencapai 60.000 orang.
 
'Pertunjukan Literatur Terhebat Dunia' Digelar di India
Kemeriahan JLF 2020 di Jaipur. (Foto: KBRI New Delhi)
 
KBRI New Delhi merekomendasikan keikutsertaan Indonesia pada JLF mendatang dengan mengusulkan para literer ternama Indonesia untuk menjadi salah satu narasumber di ajang tersebut. Penjajakan partisipasi Indonesia pada JLF mendatang telah dilakukan melalui komunikasi langsung dengan pihak Team Work Arts. Rencana tersebut mendapat tanggapan positif dari pihak panitia dan mengharapkan rekomendasi nama-nama dapat dikirimkan pada akhir bulan Februari 2020.
 
Ajang JLF, menurut salah satu ahli literatur Indonesia, Prof. Dr. Djoko Saryono, guru besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, dapat dijadikan kesempatan untuk menduniakan sastra Indonesia melalui keikutsertaan dalam acara internasional.
 
Selain itu, JLF juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan jaringan oleh tokoh Indonesia dengan para penulis internasional dan tokoh-tokoh lainnya dalam rangka revitalisasi dan penguatan hubungan Indonesia dan India khususnya, seperti yang pernah terjalin pada masa lampau.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif