Polisi Myanmar berpatroli di Rakhine, 28 Agustus 2017. (Foto: AFP)
Polisi Myanmar berpatroli di Rakhine, 28 Agustus 2017. (Foto: AFP)

Tentara Myanmar Bunuh 13 Pemberontak di Rakhine

Internasional konflik myanmar rohingya pengungsi rohingya
Arpan Rahman • 19 Januari 2019 20:00
Naypyidaw: Militer Myanmar mengaku telah membunuh 13 pemberontak di Rakhine dalam sebuah serangan balasan, usai sebuah grup bersenjata bernama Arakan Army (AA) menyerang beberapa pos polisi belum lama ini.
 
Kekerasan terbaru meletus di Rakhine dalam beberapa pekan terakhir antara militer Myanmar melawan AA. Pertempuran terjadi di banyak tempat yang sama dengan lokasi eksodus 720 ribu etnis Rohingya pada 2017.
 
AA adalah grup bersenjata yang dinilai Myanmar lebih kuat ketimbang Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA. Selama ini, ARSA mengklaim sebagai kelompok yang mewakili perjuangan Rohingya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat Myanmar merayakan hari kemerdekaan pada 4 Januari, AA melancarkan serangan yang menewaskan 13 polisi dan melukai sembilan lainnya. Militer Myanmar mengaku membalas serangan, dan telah menewaskan 13 pemberontak dalam operasi dalam periode 5 hingga 16 Januari.
 
"Kami membunuh 13 musuh dan menyita tiga senjata," ucap Mayor Jenderal Tun Tun Nyi dalam konferensi pers di Naypyidaw, seperti dinukil dari laman Guardian, Sabtu 19 Janauri 2019.
 
"Beberapa perwira dan prajurit dari kubu kami tewas," tambah dia, tanpa menyebutkan angka.
 
Selama ini militer Myanmar hampir tidak pernah mengumumkan statistik korban tewas dalam pertempuran melawan pemberontak. Militer Myanmar sempat menyuarakan gencatan senjata terhadap pemberontak di wilayah utara bulan lalu, tapi Rakhine mendapat pengecualian karena masih ada AA dan ARSA.
 
Pelapor Khusus untuk Hak Asasi Manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yanghee Lee, mengatakan bahwa semua grup minoritas di Rakhine telah "cukup menderita," dan ia mendesak AA serta pasukan Myanmar untuk lebih melindungi warga sipil ketimbang bertempur.
 
Sebagian besar Rohingya di Myanmar utara telah melarikan diri ke Bangladesh. Mereka menolak direpatriasi ke Myanmar jika tidak mendapat jaminan keamanan dan status kewarganegaraan.
 
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengkritik pemerintah Myanmar yang dinilai "terlalu lamban" dalam memproses kepulangan Rohingya.
 
Baca:Indonesia Terus Dorong Proses Repatriasi Warga Rohingya di Myanmar
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif