Masyarakat Uighur di Xinjiang, Tiongkok diduga kerap menjadi korban diskriminasi. Foto: AFP
Masyarakat Uighur di Xinjiang, Tiongkok diduga kerap menjadi korban diskriminasi. Foto: AFP

Tiongkok Klaim Semua Tahanan Uigur Sudah Bebas

Internasional tiongkok uighur
Arpan Rahman • 10 Desember 2019 19:00
Xinjiang: Tiongkok mengklaim orang-orang yang dikurungnya di ‘kamp pendidikan ulang’ kini telah ‘lulus’ dan menjalani kehidupan yang bahagia.
 
Itu terjadi setelah kecaman internasional terhadap kamp itu, di mana lebih dari satu juta Muslim dikatakan sudah ditahan dalam kondisi yang brutal.
 
Gubernur Xinjiang, Shohrat Zakir mengatakan, perkiraan berapa banyak orang yang ditahan adalah murni sebagai tuduhan palsu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat ini peserta pelatihan yang telah berpartisipasi, semuanya lulus,” ujar Zakir, seperti dikutip The Sun, Senin, 9 Desember 2019.
 
"Dengan bantuan pemerintah, lapangan kerja yang stabil telah tercapai dan kualitas hidup mereka telah ditingkatkan," ungkapnya.
 
Tiongkok bersikeras bahwa kamp-kamp itu -- dengan tembok tinggi, menara pengawas, dan kawat duri -- adalah pusat pelatihan kejuruan yang dihadiri "siswa" secara sukarela.
 
Tetapi sejumlah kelompok hak asasi mengatakan itu lebih seperti penjara keamanan tinggi atau bahkan ‘kamp konsentrasi’.
 
Dokumen yang bocor bulan lalu menunjukkan strategi yang disengaja untuk mengunci warga Uighur dan etnis minoritas lainnya bahkan jika mereka tidak melakukan kejahatan.
 
Di dalam tahanan, mereka dicuci otak dalam ideologi Komunis, dipaksa untuk murtad dari agama mereka dan dipaksa untuk hanya berbicara bahasa Mandarin.

Kampanye kotor


Pada September, rekaman menunjukkan 600 narapidana yang dibelenggu dan ditutup matanya dengan kepala yang dicukur di salah satu kamp. Beberapa mantan tahanan mengatakan mereka diperkosa, disiksa, dan dipaksa untuk melakukan aborsi.
 
Otoritas Tiongkok menuduh Amerika Serikat melakukan ‘kampanye kotor’ setelah Kongres mengeluarkan undang-undang yang mengutuk pelanggaran hak asasi manusia di berbagai kamp.
 
"Ketika kehidupan orang-orang dari semua kelompok etnis di Xinjiang sangat terancam oleh terorisme, AS menjadi tuli,” ucap Gubernur Zakir.
 
"Sebaliknya, sekarang masyarakat Xinjiang terus berkembang dan orang-orang dari semua etnis hidup dan bekerja dalam damai, AS merasa tidak nyaman, dan menyerang serta menodai Xinjiang,” tegas Zakir.
 
Dia katakan, pelatihan akan terus didasarkan pada ‘kehendak independen’ dan ‘kebebasan untuk datang dan pergi’.
 
Tetapi warga Uighur dan etnis minoritas Muslim dari wilayah tersebut mengatakan anggota keluarga mereka terus ditahan secara sewenang-wenang.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif