Tokoh oposisi Kamboja, Kem Sokha, yang baru saja dibebaskan dari tahanan. Foto: AFP
Tokoh oposisi Kamboja, Kem Sokha, yang baru saja dibebaskan dari tahanan. Foto: AFP

Pemimpin Oposisi Kamboja Hadapi Sidang Terkait Pengkhianatan

Internasional politik kamboja kamboja
Medcom • 18 November 2019 14:15
Phnom Penh: Tokoh oposisi Kamboja, Kem Sokha, yang baru saja dibebaskan dari tahanan, masih akan diadili atas tuduhan pengkhianatan pada Senin.
 
Kem Sokha, 66, adalah salah satu pendiri Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP) yang baru saja dibubarkan menjelang pemilihan umum yang dihujani banyaknya kritikan pada tahun lalu.
 
Dia pun ditangkap pada tahun 2017 dan dituduh merencanakan untuk menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Hun Sen. Dia ditahan pertama kali di penjara terpencil yang kemudian dijadikan ke tahanan rumah sebelum kondisi jaminan ditetapkan untuknya minggu lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengadilan menutup penyelidikan atas kasusnya pada Jumat. Namun, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengklarifikasi bahwa ia masih akan diadili pada Senin.
 
"Tuduhan terhadap Kem Sokha tidak akan dibatalkan," kata Hun Sen di tengah desas-desus bahwa Raja akan segera memaafkannya.
 
"Mereka hanya menutup penyelidikan sehingga kasus itu dapat dikirim ke pengadilan. Kasus itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk diselesaikan,” imbuh dia, dirilis dari AFP, Senin, 18 November 2019.
 
“Ini juga adalah ancaman terselubung bagi anggota oposisi lainnya untuk tidak ‘menabrak tembok’ (melanggar aturan),” lanjut dia dalam sebuah pernyataan.
 
Kem Sokha saat ini dilarang meninggalkan Kamboja atau mengambil bagian dalam kegiatan politik. Dia mengunggah pesan pada Jumat di Facebook yang menyerukan ‘rekonsiliasi nasional’ setelah pertemuan dengan sejumlah utusan asing ke Kamboja.
 
Kelompok-kelompok HAM mengatakan sistem hukum Kamboja sepenuhnya dikendalikan oleh Pemerintah Hun Sen. Sementara, mitra politik Sokha, Sam Rainsy, kembali ke Prancis pada akhir pekan setelah berupaya pulang untuk hari kemerdekaan 9 November di Kamboja.
 
Rainsy meninggalkan Prancis sejak 2015 untuk menghindari hukuman penjara yang dianggapnya bermotivasi politik. Dia berjanji akan kembali secara dramatis ke Kamboja namun berakhir di Malaysia dan Indonesia bersama pejabat CNRP lainnya.
 
Hun Sen memerintahkan pembebasan dengan jaminan lebih dari 70 anggota dan aktivis oposisi yang dituduh pemerintah membantu Rainsy kembali pada pekan lalu.
 
Pembubaran CNRP pada 2017 membuka jalan bagi partai yang berkuasa Hun Sen untuk menyapu pemilihan yang banyak dikritik tahun lalu. Dia pun mengubah Kamboja menjadi negara satu partai.
 
Akibatnya, Uni Eropa memulai peninjauan skema tarif bebas masuk untuk sektor garmen yang menguntungkan Kamboja. Para analis mengatakan kemungkinan penghapusan kesepakatan itu adalah titik lemah politik yang langka bagi Hun Sen.
 

 
Penulis: Rifqi Akbar
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif