Bus yang membawa warga Jepang yang dievakuasi dari Wuhan, Tiongkok. Foto: AFP
Bus yang membawa warga Jepang yang dievakuasi dari Wuhan, Tiongkok. Foto: AFP

Jepang Intensifkan Langkah Penanganan Virus Korona

Internasional virus korona jepang
Fajar Nugraha • 31 Januari 2020 10:35
Tokyo: Jepang akan mempercepat aturan baru untuk membatasi penyebaran virus korona yang telah menewaskan 213 jiwa. Terlebih lagi setelah warga Jepang berhasil dievakuasi dari Wuhan, kota yang menjadi sumber virus.
 
Jepang telah memutuskan untuk memberi label virus baru itu ‘penyakit menular yang harus diawasi ketat’. Status itu memungkinkan rawat inap secara paksa terhadap mereka yang terinfeksi dan memberi otoritas imigrasi wewenang untuk mencegah orang dengan virus masuk ke negara itu.
 
“Langkah-langkah itu mulai berlaku dari 7 Februari, tetapi sekarang akan dipercepat hingga 1 Februari,” ujar PM Jepang Shinzo Abe mengatakan kepada parlemen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan langkah ini, kami akan menolak orang yang terinfeksi masuk ke Jepang," kata Abe, seperti dikutip AFP, Jumat, 31 Januari 2020.
 
"Kami akan segera mempelajari cara-cara untuk memperkuat kontrol imigrasi untuk kasus-kasus di mana infeksi diduga tetapi tidak dikonfirmasi," tambahnya.
 
Pengumuman ini datang dengan kekhawatiran yang berkembang di Jepang tentang penyebaran virus di negara itu, di mana 14 kasus telah diidentifikasi sejauh ini.
 
Di antara kasus-kasus itu adalah dua orang yang tertular virus itu tanpa bepergian ke Tiongkok. Virus itu menjangkiti seorang pemandu wisata dan sopir bus yang melakukan kontak dengan wisatawan dari Wuhan, pusat wabah.
 
Ke 14 orang itu juga termasuk tiga orang yang kembali dalam penerbangan evakuasi dari Wuhan pada hari Rabu, dua di antaranya tidak menunjukkan gejala ketika mereka dinyatakan positif.

Penerbangan evakuasi ketiga tiba


Kasus-kasus penularan dari orang ke orang, serta infeksi tanpa gejala, telah memicu kecaman yang meningkat atas penanganan krisis oleh pemerintah. Khususnya tindakan karantina minimal untuk pengungsi dari Wuhan.
 
Tidak seperti negara lain, yang memilih untuk mengisolasi warga yang kembali selama antara 72 jam dan dua minggu, Jepang telah meminta pengungsi untuk "karantina sendiri".
 
Para pejabat Jepang mengatakan tidak ada dasar hukum bagi mereka untuk secara paksa mengisolasi orang-orang yang belum dites positif terkena virus - dan itu tidak akan berubah dengan penerapan aturan baru mulai Sabtu.
 
Ada juga kemarahan setelah muncul bahwa dua orang dalam penerbangan evakuasi pertama dari Wuhan awalnya menolak untuk dites virus, dan diizinkan pulang setelah dinasehati untuk menghindari transportasi umum dan memantau kesehatan mereka.
 
Pemerintah mengatakan tidak dapat memaksa orang untuk melakukan tes, dan pada Kamis malam para pejabat kementerian kesehatan mengatakan kedua orang itu sekarang berubah pikiran dan akan mengikuti tes.
 
Dari 206 orang yang tiba dengan penerbangan pertama pada hari Rabu, 12 telah dirawat di rumah sakit, dengan semua kecuali dua penumpang lainnya tinggal di sebuah hotel yang ditunjuk pemerintah di Chiba di luar Tokyo.
 
Penerbangan evakuasi kedua yang membawa 210 orang tiba pada Kamis, dengan 26 penumpang dirawat di rumah sakit setelah pemeriksaan di kapal dan di fasilitas kesehatan setelah mendarat. Para penumpang yang tersisa tinggal diakomodasi yang ditunjuk pemerintah, dan semua penumpang pada penerbangan kedua diuji untuk virus baru.
 
“Pesawat ketiga yang membawa 149 orang tiba pada Jumat sekitar pukul 10.30 pagi,” pungkas kementerian luar negeri Jepang.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif