Kepulauan Spratly yang diklaim oleh beberapa negara Asia Tenggara dan Tiongkok. Foto: AFP.
Kepulauan Spratly yang diklaim oleh beberapa negara Asia Tenggara dan Tiongkok. Foto: AFP.

Laut China Selatan Tegang, Tiongkok Masuki Kepulauan Spratly

Internasional laut china selatan tiongkok vietnam
Arpan Rahman • 15 Agustus 2019 19:13
Beijing: Tiongkok merambah kembali perairan sengketa di Laut China Selatan yang membuat berang Vietnam. Hal ini membuka kembali ketegangan di antara kedua negara.
 
Sebuah kapal survei dari Beijing terlihat berlayar melintasi kawasan perairan yang disengketakan. Itu menyebabkan kemarahan lebih lanjut dari Vietnam dan merebaknya agresi.
 
Vietnam mengatakan kapal meninggalkan kawasan itu, pekan lalu. Tetapi telah kembali lagi kemarin dalam suatu langkah yang terjadi setelah kebuntuan selama sebulan antara Beijing dan Hanoi. Pusat Studi Pertahanan Lanjutan (C4ADS) berbasis di AS mengkonfirmasi kapal itu masih ada di sana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yang membuat keadaan menjadi lebih buruk, kapal itu dikawal sedikitnya dua kapal penjaga pantai Tiongkok, lebih menyerupai armada. Ini mendorong beberapa kapal Vietnam untuk membuntutinya dengan cermat.
 
Bulan lalu, kapal survei geologi Tiongkok Haiyang Dizhi 8 memasuki perairan di sekitar Kepulauan Spratly, yang telah diklaim oleh Vietnam. Kapal itu tetap di sana selama beberapa pekan bersama sejumlah kapal penjaga pantai.
 
Devin Thorne, analis senior C4ADS, mengatakan operasi Beijing di perairan yang disengketakan "mencerminkan penggunaan sumber daya sipil, komersial, ilmiah, dan paramiliter yang bertujuan mengejar minat dan visinya di Laut China Selatan".
 
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan cepat mengutuk tindakan itu. Pemerintahan Trump, yang sering menyerukan Tiongkok soal agresi, mengecam Beijing karena "perilaku intimidasi" di Laut China Selatan.
 
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebut tindakan orang-orang Tiongkok itu tidak lain dari "pemaksaan". Dia mendesak negara-negara Asia untuk bersatu dan menentang Tiongkok.
 
Sebuah kabar muncul ketika Filipina mengalami krisis setelah pemimpin mereka sendiri mengizinkan Tiongkok mengambil alih wilayah mereka.
 
Di bawah Presiden Rodrigo Duterte, Filipina telah beralih ke sikap yang lebih pro-Tiongkok. Duterte baru-baru ini mengumumkan bahwa tidak ada yang dapat dilakukan negara ini dalam menghadapi pasukan Tiongkok.
 
Wakil Presiden Filipina Leni Robredo berkomentar sebaliknya. Komentar tersebut muncul tatkala Duterte baru-baru ini mengklaim bahwa Filipina akan dihancurkan jika mereka mencoba menyingkirkan pasukan Tiongkok dari zona yang disengketakan.
 
"Ketika Presiden Tiongkok Xi mengatakan 'Saya akan memancing', siapa yang bisa mencegahnya? Kita harus mengatasinya dengan waktu dan realitas yang kita hadapi hari ini," klaim Duterte, dirilis dari Express, Kamis 15 Agustus 2019.
 
Menambah skenario tegang di kawasan itu, Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana baru-baru ini menuduh Beijing menentang niat untuk mempertahankan perdamaian.
 
Tuduhan Lorenzana muncul setelah Tiongkok menguasai Scarborough Shoal yang berjarak 200 km dari wilayah Filipina, menurut South Tiongkok Morning Post (SCMP).
 
Setelah berselisih dengan kapal-kapal Filipina, Beijing mengabaikan keputusan tahun 2016 oleh Pengadilan Arbitrase Permanen yang bermarkas di Den Haag yang membuktikan tindakannya melanggar hak kedaulatan Manila.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif