Kaisar Naruhito di atas singgasana Kekaisaran Jepang, bersama Permaisuri Masako. Foto: AFP
Kaisar Naruhito di atas singgasana Kekaisaran Jepang, bersama Permaisuri Masako. Foto: AFP

Emas, Sutra Hingga Lembar Contekan di Penobatan Kaisar Jepang

Internasional kaisar jepang
Arpan Rahman • 22 Oktober 2019 19:07
Tokyo: Busana yang jarang terlihat, takhta yang rumit, dan perlengkapan kuno menghiasi upacara sakral dan mewah, Selasa 22 Oktober. Menandai kenaikan resmi Kaisar Naruhito ke Takhta Krisan Jepang.
 
Kaisar baru naik takhta awal tahun ini setelah ayahnya Akihito turun tahta. Upacara penobatan memperkuat transisi dengan gaya yang menakjubkan.
 
Berikut adalah beberapa elemen yang akan dipamerkan, disitir dari The Straits Times, Selasa 22 Oktober 2019:

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Takhta Kekaisaran
 
Kaisar dan Permaisuri masing-masing menduduki takhta yang sangat besar, terdiri dari kursi yang relatif kokoh di dalam kanopi yang rumit di atas landasan berpagar.
 
Takhta Kaisar yang berkapasitas delapan ton disebut ‘Takamikura’, sedangkan ‘kursi agung’ sang Ratu lebih kecil dikenal sebagai ‘Michodai’.
 
Strukturnya terbuat dari kayu cemara yang dipernis dan dibongkar untuk diangkut dari Ibu Kota kuno Kyoto ke Tokyo guna upacara tersebut.
 
Kursi kaisar duduk di dalam kanopi yang menampilkan tirai ungu yang kaya tergantung dari atap yang dihiasi dengan perhiasan lengkungan emas dan lambang krisan 16-kelopak.
 
Di bawahnya panggung persegi panjang dengan pagar merah rendah dan panel samping dicat dengan hewan-hewan legendaris.
 
Pada titik-titik atap segi delapan duduk burung phoenix emas, dengan versi yang lebih besar dari burung di atas puncak atap.
 
Di kedua sisi kursi kaisar terdapat meja tempat pedang dan permata suci, bagian dari tanda kerajaan, dan segel akan ditempatkan.
 
Tetapi Kaisar tidak akan benar-benar duduk di atas takhta selama upacara, melainkan tetap berdiri.
 
Busana Kaisar Baru
 
Untuk upacara, Kaisar akan mengenakan busana sutra dengan gaya ‘sokutai’ atau upacara. Pakaian itu sekarang jarang terlihat dan didominasi oleh jubah luar berwarna coklat keemasan dengan lengan panjang dan lebar serta pinggang tipis.
 
Pakaian kerajaan sering kali mencakup motif burung, karena mereka dianggap sebagai utusan ilahi pada zaman kuno, dan pakaian luar Kaisar dihiasi dengan burung phoenix mitos Cina, yang diyakini melambangkan kedatangan perdamaian.
 
Selama upacara, Kaisar dan bangsawan laki-laki lainnya akan membawa ‘shaku’ atau tongkat kerajaan -- piring kayu polos yang sempit bukan seperti sepatu besar.
 
Di masa lalu, bangsawan kadang-kadang akan menempelkan ‘lembar contekan’ di bagian belakang shaku untuk membantu membimbing mereka melalui ritual kompleks.
 
Tapi kemuliaan puncak pakaian Kaisar adalah topi kanmuri, yang terdiri dari dasar hitam datar sederhana dan ekor hitam menjulang di bagian belakang yang memanjang 60cm tegak.
 
Busana Permaisuri
 
Permaisuri Masako akan mengenakan pakaian rumit yang dikenal sebagai ‘junihitoe’ atau jubah berlapis-lapis.
 
Dia mengenakan pakaian dengan bagian dari lengan merah yang kaya dan bagian bawah terlihat di bawah beberapa lapisan dengan panjang yang berbeda-beda. Lapisan atas akan berwarna ungu muda dan hijau dengan kerah ungu muda.
 
Rambutnya akan dirias menjadi gaya yang menyapu ke atas dan ke samping dengan ekor kuda panjang membentang dari belakang dan rambut emas besar dijepit di atas dahinya.
 
Pakaian tradisional, yang bisa menyulitkan untuk berjalan karena beratnya, jarang terlihat di luar ritual dan pernikahan kekaisaran.
 
Harta Sakral
 
Upacara tidak akan lengkap tanpa kehadiran ‘harta sakral’. Mitologi Jepang mengatakan bahwa dewi matahari Amaterasu mewariskan tanda kebesaran ke garis kekaisaran dua ribu tahun lalu.
 
Harta karun itu adalah ‘Yata no Kagami’, sebuah cermin; ‘Kusanagi no Tsurugi’, pedang; dan ‘Yasakani no Magatama’, permata yang tidak berbentuk.
 
Kepemilikan ‘tiga harta sakral’ dianggap sebagai bukti penting dari legitimasi Kaisar, tetapi tidak ada foto mereka dan bahkan Kaisar tidak dapat melihatnya.
 
Harta karun diserahkan kepada Kaisar baru dalam upacara penobatan awal yang diadakan pada 1 Mei.
 
Selama upacara penobatan, pedang replika dan permata asli akan dibawa terbungkus kain. Keduanya disimpan di istana, bersama dengan cermin replika yang tidak dibawa keluar untuk upacara.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif