medcom.id, Bangkok: Pemimpin junta militer Thailand, Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, akan mengunjungi Gedung Putih pada Juli mendatang. Lawatan tersebut merupakan respons dari undangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
AS sempat membekukan dialog tingkat tinggi dan mengurangi latihan militer gabungan setelah terjadinya kudeta di Thailand pada 2014. Undangan Trump terhadap Prayuth dapat menjadi sinyal normalisasi hubungan kedua negara.
Washington berusaha menjalin hubungan dengan banyak negara di Asia untuk menekan Korea Utara yang mengejar ambisi nuklir serta misil balistik. AS juga ingin meredam ambisi China yang mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan.
Juru bicara pemerintahan Thailand Weerachon Sukondhapatipak mengatakan kepada awak media bahwa perbincangan antara Prayuth dan Trump nantinya meliputi "perdagangan, investasi, perniagaan dan keamanan."
Seperti dilansir Reuters, Selasa 6 Juni 2017, ia menambahkan kedua negara berusaha menetapkan jadwal kunjungan pada akhir Juli, meski tanggal pastinya belum ditetapkan.
Washington adalah mitra dagang ketiga terbesar bagi Thailand, setelah Jepang dan China.
Pada 2015, nilai perdagangan kedua negara diestimasi melebihi USD37 miliar. AS juga adalah salah satu investor terbesar di Thailand, dengan lebih dar USD11 miliar dalam skema investasi langsung di tahun yang sama.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan