"Pemerintah Republik Korea akan menyalurkan bantuan kemanusiaan sebesar USD1 juta kepada Pemerintah Republik Indonesia sehubungan dengan terjadinya bencana gempa dan tsunami di Pulau Sulawesi pada Jumat 28 September," demikian dikutip dari pernyataan Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia, Minggu 30 September 2018.
Pernyataan ini dibenarkan Duta Besar Korsel untuk Indonesia Kim Chang-beom. Kepada Medcom.id, Kim mengatakan pemerintahnya membuat keputusan tersebut untuk membantu sahabatnya, Indonesia.
"Pemerintah Korea berharap penyelamatan dan pemulihan cepat bisa dilakukan dengan lancar di wilayah-wilayah yang terkena dampak," tukas dia.
Pemerintah Korsel berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat. Seoul juga akan berkonsultasi dengan Pemerintah RI terkait bantuan pencarian korban.
"Terkait hal tersebut, Pemerintah Republik Korea akan berkonsultasi dengan kementerian terkait dan juga Pemerintah RI guna mempertimbangkan pengiriman tim SAR Republik Korea ke Indonesia," ucap Kedubes Korsel.
Baca: Presiden Korsel Sampaikan Simpati Mendalam untuk Indonesia
Sementara itu, jumlah dana bantuan Uni Eropa yang akan disumbangkan ke Indonesia mencapai Rp26 miliar. Menurut Komisioner Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis Uni Eropa, Christos Stylianides, dana tersebut merupakan bantuan tercepat yang bisa mereka berikan.
"Kami bertindak cepat untuk memberikan bantuan darurat kepada mereka yang terkena dampak di Indonesia. Pendanaan kami akan digunakan untuk membantu mereka yang paling rentan, serta menyediakan pasokan penting seperti makanan, tempat tinggal, air dan sanitasi serta persediaan medis," tutur Stylianides.
"Ini adalah solidaritas Uni Eropa. Kami turut berbelasungkawa kepada semua korban dan mendoakan yang terbaik kepada petugas yang bekerja sepanjang waktu untuk menyelamatkan nyawa," imbuh dia.
Tak hanya bantuan dana, Komisi Uni Eropa juga mengerahkan seorang ahli kemanusiaan ke wilayah Sulawesi Tengah untuk membantu mengkoordinasikan upaya bantuan dari Benua Biru. Komisi Uni Eropa juga telah mengaktifkan layanan pemetaan satelit Copernicus darurat Uni Eropa.
"Pusat Koordinasi Tanggap Darurat Komisi Eropa 24/7 (ERCC) memantau perkembangan dan siap untuk menyalurkan dukungan lebih lanjut sebagaimana diperlukan," pungkas Komisi Uni Eropa.
Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 30 September 2018, jumlah korban tewas akibat gempa dan tsunami di Sulteng mencapai 832 orang, dengan 540 lainnya mengalami luka berat dan 29 belum ditemukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News