Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI Cecep Herawan di acara Regional Conference on Digital Diplomacy, di Jakarta, Selasa 10 September 2019. (Foto: Medcom.id/Sonya Michaella)
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI Cecep Herawan di acara Regional Conference on Digital Diplomacy, di Jakarta, Selasa 10 September 2019. (Foto: Medcom.id/Sonya Michaella)

Kemenlu akan Buat Aplikasi Monitor Perwakilan RI

Internasional kemenlu diplomasi luar negeri
Sonya Michaella • 10 September 2019 13:07
Jakarta: Tiga capaian konkret dari Regional Conference on Digital Diplomacy akan diwujudkan Indonesia dan mitra-mitranya. Salah satu capaian tersebut adalah pembentukan aplikasi monitor berita dan informasi dari perwakilan Indonesia di seluruh dunia, bekerja sama dengan PulseLab.
 
"Kerja sama ini merupakan inisiasi Indonesia untuk program pembangunan kapasitas guna menciptakan diplomat digital savior," kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Jakarta, Selasa 10 September 2019.
 
Selain itu, Indonesia juga akan menginisiasi Jakarta Message on RCDD yang memuat komitmen untuk meningkatkan kerja sama diplomasi digital dan memanfaatkannya dalam membangun dunia inklusif, aman, makmur, dan inovatif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Indonesia akan menyepakati juga pembentukan regional network on digital diplomacy sebagai platform bersama negara di kawasan untuk berbagi pengalaman di bidang ini," tutur dia.
 
Menlu Retno optimistis bahwa berbagai kesepakatan tersebut akan menjadi awal dari kerja sama lain yang akan terjalin di masa mendatang.
 
Senada dengan Retno, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI Cecep Herawan mengatakan, aplikasi pengawasan ini akan memudahkan kinerja pusat dengan para perwakilan Indonesia di seluruh dunia untuk mencocokkan data.
 
"PulseLab itu salah satu institusi yang dikenalkan oleh UNDP. Ini teknologi yang mampu mendigitalisasi segala sesuatu sehingga menjadi data besar. Memang kita punya data di luar, tapi belum cocok dengan data internal," ujar Cecep.
 
Dia menuturkan, jika ada suatu krisis di sebuah negara, Kemenlu harus melihat data yang masih berbentuk data untuk mengecek apa yang sudah dilakukan perwakilan.
 
"Nanti jika sudah bentuk aplikasi, akan lebih mudah mengecek segala sesuatunya," ungkapnya.
 
Meski demikian, kerja sama ini masih dalam bentuk inisiasi dan baru akan disepakati. Tentunya, Kemenlu akan mengembangkan kerja sama ini dengan kementerian dan lembaga terkait ke depannya.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif