"Agen perempuan saat ini sedang dilatih untuk melakukan pembunuhan. Biasanya menggunakan racun," kata Chan-il, seperti dikutip AFP, Jumat (17/2/2017).
"Mereka dapat dengan mudah menyembunyikan injektor racun yang terbuat dari plastik baik di dalam lipstik, kosmetik atau pakaian mereka. Alat plastik tidak terdeteksi oleh keamanan bandara," bebernya lagi.
Chan-il menambahkan, kini agen laki-laki makin dikesampingkan oleh Korut. Pasalnya, agen perempuan dianggap lebih bisa diperintah dengan mudah.
"Penampilan yang baik sangat diutamakan oleh rezim Jong-un dalam 'menggerakkan' agen perempuan ini. Bentuk tubuh juga diperhatikan. Jika terlalu gemuk, ia tidak akan dijadikan agen," katanya.
Sebelum menjadi agen resmi Korut, tambahnya, para perempuan ini dilatih berbulan-bulan, termasuk menggunakan senjata serta kursus bahasa.
Komentarnya ini mencuat setelah kakak tiri Kim Jong-un, yaitu Kim Jong-nam dinyatakan tewas dibunuh. Tiga tersangka kini pun telah ditangkap otoritas Malaysia dan dua di antaranya adalah perempuan.
Chan-il, adalah seorang mantan komandan Korut yang membelot ke Korsel pada 1979. Sekarang ia menjadi peneliti terkemuka urusan Korut dan kritikus keras terhadap Negara Komunis tersebut.
Ia adalah salah satu dari delapan pembelot yang diberi perlindungan tingkat tinggi oleh Korsel.
Para pejabat Korsel meyakini bahwa Jong-nam dibunuh atas suruhan Korut sendiri. Pasalnya, Jong-nam, yang merupakan anak hasil hubungan tidak resmi Kim Jong-il dengan seorang artis Korut, selama ini hidup mengasingkan diri.
Dikabarkan, Jong-nam kerap membeberkan rezim Jong-un yang kejam. Ia juga kerap membocorkan rahasia Korut.
Jika terbukti, pembunuhan di Kuala Lumpur akan menjadi kasus kematian paling mencolok yang diperintahkan Jong-un usai pemimpin muda itu mengeksekusi pamannya sendiri, Jang Song-thaek, pada 2013.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News