Pemimpin Hong Kong Carrie Lam berbicara di hadapan awak media, Selasa 8 Oktober 2019. (Foto: AFP/NICOLAS ASFOURI)
Pemimpin Hong Kong Carrie Lam berbicara di hadapan awak media, Selasa 8 Oktober 2019. (Foto: AFP/NICOLAS ASFOURI)

Hong Kong Buka Peluang Terima Bantuan Tiongkok

Internasional hong kong Protes Hong Kong
Willy Haryono • 08 Oktober 2019 12:30
Hong Kong: Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengaku masih membuka peluang untuk menerima bantuan Tiongkok dalam menangani gelombang unjuk rasa pro-demokrasi yang telah memasuki pekan ke-19.
 
Dalam beberapa hari terakhir, intensitas aksi kekerasan dan bentrokan dalam gelombang protes di Hong Kong meningkat. Lonjakan intensitas terjadi setelah Carrie Lam menerapkan larangan penggunaan masker bagi semua demonstran pada Jumat 4 Oktober.
 
Larangan penggunaan masker merupakan bagian dari Emergency Regulation Ordinances -- hukum era kolonial yang memungkinkan diterapkannya aturan apapun saat Hong Kong berada dalam status darurat. Salah satu tujuan larangan adalah mengidentifikasi demonstran yang berbuat kekacauan saat berunjuk rasa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Merespons situasi terkini, Carrie Lam mengatakan kepada awak media bahwa dirinya yakin otoritas Hong Kong masih dapat menangani aksi protes. Namun jika situasi menjadi "sangat buruk" suatu saat nanti, ia mengaku bisa saja meminta bantuan kepada Tiongkok.
 
"Saat ini, saya masih sangat yakin bahwa kita semua dapat mencari solusi bersama tanpa bantuan pihak lain. Sikap ini juga merupakan pandangan pemerintah pusat (di Beijing), bahwa Hong Kong sebaiknya menangani masalahnya sendiri," kata Carrie Lam, dilansir dari AFP, Selasa 8 Oktober 2019.
 
"Tapi jika situasi berubah menjadi sangat buruk, maka semua opsi terbuka demi menyelamatkan Hong Kong," sambung dia.
 
Dua orang telah disidang atas tudingan melanggar larangan penggunaan masker. Mereka adalah seorang mahasiswa dan wanita berusia 38 tahun.
 
Saat keduanya disidang, ratusan orang di luar gedung pengadilan meneriakkan sejumlah slogan seperti "mengenakan masker bukan sebuah kejahatan" dan "hukum tidak adil."
 
Mengenai larangan penggunaan masker, Carrie Lam menilai "masih terlalu dini" untuk menilai apakah aturan tersebut efektif atau tidak.
 
"Saya yakin kalian semua juga setuju bahwa aturan atau undang-undang yang baru diberlakukan biasanya membutuhkan waktu agar dapat diimplementasikan dengan baik," lanjutnya.
 
Gelombang protes di Hong Kong berawal dari penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. Aksi protes tetap berlanjut meski RUU Ekstradisi dicabut, dan kini meluas menjadi gerakan pro-demokrasi dan penentangan terhadap Hong Kong serta Tiongkok.
 
Hong Kong adalah bekas koloni Inggris, yang sudah dikembalikan ke Tiongkok pada 1997 di bawah sistem "Satu Negara, Dua Sistem." Sistem tersebut menjamin otonomi Hong Kong.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif