Topan Hagibis menghantam Jepang pada Sabtu 12 Oktober malam dengan membawa hujan deras dan angin kencang. Imbas buruk dari topan berkekuatan dahsyat ini dirasakan di 36 dari total 47 prefektur Jepang.
Tingginya intensitas hujan memicu terjadinya banjir dan tanah longsor di puluhan prefektur tersebut. Data NHK mencatat ada 58 korban tewas sejauh ini, sementara versi pemerintah sedikit lebih rendah.
"Bahkan hingga saat ini, masih banyak korban yang belum ditemukan di area terdampak bencana," kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam sebuah pertemuan penanggulangan bencana pada Senin 14 Oktober.
"Tim penyelamat berusaha semaksimal mungkin untuk mencari dan menyelamatkan mereka semua. Petugas bekerja siang dan malam," lanjut dia, dikutip dari AFP.
Usai membentuk tim penanggulangan bencana Topan Hagibis, PM Abe juga memerintahkan agar 1.000 personel militer cadangan dikerahkan untuk membantu 31 ribu prajurit yang sedang bertugas di lapangan.
Namun upaya pencarian dan penyelamatan masif ini terkendala hujan deras yang mengguyur wilayah pusat dan timur Jepang sepanjang malam tadi.
"Saya meminta masyarakat untuk mewaspadai ancaman tanah longsor dan luapan air sungai," tutur juru bicara Pemerintah Jepang, Yoshihide Suga dalam sebuah konferensi pers.
Di Nagano, salah satu daerah terparah terkena imbas Hagibis, petugas penyelamat mengaku harus bekerja secara hati-hati. "Kami khawatir terhadap dampak dari hujan yang baru turun ini," ujar seorang petugas bernama Hiroki Yamaguchi kepada AFP.
"Kami mewaspadai terjadinya bencana kedua di tengah hujan deras ini," lanjutnya.
Total 176 sungai di Jepang meluap akibat terjangan Topan Hagibis. Sebagian besar dari sungai tersebut terletak di wilayah timur dan utara Jepang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News