Kapal induk AS, USS Ronald Reagan melintas di Laut China Selatan pada 16 Oktober 2019. Foto: AFP
Kapal induk AS, USS Ronald Reagan melintas di Laut China Selatan pada 16 Oktober 2019. Foto: AFP

Tiongkok Cegat Kapal AS di Laut China Selatan

Internasional amerika serikat laut china selatan militer tiongkok
Arpan Rahman • 28 November 2019 16:33
Beijing: Tiongkok memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak memprovokasi ‘kecelakaan’. Setelah kapal perang AS berpatroli di perairan Laut Cina Selatan yang disengketakan, pekan lalu. Patroli itu membuat marah Beijing.
 
Presiden Xi Jinping mendesak AS menghentikan ‘tindakan provokatif’ di kawasan itu. Militer AS mengaku kapalnya dua kali berlayar pekan lalu di pinggiran pulau-pulau yang diklaim oleh Tiongkok. Negeri Tirai Bambu berupaya menegaskan otoritas mereka di wilayah di mana sejumlah negara kecil juga memiliki klaim atas kepemilikan perairan tersebut.
 
Salah satu pulau ini adalah Mischief Reef (Gugusan Karang Mischief), tempat kapal perang litoral Gabrielle Giffords melakukan perjalanan dalam 12 mil laut dari Kepulauan Spratly timur -- yang mana Tiongkok, Malaysia, Taiwan, dan Filipina semuanya mengklaim kedaulatan atasnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebagai tanggapan, pemerintah Tiongkok mengirim peringatan menantang ke Washington pada Jumat, mendesak AS menghentikan patroli dalam sebuah pernyataan marah.
 
"Kami menyerukan kepada AS untuk menghentikan tindakan provokatif seperti itu demi menghindari terjadinya kecelakaan,” ujar seorang juru bicara Komando Teritori Selatan Tiongkok.
 
"Tiongkok memiliki kedaulatan yang tak terbantahkan atas pulau-pulau Laut China Selatan dan daerah sekitarnya," tegasnya, disiarkan dari Daily Express, Kamis 28 November 2019.
 
Angkatan bersenjata Tiongkok kemudian mengirim personel militer mencegat dua kapal Angkatan Laut AS setelah mereka memasuki Laut China Selatan.
 
Sementara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) berkata: "PLA Tiongkok mengirim kapal dan pesawat untuk melakukan pemantauan dan verifikasi seluruh proses pada dua kapal perang AS dan memperingatkan mereka untuk pergi."
 
Mereka memperingatkan ‘kecelakaan’ dapat terjadi jika AS tetap berada di pinggiran perairan, dan semakin marah ketika AS mengirim kapal patroli ke Vietnam untuk membantu meningkatkan kapasitas Hanoi guna menggagalkan perambahan Tiongkok.
 
Pada pertemuan tertutup awal pekan lalu, Menteri Pertahanan Tiongkok Wei Fenghe mendesak Menteri Pertahanan AS Mark Esper "menghentikan ketegangan di Laut China Selatan dan tidak memprovokasi dan meningkatkan ketegangan di Laut China Selatan", menurut juru bicara Tiongkok.
 
Sebagai tanggapan, Esper menuduh Beijing "semakin menggunakan paksaan dan intimidasi untuk memajukan tujuan strategisnya" di wilayah tersebut.
 
Militer Tiongkok telah menjadi pusat kepemimpinan Xi, dengan Presiden Tiongkok terlibat dalam berbagai pergolakan politik dan militer dengan AS.
 
Tiongkok tetap bersikeras dalam upayanya mengklaim otoritas atas Laut China Selatan, menentang keputusan pengadilan internasional dan tetangganya yang dirugikan dalam pembelaannya untuk klaim Sembilan Garis Putus-putus. Garis itu berfungsi sebagai demarkasi untuk apa yang Beijing yakini sebagai perairan mereka.
 
Laut China Selatan diperebutkan dengan panas karena jalur pelayarannya yang menguntungkan, kapasitas untuk keunggulan strategis militer, dan kekayaan sumber daya alam seperti minyak dan mineral.
 
Di tengah perselisihan ini ada berbagai gugusan pulau seperti Kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif