Rumah Sakit Indonesia di Gaza ditambah kapasitasnya untuk merawat pasien (Foto: Metro TV).
Rumah Sakit Indonesia di Gaza ditambah kapasitasnya untuk merawat pasien (Foto: Metro TV).

Joserizal dan Keinginannya Merawat Warga Palestina

Internasional indonesia-palestina Rumah Sakit Indonesia di Gaza Joserizal Jurnalis
Fajar Nugraha • 20 Januari 2020 12:36
Jakarta: Rumah Sakit Indonesia di Gaza melayani kesehatan dari warga Gaza yang terisolir oleh Israel. Sosok Joserizal Jurnalis turut membidani keberadaan rumah sakit.
 
Namun sosok dokter berusia 56 tahun itu kini tutup usia di RS Harapan Kita, Jakarta pada Senin 20 Januari 2020, pukul 00.38.
 
Pendiri danPendiri sekaligus Dewan Pembina Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) itu berperan aktif dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Dibangun di Bayt Lahiya, Gaza utara, ruma sakit ini dibangun dari uang sumbangan warga Indonesia. Pembangunannya pun menghabiskan dana Rp126 miliar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perencanaannya dilakukan pada Januari 2009 dan pembangunannya dimulai pada Mei 2011. Pada 27 Desember 2015, Rumah Sakit Indonesia di Gaza diresmikan oleh mantan Wakil PresidenJusuf Kalla.
 
Kini rumah sakit tersebut direncanakan untuk diperluas. MER-C dan tentunya Dr. Joserizal Jurnalis pun menggalang dana untuk biaya pembangunan perluasan rumah sakit itu.
 
Dalam programNewsline Metro TV,Jumat 4 Mei 2018, Joserizal menjelaskan mengapa rumah sakit ini perlu diperluas.
 
"Kita diberikan kelapangan hidup ada suatu rahmat bagi kita, itu tidak pantas kalau nikmati sendiri. Banyak orang yang menderita di luar sana. Bukan hanya negara kita, tetapi di luar negara kita," ungkap Joserizal.
 
"Sifat kita untuk menolong itu adalahthe most neglected(yang sangat terabaikan) danthe most vulnerable(yang sangat rapuh). Kita menganggap Palestina ini adalah (golongan) yangthe most neglecteddanthe most vulnerable," jelasnya.
 
"Oleh sebab itu kita punya komitmen yang tinggi terhadap Palestina, seperti juga seperti negara-negara lain seperti Myanmar, Somalia, Sudan, Lebanon selatan, Irak. Tapi Palestina lain. (penderitaan Palestina) ini perjalanannya panjang dan diokupasi dan menarik lagi adalah pengusiran warga, kemudian isolasi, isolasi ini adalah Gaza," imbuh Joserizal.
 
Saat ini tidak ada lagi ruang yang cukup bagi pasien. MER-C pun bermaksud untuk menambah lantai bangunan rumah sakit hingga dua lantai lagi. Diharapkan pula nantinya bila dana terkumpul dan perluasan rumah sakit terwujud, akan ada 300 kamar yang bisa menampung pasien.
 
Inilah bentuk warisan dari Dr. Joserizal untuk rakyat Palestina. Demi terwujudnya rakyat Palestina yang sehat dan tentunya merdeka dari Israel.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif