medcom.id, Manila: Serangan yang terjadi di sebuah kasino di Filipina pada Jumat 2 Juni, disebut oleh seorang mantan agen FBI sebagai murni tindakan perampokan.
Steve Cutler yang merupakan ketua dari Dewan Penasihat Keselamatan Luar Negeri mengatakan, tidak ada indikasi terori dalam serangan yang menewaskan 38 orang dan melukai 67 lainnya tersebut.
"Kita melihat adanya seseorang yang melepaskan tembakan ke arah properti dan bisa dengan mudah menewaskan banyak jiwa dengan senjata api. Anda bisa melihat dengan kejadian di Mumbai, India beberapa tahun lalu," ujar Cutler, seperti dikutip ABS-CBN, Sabtu 3 Juni 2017.
"Insiden di Mumbai adalah ulah teroris, ketika pelaku merebut hotel sementara pelaku di kasino tidak melakukan hal tersebut. Saya sepakat dengan kesimpulan polisi," imbuh Cutler.
Cutler menambahkan bahwa pelaku melakukan aksi bunuh diri di kamar hotel dan mencegah api menyebar, sebagai indikasi bahwa dia bukan teroris.
"Teroris tentu berupaya membunuh banyak orang. Dia tidak akan masuk ke kamar hotel secara diam-diam dan bunuh diri," pungkas Cutler.
Menurut Cutler, pelaku penembakan kemungkinan besar dalam kondisi putus asa dan mungkin saya dijerat hutang. Itu sebabnya dia mencoba merampok kasino.
Satu hal yang menjadi perhatian mantan agen FBI tersebut. Menurutnya kinerja petugas pemadam kebakaran dan prosedur menyelamatkan diri harus direvisi.
"Ketika saya menanyakan hal ini, saya tidak bersikap kritis. Tetapi di mana pintu darurat di saat situasi seperti ini muncul? Bukankah lebih baik pergi keluar dibandingkan ke kamar kecil, di mana banyak jasad ditemukan karena asap akibat kebakaran," tegasnya.
Tetapi Cutler mengakui bahwa pihak keamanan kasino bertindak baik mengatasi serangan ini bersama kepolisian nasional Filipina. Tetapi tetap saja latihan dan harus dilakukan oleh petugas keamanan untuk menghadapi situasi darurat semacam ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News