Thailand Tutup Paksa Diskusi Jurnalis soal Rohingya
Sesaat sebelum diskusi panel dibubarkan otoritas Thailand. (Foto: FCCT/Twitter)
Bangkok: Otoritas Thailand menutup paksa diskusi panel yang diselenggarakan Klub Koresponden Asing Thailand (FCCT) di mana diskusi ini membahas pelanggaran HAM di Myanmar dan pertanggungjawaban militer Myanmar.

Menurut penyelenggara, polisi menyerbu dan menutup paksa dengan alasan acara tersebut ditunggangi pihak ketiga untuk menyebabkan kerusuhan dan membahayakan keamanan nasional.

Ini adalah acara keenam yang dibatalkan secara paksa sejak militer melakukan kudeta pada 2014. FCCT bersikeras bahwa acara tersebut murni hanya untuk diskusi para jurnalis.


Dilansir dari kantor berita Asian Correspondent, Rabu 12 September 2018, acara yang digelar di Bangkok bertajuk "Apakah Jenderal Myanmar akan Diadili atas Kejahatan Internasional?" ini bertujuan untuk membongkar laporan pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) soal Rohingya yang dirilis bulan lalu.

Laporan tersebut menuding para jenderal Myanmar, termasuk Panglima Militer Jenderal Min Aung Hlaing melakukan genosida terhadap Rohingya di Rakhine State.

Terkait penutupan paksa oleh polisi Thailand ini, banyak wartawan mengungkapkan kekesalannya di media sosial. Seorang wartawan BBC Johnathan Head menyebut penutupan tersebut sebagai bukti Thailand membela para jenderal Myanmar.

Sementara itu, editor dari AFP Jerome Taylor mengatakan bahwa Thailand menunjukkan sinyal adanya penindasan kebebasan pers.

Para jurnalis yang hadir bersaksi bahwa ada sekitar 12 anggota polisi Thailand tanpa memakai seragam polisi muncul menjelang dimulainya diskusi. Mereka memerintahkan panelis untuk tidak berbicara dan menyerahkan surat pembatalan diskusi tersebut. 



(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id