Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Jepang Lakukan Eksekusi Pertama Sepanjang 2019

Internasional eksekusi mati jepang
Arpan Rahman • 02 Agustus 2019 18:09
Tokyo: Jepang melakukan eksekusi mati terhadap dua terpidana mati pada Jumat, 2 Agustus. Eksekusi tersebut merupakan yang pertama dilakukan tahun ini.
 
Keduanya diidentifikasi oleh kementerian sebagai Koichi Shoji, 64, yang membunuh dua wanita di Prefektur Kanagawa pada 2001. Yasunori Suzuki, 50, yang membunuh tiga wanita di Prefektur Fukuoka antara 2004 dan 2005.
 
"Saya memerintahkan eksekusi berdasarkan pertimbangan yang cermat," Menteri Kehakiman Takashi Yamashita mengatakan pada konferensi pers, yang disiarkan Kyodo, Jumat 2 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mencatat kedua terhukum "mengambil nyawa para korban yang tidak bersalah dengan alasan yang sangat egois."
 
Hukum gantung terakhir membawa jumlah eksekusi di bawah pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe, yang menjabat pada 2012, menjadi 38 kali.
 
Mereka menyusul eksekusi dua Desember lalu terhadap dua orang lelaki yang terlibat dalam perampokan-pembunuhan presiden tahun 1988 dan seorang karyawan perusahaan penasihat investasi. Jepang juga menggantung guru kultus AUM Shinrikyo Shoko Asahara, 63, dan 12 mantan anggota kultus hari kiamat pada Juli tahun lalu.
 
Shoji dihukum karena membunuh dan mencuri uang dari Hiroko Hayashi, 54, pada Agustus 2001, dan Fumiko Osawa, 42, pada September tahun itu dalam konspirasi dengan pacarnya. Hukuman mati atas dirinya jatuh setelah Mahkamah Agung menolak banding pada November 2007.
 
Suzuki dinyatakan bersalah mencekik sampai mati Nana Kubota yang berusia 18 tahun di Iizuka dan secara fatal menikam Toshiko Onaka yang berusia 62 tahun di Kitakyushu, keduanya pada Desember 2004, serta menikam sampai mati Keiko Fukushima yang berusia 23 tahun dan merampas tas tangannya di Fukuoka pada Januari berikutnya.
 
Hukuman dia diputuskan setelah pengadilan tinggi menolak banding pada Maret 2011.
 
Sistem hukuman mati Jepang telah menuai kritik internasional, meskipun beberapa jajak pendapat menunjukkan mayoritas orang Jepang mendukungnya. Federasi Asosiasi Pengacara Jepang sudah menyerukan agar dihapuskan pada 2020.
 
Pada Desember, puluhan anggota parlemen juga membentuk kelompok buat membahas masa depan sistem hukuman mati Jepang, termasuk kemungkinan masuknya hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif