Jelang Repatriasi, Tentara Bangladesh Datangi Pengungsi Rohingya
Etnis Rohingya masih bertahan di lokasi penampungan di Bangladesh. (Foto: AFP).
Cox's Bazar: Rencana untuk mengirim pengungsi Rohingya kembali ke Myanmar pada Kamis telah menerbitkan momentum. Sejumlah laporan menyebut, pasukan bersenjata Bangladesh berkumpul di kamp-kamp Cox's Bazar. Muncul tudingan bahwa para pengungsi telah diserang oleh pihak berwenang karena menolak bekerja sama.

Tentara, polisi, dan pasukan paramiliter telah bergerak ke beberapa kamp. Di sana lebih dari 700.000 orang Rohingya tinggal setelah melarikan diri dari kampanye kekerasan, yang digambarkan sebagai genosida oleh misi pencari fakta PBB, yang dilakukan militer Myanmar pada Agustus 2017.

Qadar, pengungsi Rohingya, 29 tahun, di kamp Jamtoli, mengaku banyak keluarga, bahkan mereka yang tidak termasuk dalam daftar untuk dipulangkan ke Myanmar, telah bersembunyi.


"Tentara berada di setiap sudut kamp Jamtoli dan Hakimpara, siaga dan memeriksa orang-orang dan tidak membiarkan mereka berkeliarn di antara kamp-kamp," kata Qadar, seperti dilansir dari Guardian, Kamis 15 November 2018. 

"Orang-orang terlalu takut untuk meninggalkan rumah. Beberapa orang meninggalkan blok kami pada tengah malam lewat jalan rahasia untuk pergi ke kamp-kamp lain, terutama Kutupalong, di mana tidak banyak ketakutan tentang pemulangan," sambungnya.

Jani, 30, Rohingya yang tinggal di kamp 14, mengatakan aparat keamanan meningkat dua kali lipat dalam dua hari terakhir di beberapa pemukiman. Timbul kepanikan di kalangan orang Rohingya. "Ketika matahari terbenam, tim keamanan datang ke setiap titik masuk di kamp dan mereka berjaga sampai pagi," katanya. "Orang-orang melarikan diri dan menghabiskan hari dan malam di hutan atau kamp lainnya," serunya.

Rohingya di kamp Jamtoli, di mana 100 keluarga masuk di daftar untuk kembali, melaporkan bahwa kehadiran tentara begitu banyak sehingga tidak ada yang diizinkan masuk atau meninggalkan kamp. Namun, pada saat keamanan datang pada Selasa, setiap keluarga yang terdaftar untuk repatriasi sudah bersembunyi.

Laporan dari pejabat kamp Bangladesh, yang dikenal sebagai CIC, menyudutkan Rohingya yang menolak untuk bekerja sama. Dalam sebuah video, yang diverifikasi Guardian, Ata Ullah, pemimpin Rohingya di Chakmarkul Camp 21 menuduh bahwa dia dipukuli di kantor petugas CIC 'dengan tongkat besar' pada Senin setelah dia tidak dapat memberikan daftar Rohingya di kampnya kepada mereka. "Mereka menginjak leher saya, saya tidak tahan lagi," kata Ullah dalam rekaman itu. "Kamu bisa wajah saya akibat dipukuli," tuturnya.

Pengungsi Rohingya mengatakan kepada Guardian tentang berbagai cara yang dicoba otoritas Bangladesh "membujuk" para pengungsi untuk kembali. Termasuk memberi tahu mereka bahwa itu satu-satunya cara bagi mereka agar pemerintah Myanmar memberi mereka hak dan kewarganegaraan.

Mereka juga membuat ancaman langsung. Saifullah, yang tinggal di kamp Balukhali, mengatakan bahwa CIC sudah memperingatkan tentang "tindakan tegas" jika Rohingya yang berada di daftar repatriasi tidak mau kembali ke Myanmar.

Puluhan keluarga Rohingya yang diwawancarai Guardian, yang masuk daftar 2.200 pengungsi ‘disetujui’ untuk dikembalikan oleh Myanmar tanpa kerelaan mereka, mengatakan tidak ingin kembali dalam kondisi saat ini. Banyak yang melarikan diri dari kamp dan pergi bersembunyi, sementara bagi yang lain prospek untuk pulang begitu mengkhawatirkan sehingga telah mencoba bunuh diri.

Kemarin, UNHCR mulai mewawancarai keluarga yang ada di daftar untuk dipulangkan, tetapi juru bicara Caroline Gluck mengatakan bahwa banyak yang tidak dapat ditemukan. "Dari mereka yang kami wawancarai, tidak ada yang ingin kembali," konfirmasi Gluck.

PBB sudah berulang kali menyerukan penghentian rencana repatriasi. UNHCR mengatakan tidak akan memfasilitasi atau memberikan bantuan untuk pemulangan, selain mewawancarai Rohingya dalam daftar dan menilai kesediaan mereka untuk kembali. 

Belum ada pernyataan tentang masalah ini dari konselor negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang telah berada di KTT ASEAN di Singapura pekan ini. 

Kecaman paling vokal dari krisis Rohingya keluar dari Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, yang berkata: "Tampaknya Aung San Suu Kyi sedang berupaya membela apa yang tidak dapat dipertahankan."



(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id