medcom.id, Hong Kong: Pemerintah Hong Kong menarik polisi anti huru-hara dari jalanan. Hal ini dilakukan karena unjuk rasa pro demokrasi dinilai sudah mereda.
Meski aparat sudah tidak lagi menembakkan gas air mata atau menyemprotkan cairan merica, demonstran masih memadati jalanan. Mereka memblokade beberapa ruas jalan utama, sambil mengangkat spanduk dan payung, serta terus meneriakkan tuntutan.
Tidak semua petugas ditarik. Seperti diberitakan CNN, beberapa polisi masih bersiaga di dekat kompleks pemerintahan.
Aktivitas di distrik finansial dan komersil Hong Kong otomatis terganggu. Karena jumlah pendemo yang begitu besar, diperkirakan gerakan protes menuntut demokrasi ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Unjuk rasa dipicu desakan pencabutan kebijakan pemilihan umum Hong Kong oleh Tiongkok. Demonstran ingin warga Hong Kong dapat memilih sendiri pemimpinnya, tanpa ada campur tangan Beijing.
Sekitar 100 pendemo di Taiwan mendesak semua perundingan ekonomi dan politik pemerintah dengan Tiongkok dihentikan. Ini merupakan bentuk dukungan terhadap gerakan pro demokrasi di Hong Kong.
Pengunjuk rasa, yang dipimpin aktivis pelajar Chen Weiting, mengangkat spanduk bertuliskan kecaman atas respon polisi kepada demonstran Hong Kong.
Sementara itu pemimpin Hong Kong Leung Chun-ying berjanji menggelar perundingan putaran terbaru terkait reformasi pemilihan umum. Langkah ini merespon gelombang unjuk rasa warga pro demokrasi sejak Sabtu kemarin.
Leung berbicara ke hadapan massa di balik barikade polisi. Meski berjanji, ia tidak menyebut kapan tanggal pasti dialog dan konsultasi itu diadakan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan