medcom.id, Islamabad: Ibu delapan anak, Mah Pari, tinggal di daerah subur di barat daya provinsi Balochistan, Pakistan -- tapi anaknya yang berusia dua tahun, Gul Mir, menangis kelaparan saat terbuai di pangkuannya.
"Semua bayi saya lemah setelah mereka lahir. Mungkin itu karena ASI saya tidak bagus," keluhnya, seperti dikutip AFP, Rabu (2/11/2016).
Di Pakistan, banyak ibu diminta untuk memberi asupan teh kepada bayi mereka. Herbal atau susu formula, salah satu faktor utama di balik terhambatnya tingkat pertumbuhan anak-anak secara mengejutkan, 44 persen.
"Dalam budaya Balochi, kami memberikan battri, herbal tumbuk dua kali sehari, pagi dan sore," kata ibu yang putus asa, delapan kali kehamilannya nyaris tidak membuatnya bertambah terampil.
"Saya juga memberinya teh dan susu dua kali sehari, pada pagi dan malam hari," tambahnya -- jauh lebih sedikit dari rekomendasi WHO.

Anak-anak di Pakistan (Foto: AFP).
Di tempat lain di negeri ini, bayi sering makan ghee (mentega), madu atau gula tebu.
"Saya bekerja sepanjang hari di rumah, saya tidak punya waktu untuk menyusui," kata Mah Pari, yang amat percaya bahwa ramuan tradisional lebih baik dari ASI-nya sendiri.
Gul Mir, dua tahun, ditimbang hanya 5 kilogram bobotnya di pusat asupan keliling pedesaan yang dijalankan oleh Doctors Without Borders (MSF) di Manju Shori.
Bobotnya kurang dari setengah berat badan ideal untuk anak seusianya -- sementara bayi yang baru lahir di Barat rata-rata beratnya 3,5kg -- dan kekurangan itu mencapai tahap kritis yang cenderung memiliki konsekuensi permanen.
Krisis melanda Pakistan
Situasi ini tidak terbatas di Balochistan, provinsi termiskin dan paling labil keempat di Pakistan. Terhambatnya tingkat pertumbuhan di negara itu termasuk yang tertinggi di dunia, menurut UNICEF, karena perpaduan mematikan beberapa faktor berisiko: gizi buruk, masalah kebersihan, dan air yang tidak bersih, dikombinasikan dengan kurangnya pendidikan bagi kaum ibu.
Konsekuensinya permanen dan melumpuhkan: kerdil, perkembangan otak yang tidak lengkap, dan peningkatan risiko penyakit.
Hasilnya berdampak besar pada tingkat nasional, mengurangi IQ dan produktivitas dari persentase besar penduduk.
"Ini krisis, darurat massal," kata Angela Kearney, kepala UNICEF di Pakistan, menekankan bahwa salah satu penyebab utama gizi buruk adalah hambatan menyusui.
Hanya 38 persen bayi yang diberi asupan ASI eksklusif selama enam bulan pertama mereka sejalan dengan rekomendasi PBB. Angka yang rendah ini disalahkan pada tradisi lokal, beban kerja yang berat dari kaum ibu, dan pemasaran yang kuat oleh industri susu.
Seperti banyak nenek lainnya, Razul baru muncul setelah anak-anaknya dan putri-menantunya sibuk bekerja di rumah atau di ladang.
"Dokter mengatakan kepada kami untuk memberikan bayi susu Nomor Satu," katanya, mengacu pada merek yang dipasarkan oleh Nestle.
Itulah bencana bagi cucunya Akila: air di botol susu sering kotor, dan sebagai keluarga miskin, mereka hanya memberi sesendok bubuk susu.
Razul berkata, menantunya tidak memiliki cukup ASI karena keluarga itu miskin dan si ibu hanya bisa makan roti.
Tapi, seperti yang sering terjadi, mereka memutuskan untuk membeli susu bayi bukannya memberi makan si ibu lebih baik.
Warga membuang susu
"Orang-orang di sini berpikir hanya susu formula yang dapat memberikan energi bagi anak-anak mereka," jelas Imtiaz Hussain, pejabat kesehatan provinsi Balochistan.
"Itu diresepkan oleh dokter, sering juga dukun, yang menerima uang suap dari toko farmasi," klaimnya.
"Kurangnya pengetahuan, ditambah iklan tidak etis dan agresif mengganti ASI," tambah Kearney, meskipun konvensi internasional dan hukum Pakistan melarang pemasaran pengganti ASI.
Pihak Nestle, untuk sebagian, mengatakan, mematuhi hukum "secara ketat" dan perwakilannya hanya dapat menghubungi profesional kesehatan, bukan orang tua, untuk memberitahu mereka tentang fakta gizi dalam produk mereka.
Tapi, keburukannya, kaum ibu disarankan menahan diri dari menyusui pada saat bayi paling membutuhkannya: hingga beberapa jam setelah lahir atau selama periode kesakitan.
"Beberapa ibu tidak setuju menyusui (karena) takut menularkan penyakit" atau menghambat pemulihan, sesal Mohammad Siddique, kepala perawat di departemen gizi MSF Balochistan.
"Susu formula sering diresepkan untuk 24 jam pertama kehidupan bayi, karena si ibu tidak memberi kolostrum miliknya," tambahnya, mengacu pada ASI pertama ibu yang mengandung antibodi penting untuk melindungi bayi yang baru lahir terhadap penyakit.
Banyak wanita mendapati diri mereka bingung sewaktu mengalami sekresi yang menandai awal laktasi.
"Kami membuang ASI itu, membuangnya keluar, karena warnanya kuning dan berair" kata Samina saat ia mendekap lembut putrinya yang berusia 10 hari, Kosar, yang menderita meningitis.
Pemerintah, yang mengklaim sudah "menyadari masalah ini", menetapkan tujuan mengurangi tingkat hambatan sampai 40 persen pada 2018 -- tapi masalah ini tidak disebutkan dalam rencana 10 tahun tersebut. Kebanyakan intervensi didanai oleh donor internasional.
"Hal ini untuk kita lebih baik," kata Kearney, menyerukan ayah, nenek, dokter kandungan, dan produsen susu formula mendukung ibu menyusui.
"ASI adalah yang terbaik," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News