Petugas memeriksa temperatur tubuh penumpang di bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jabar, 27 Januari 2020. (Foto: AFP/Timur Matahari)
Petugas memeriksa temperatur tubuh penumpang di bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jabar, 27 Januari 2020. (Foto: AFP/Timur Matahari)

Jawab Keraguan WHO, Kemenkes Yakin Mampu Hadapi Korona

Internasional Virus Korona
Marcheilla Ariesta • 10 Februari 2020 21:09
Jakarta:Kementerian Kesehatan RI menjawab studi Harvard University dan juga keraguan Organnisasi Kesehatan Dunia (WHO) seputar penanganan virus korona tipe Novel Coronavirus (2019-nCoV). Harvard dan WHO meragukan Indonesia mampu mendeteksi korona nCoV, karena hingga saat ini tidak ada satu pun kasus positif di Tanah Air.
 
Kepala Badan Litbang Kesehatan dari Kemenkes, Siswanto, merespons studi dan keraguan tersebut.
 
"Pada dasarnya penelitian Harvard adalah model matematika untuk memprediksi dinamika penyebaran nCOV dengan variabel. Independen variabelnya dari pelancong internasional. Seberapa besar orang lalu lalang, ada garisnya. Kalau diurut garis, di Indonesia ada enam kasus," tutur Siswanto dalam jumpa pers di Kantor Sekretariat Presiden, Jakarta, Senin 10 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menegaskan bahwa Kemenkes sudah bekerja keras sejak kasus korona mulai muncul ke permukaan. Pekerjaan yang dilakukan Kemenkes ini terbagi dalam empat tahap.
 
"Pertama, mengambil pasien dalam pengawasan. Kedua, mengambil spesimennya, kalau kurang tepat, bisa negatif. Ketiga, spesimen handling, dan keempat adalah ketepatan kemampuan lab kami," imbuhnya.
 
Siswanto menjelaskan, Indonesia sudah berpengalaman dalam hal wabah karena sukses menangani MERS dan juga penyakit pernapasan lainnya. Pernyataannya ini menjawab keraguan WHO yang meminta Indonesia untuk meningkatkan persiapannya dalam menghadapi virus korona.
 
"Pemeriksaan terhadap virus (korona nCoV) ini menggunakan pendekatan biomolecular, yaitu mengidentifikasi dari gennya. Sehingga pemeriksaan ini melalui PCR, jadi artinya dengan penggandaan dari DNA atau RNA, apakah betul RNA-nya dari korona," imbuhnya.
 
Lab Kemenkes, kata Siswanto, disebut dengan Lab Rujukan Nasional Penyakit Infeksi yang pada dasarnya mampu melakukan pemeriksaan virus korona. Menurutnya, dalam pemeriksaan ini, Indonesia menggunakan standar WHO dengan menggunakan timer yang memang dikhususkan bagi virus korona.
 
"Ada 62 terduga kasus yang tersebar di 16 provinsi. Yang sudah diperiksa 59, dan semuanya negatif, ada tiga kasus masih dalam pemeriksaan. Saya tahu selama ini ada berita-berita yang meragukan. Kita mampu (mengatasi virus korona)," tegasnya, merujuk pada keraguan WHO.
 
WHO menginginkan Indonesia meningkatkan pengawasan, deteksi kasus dan persiapan jika suatu saat muncul kasus terkonfirmasi virus korona nCoV. Hingga saat ini, belum ada satu orang pun yang positif terjangkit virus korona nCoV di Indonesia.
 
Perwakilan WHO di Indonesia, Dr Navaratnasamy Paranietharan, mengakui bahwa Indonesia sudah mengambil langkah konkret untuk penanganan kasus korona, termasuk pemeriksaan ketat di perbatasan internasional. Selain itu, Indonesia juga sudah menyiapkan rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani kasus-kasus potensial korona.
 
Pekan lalu, Sydney Morning Herald dan The Age mengungkapkan Indonesia belum menerima alat tes khusus yang diperlukan untuk mendeteksi virus korona tipe terbaru ini. Kedua media itu menilai otoritas medis Indonesia hanya mengandalkan tes pan-coronavirus yang bisa dipakai untuk mengidentifikasi semua virus dalam 'keluarga' korona, seperti SARS dan MERS.

 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif