DiploFest Jadikan Mahasiswa Familiar dengan Diplomasi
Kuliah umum oleh Kemenlu RI di Surabaya, Jatim, 23 November 2018. (Foto: Twitter/Kemenlu RI)
Surabaya: Kegiatan kuliah umum atau public lecture di lima universitas mengawali rangkaian Diplomacy Festival (DiploFest) di Surabaya, Jawa Timur, Jumat 23 November 2018. Berbagai isu seputar diplomasi dan politik luar negeri didiskusikan oleh pejabat eselon I Kementerian Luar Negeri dan para mahasiswa.

Dirjen Asia Pasifik dan Afrika, Desra Percaya, yang menjadi narasumber kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, menyampaikan bahwa Indonesia selalu mendukung Palestina, salah satunya di bidang ekonomi. 

"Salah satu dukungan di bidang ekonomi yg diberikan untuk Palestina adalah pemberlakuan tarif 0 persen untuk produk Palestina di Indonesia," kata Dirjen Desra.


Pada waktu yang sama, di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dirjen Protokol dan Konsuler, Andri Hadi, menyampaikan kuliah umum bertema diplomasi perlindungan, dan menekankan bahwa pencegahan adalah hal utama dalam Diplomasi Perlindungan WNI/BHI di luar negeri.

"Untuk itu, selama tahun 2014-2018, #IniDiplomasi telah mengembangkan inovasi untuk Diplomasi Perlindungan: SMS blast, hotline, single database policy, portal peduli WNI, Safe Travel, demi upaya perlindungan yang optimal," ucap dia, dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id.

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Siswo Pramono, menyampaikan topik terkait kebangkitan perekonomian di Asia di Universitas Kristen Petra.

Disampaikan bahwa kunci kesinambungan majunya ekonomi Asia, adalah inovasi, bukan lagi soal sumber daya alam. Bagi Indonesia sendiri, perlunya melirik pasar global untuk berkontribusi bagi kebangkitan Asia juga ditekankan pada kuliah umum. "Pasar dunia adalah milik kita juga," tegas Kepala BPPK.

Di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jawa Timur, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Jose Tavares menyampaikan tema kuliah umum Kerja Sama ASEAN dalam Mitigasi Bencana. 

"Mitigasi bencana hanyalah sebagian kecil bentuk kerja sama penanggulangan bencana di ASEAN," jelas Dirjen Jose. Dijelaskan bahwa melalui AHA Centre, ASEAN-ERAT (Emergency Response and Assistance Team) dan sejumlah kesepakatan tentang bencana, koordinasi bantuan dan respon efektif telah terlaksana dengan prinsip One ASEAN One Response.

Menutup rangkaian Kuliah Umum, Direktur Jenderal Multilateral, Febryan A. Rudyard menyampaikan tema diplomasi Indonesia di forum internasional di Universitas Surabaya (UBAYA).

Humanitarian security kini merupakan fokus yang dikedepankan diplomasi multilateral Indonesia agar dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Lebih lanjut, Dirjen Febrian juga mengajak para mahasiswa bergabung dengan Kemlu. "'Darah' Kemlu berasal dari kampus. Jadi pengenalan sisi-sisi diplomasi oleh Kemlu ke kampus-kampus ini diharapkan dapat membuat para mahasiswa semakin paham dan tertarik berpartisipasi dalam dunia diplomasi," ujarnya mengakhiri kuliah umum.

Puncak kegiatan DiploFest pada Minggu 24 November akan diawali kuliah umum dari Menteri Luar Negeri di Universitas Airlangga. Siangnya, festival akan berlangsung di JX ICE (Jatim Expo), menampilkan booth bertema diplomasi, talkshow, dan bintang tamu musisi dalam negeri.



(WIL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id