Pangeran Hisahito (depan) saat berkunjung ke Bhutan bersama keluarga. Foto: AFP
Pangeran Hisahito (depan) saat berkunjung ke Bhutan bersama keluarga. Foto: AFP

Bocah 13 Tahun Pegang Beban Kekaisaran Jepang

Internasional kaisar jepang
Fajar Nugraha • 21 Oktober 2019 19:14
Tokyo: Kekaisaran Jepang saat ini terjebak krisis penerus. Kaisar saat ini, Naruhito, tidak memiliki anak laki-laki.
 
Tetapi Naruhito memiliki keponakan, Hisahito. Bocah remaja berusia 13 tahun itu adalah putra dari adik Naruhito, Pangeran Akishino. Ketika Pangeran Hisahito, mengunjungi Bhutan pada Agustus dalam perjalanan pertamanya ke luar negeri, hal itu dianggap sebagai debut seorang Kaisar di masa depan.
 
Kunjungan ini dilakukan hanya beberapa bulan setelah pamannya Naruhito menjadi kaisar. Menyapa tuan rumahnya dalam kimono pria tradisional dan mencoba memanah, kunjungan itu tidak banyak diketahui publik. Pada di pundaknya tersimpan beban masa depan monarki Krisan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kaisar Naruhito, 59, yang naik takhta pada 1 Mei setelah pengunduran diri ayahnya, Akihito, akan menjalani upacara penobatannya 22 Oktober. Munculnya Hisahito menjadi sebuah harapan bagi Jepang yang hanya mengizinkan laki-laki untuk naik takhta di kekaisaran Krisan kuno. Perubahan pada hukum suksesi merupakan kutukan bagi partai konservatif yang mendukung Perdana Menteri Shinzo Abe.
 
Hisahito, yang kini berusia 13 tahun, berada di urutan kedua setelah ayahnya, Akishino yang kini menjadi Putra Mahkota.
 
“Di bawah aturan suksesi saat ini, Pangeran Hisahito pada akhirnya akan menanggung seluruh beban untuk melanggengkan keluarga kekaisaran,” sebut surat kabar Asahi.
 
Hisahito bukannya tanpa tekanan. Tetapi kelahiran Hisahito pada 2006 dipandang sebagai mukjizat oleh kelompok konservatif yang ingin mempertahankan suksesi khusus pria. Hal ini patut dipahami karena Kaisar Naruhito tidak dikarunia anak laki-laki. Permaisuri Masako melahirkan seorang gadis, Putri Aiko, yang mendorong gerakan untuk merevisi undang-undang suksesi dan membiarkan perempuan mewarisi dan meneruskan takhta.
 
“Namun dengan kelahiran Hisahito menunda gerakan itu. Kelompok Konservatif merasa bahwa kehendak surga telah terungkap,” kata Hidehiko Kasahara, seorang cendekiawan ilmu politik di Universitas Keio, seperti dikutip dari The Star.
 
Melihat kondisi suksesi kekaisaran saat ini, beberapa ahli dan media bertanya-tanya apakah Hisahito dipersiapkan dengan baik untuk masa depan. “Sangat penting untuk membuatnya sadar bahwa ia berada dalam posisi untuk mewarisi takhta ketika berinteraksi dengan orang-orang, dan untuk mengingatkanya, sejak usia dini,” imbuh Kasahara.
 
Setelah Jepang kalah Perang Dunia kedua, konsitusi tidak memberikan Kaisar memegang otoritas politik. Sebaliknya, Kaisar hanya ditunjuk sebagai simbol negara dan persatuan rakyat.


Keunikan Hisahito


Hampir seluruh keluarga kekaisaran sekolah di SMP Swasta Gakushin. Justrus Hisahito yang kini sekolah menengah pertama yang berafiliasi dengan Universitas Ochanomizu.
 
Tidak seperti kakeknya, Akihito, yang mengukir peran aktif sebagai simbol perdamaian, demokrasi dan rekonsiliasi dengan para korban agresi Jepang di masa perang, Hisahito tidak memiliki mentor khusus untuk membantunya mempersiapkan diri sebagai kaisar masa depan.
 
“Akihito dibimbing oleh Shinzo Koizumi, mantan presiden Universitas Keio dan kemudian menjadi panutan bagi putranya, Naruhito,” ucap para sarjana.
 
Ahli monarki Eropa di Universitas Kanto Gakuin Naotaka Kimizuka mengatakan, Sangat penting untuk memiliki seseorang yang dapat menentukan apa yang cocok untuk seorang kaisar abad ke-21.
 
Tapi tidak jelas sejauh mana Putra Mahkota Akishino atau Badan Rumah Tangga Kekaisaran secara serius mempertimbangkan hal itu. Pertanyaan apakah Hisahito memikul tanggung jawab penuh untuk melanjutkan garis kekaisaran masih belum jelas.
 
Ketika parlemen mengeluarkan undang-undang khusus yang memungkinkan Akihito turun takhta pada 2017, parlemen mengadopsi resolusi tidak mengikat yang meminta pemerintah untuk mempertimbangkan bagaimana memastikan suksesi yang stabil.
 
Di antara pilihan yang menjadi pertimbangan adalah menerima perempuan,-termasuk Aiko dan dua kakak perempuan Hisahito,- untuk mempertahankan status keluarga kekaisaran mereka
setelah menikah dan mewarisi atau menyerahkan tahta kepada anak-anak mereka. Dalam survei, ini yang diinginkan oleh rakyat Jepang.
 
Patut diperhatikan saat ini adalah, kelompok Konservatif menginginkan kerajaan-kerajaan kecil yang haknya sudah dicabut setelah perang.
 
Sementara PM Abe tidak menginginkan adanya diskusi berbelit. “Mereka (pemerintah) ingin meredam debat sebanyak mungkin,” pungkas Kasahara.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif