Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Mahendra Siregar. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta
Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Mahendra Siregar. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta

WNI Diculik, Pemerintah Perbaiki Tatanan Sistem Prosedur Penempatan

Internasional penculikan wni disandera abu sayyaf
Marcheilla Ariesta • 21 Januari 2020 18:52
Jakarta: Penculikan anak buah kapal warga negara Indonesia (ABK WNI) kembali terjadi. Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Mahendra Siregar mengatakan, pihaknya tengah mempelajari beberapa modus yang dilakukan sehingga penculikan kerap terjadi.
 
"Pertama, imbauan untuk tidak melakukan hal (menangkap ikan) tadi. Kedua, kita pelajari ada beberapa modus yang justru dilakukan untuk mengelabui proses yang sebenarnya sudah kita jalankan," kata Mahendra di Jakarta, Selasa 21 Januari 2020.
 
Mahendra menjelaskan pihaknya tengah memperbaiki tatanan sistem baik di tempat tujuan di Sabah, maupun dari wilayah asal para ABK WNI itu. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mengharapkan dari pihak Malaysia agar meningkatkan pengamanan dan penegakan hukum di wilayah yang sering terjadi penculikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengelaborasi pernyataan Mahendra, pelaksana tugas Juru Bicara Kemenlu RI, Teuku Faizasyah mengatakan, perbaikan tatanan sistem yang dilakukan misalnya adalah melalui prosedur penempatan.
 
"Misalnya untuk bekerja sebagai buruh migran di Malaysia, atau sebagai anak buah kapal, ada kasus-kasus mereka berangkat tanpa melalui prosedur penempatan, termasuk proses perolehan dokumentasi tidak sesuai aturan. Mereka menjadi rentan saat di Malaysia, misalnya dipekerjakan salam kondisi tidak ideal," terangnya.
 
Kondisi ideal yang dimaksud adalah adanya risiko diculik jika melaut di perairan tertentu, namun tetap mencari ikan di wilayah itu. Kebetulan, imbuh Faiza, daerah yang banyak ikan di perairan Sabah berdekatan jaraknya dengan lokasi kelompok bersenjata.
 
Sementara itu, di dalam negeri juga harus ada upaya untuk mencegah penculikan. Dia menjelaskan salah satunya adalah dengan menjaring pekerja migran yang memang cakap menjadi nelayan.
 
"(Nelayan) paham hukum dan tidak mudah terpancing untuk melaut di wilayah yang banyak ikan sekalipun dekat wilayah berbahaya," ungkapnya.
 
Menurutnya, sudah ada larangan untuk melaut di wilayah berbahaya, namun ada yang tidak mematuhi larangan. Selain itu, harus ada peningkatan patroli lagi dari pihak Malaysia. "Ini agak tricky, karena formalnya ada larangan dari Pemerintah Malaysia harus lebih ditingkatkan," imbuhnya.
 
Pada 16 Januari 2020, sebanyak lima ABK WNI diculik di perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia. Mereka diculik oleh kelompok Abu Sayyaf.
 
Awalnya, dilaporkan delapan ABK WNI hilang beserta kapalnya. Namun, tiga orang dibebaskan bersama dengan kapal mereka. Sedangkan lima lainnya tetap disandera.
 
Insiden penculikan lima WNI ini hanya berselang sehari setelah pembebasan seorang ABK WNI dari penculikan yang dilakukan pada 23 September lalu. Muhammad Farhan, diselamatkan militer Filipina di Baranggay Bato Bato, Indanan Sulu, pukul 18.45 waktu setempat pada 15 Januari lalu.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif