Duta Besar Tiongkok untuk ASEAN Huang Xilian. (Foto: Sonya Michaella/Medcom.id).
Duta Besar Tiongkok untuk ASEAN Huang Xilian. (Foto: Sonya Michaella/Medcom.id).

Wawancara Dubes Tiongkok untuk ASEAN

Arti ASEAN Bagi Tiongkok

Internasional asean-tiongkok
Sonya Michaella • 08 Februari 2019 08:03
Jakarta: Tiongkok menjadi salah satu mitra penting ASEAN. Resmi menjadi mitra pada tahun 1996, Tiongkok telah memiliki sejumlah kerja sama dengan ASEAN di beberapa bidang misalnya perdagangan dan investasi.
 
Tiongkok memiliki sejumlah harapan untuk ASEAN terkait dengan hubungan kerja sama yang telah dibangun serta peran ASEAN di kawasan.
 
Berikut adalah wawancara Medcom.id dengan Duta Besar Tiongkok untuk ASEAN Huang Xilian di kediamannya pada 1 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bagaimana Anda melihat hubungan antara Tiongkok dan ASEAN?
 
ASEAN telah menjadi prioritas dari diplomasi Tiongkok serta menjadi area kunci dari konsep One Belt One Road. Sejak terbentuknya dialog pada 1991 dan juga kerja sama strategis di 2003, hubungan kerja sama Tiongkok dan ASEAN mencapai sejumlah keuntungan di beberapa bidang serta menjadi hubungan paling sukses di kawasan Asia Pasifik.
 
Di 2018, kami merayakan 15 tahun dari hubungan kerja sama strategis kami. Tiongkok dan ASEAN sangat menunjukkan progres yang baik dalam bekerja sama dan hubungan ini terus membaik dari waktu ke waktu.
 
Dalam perayaan 15 tahun hubungan itu, Presiden Tiongkok Xi Jinping menawarkan hubungan kedua belah pihak ke level yang lebih tinggi lagi dalam area hubungan kerja sama strategis dan terus membangun komunitas Tiongkok-ASEAN dengan terus membentuk sejumlah perencanaan di masa depan dan memusatkan perhatian pada isu-isu yang untuk meningkatkan hubungan bilateral. Gagasan-gagasan baru ini tentu membawa Tiongkok dan ASEAN terus bersahabat.
 
Masih dalam tahun 2018, Presiden Xi yang mengunjungi Brunei Darussalam dan Filipina, juga bertemu dengan pemimpin negara ASEAN lainnya seperti Indonesia, Singapura, dan Malaysia untuk membahas kerja sama ke depannya dalam kerangka ASEAN.
 
Selain itu, Perdana Menteri Li Keqiang juga mengunjungi ASEAN Secretariat yang berada di Jakarta, yang dibalas dengan kunjungan Sekretaris Jenderal ASEAN yang baru ke Beijing.
 
Tiongkok dan ASEAN terus bekerja sama untuk membahas isu-isu yang krusial. Kami terus memantau dan berupaya untuk mengimplementasikan Declaration of Conduct (DOC) dari Laut China Selatan. Akhirnya, kami dapat meluncurkan Code of Conduct (COC) sebagai lanjutan dari DOC.
 
Kami bekerja keras dan setuju untuk menyelesaikan COC sebagai panduan dari wilayah sengketa Laut China Selatan. Dari sini, Tiongkok sudah siap untuk bekerja dengan seluruh negara anggota ASEAN untuk menyelesaikan COC.
 
Bagaimana dalam hal kerja sama ekonomi?
 
Di bidang perdagangan dan investasi, Tiongkok dan ASEAN tidak hanya menjadi sahabat yang baik tetapi juga menjadi mitra dagang dan mitra investasi yang penting. Dibandingkan dengan 2017, di tahun 2018 perdagangan antara Tiongkok dan ASEAN naik sebesar 14,1 persen menjadi USD587,87 miliar.
 
Tiongkok menjadi salah satu dari 10 negara mitra yang cukup penting bagi ASEAN. Sebaliknya, ASEAN merupakan mitra dagang ketiga terbesar setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam delapan tahun terakhir.
 
Sementara itu, secara efektif, Tiongkok-ASEAN Free Trade Agreement telah berjalan sejak 1 Januari 2019. Konsep yang terdapat di sini sangat fleksibel dan menguntungkan kawasan, di mana dapat membantu perusahaan-perusahaan dari kedua belah pihak untuk menikmati tarif yang cukup ringan dan menawarkan bisnis serta investasi yang menguntungkan.
 
Selain itu, negosiasi Regional Comprehensive Economic Partnership Agreement (RCEP) yang disetujui oleh Tiongkok dan ASEAN diharapkan akan bisa dirumuskan pada tahun ini.
 
Di bidang lain, misalnya people to people, Tiongkok akan memfasilitasi beasiswa untuk muda-mudi Tiongkok-ASEAN serta pertukaran antarjurnalis dari Tiongkok dan 10 negara ASEAN. Di lima tahun ke depan, kami akan mengundang sekitar 1.000 muda-mudi bertalenta dari ASEAN untuk mengikuti pelatihan di Tiongkok.
 
Bagaimana Anda melihat situasi Laut China Selatan saat ini?
 
Dengan kerja sama Tiongkok dan negara-negara anggota ASEAN, situasi di Laut China Selatan sangat terkendali. Konsultasi dari COC terus dilanjutkan dan masih berlanjut hingga saat ini serta kerja sama maritim dapat membuahkan hasil.
 
Sejumlah pencapaian ini tidak dapat diraih dengan mudah. Tentu dengan sejumlah bantuan negara ASEAN dan beberapa pihak dari luar kawasan.
 
Tiongkok juga terus mendorong konsultasi kerangka COC yang efektif serta memantau kerja sama maritim. Dua hal ini akan terus mempengaruhi progres ke depannya. Tiongkok dan negara-negara ASEAN setuju untuk terus menyelesaikan kerangka COC.
 
Drafnya telah ditinjau sejumlah pihak. Ini adalah bukti bahwa Tiongkok dan ASEAN memilliki kebijaksanaan dan kemampuan untuk mengelola sengketa menjadi perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.
 
Di saat yang sama, kerja sama maritim terus melaju dengan cepat. Juli 2018, kapal profesional Tiongkok masuk ke Pulau Nansha untuk memantau perkembangan dari navigasi, komunikasi, observasi lingkungan, pencegahan bencana alam dan mitigasi. Oktober 2018, Tiongkok dan ASEAN juga mengadakan latihan bersama di Zhanjiang, Tiongkok untuk lebih menunjukkan keseriusan dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di Laut China Selatan.
 
Hingga hari ini, memang masih ada tantangan di kawasan Laut China Selatan. Beberapa kekuatan di luar kawasan tidak senang dengan ketenangan yang ada dan mencoba untuk menimbulkan masalah serta membuat kekacauan.
 
Tiongkok dan negara-negara anggota ASEAN yakin dapat mampu mengatasi ancaman-ancaman tersebut dengan terus menyatukan kekuatan demi perdamaian di Laut China Selatan.
 
Apa ekspektasi Tiongkok untuk peran ASEAN dalam One Belt One Road?
 
ASEAN merupakan area kunci untuk One Belt One Road. Pertama kali konsep ini ditawarkan oleh Presiden Xi Jinping di Indonesia pada 2013. ASEAN juga merupakan area prioritas dan mitra penting untuk kerja sama internasional dari One Belt One Road.
 
Lima tahun terakhir, Tiongkok dan negara-negara ASEAN terus bekerja bersama untuk mencapai hasil untuk koordinasi kebijakan, konektivitas, perdagangan, investasi dan hubungan antarwarga. Tiongkok dan ASEAN juga telah menandatangani sejumlah Memorandum of Understanding (MoU) dalam kerangka One Belt One Road.
 
Sejumlah kerja sama One Belt One Road yang terbentuk adalah dengan Myanmar yaitu pipa minyak dan gas, rel kereta api antara Tiongkok dan Laos, lalu dengan Thailand juga rel kereta api, dengan Indonesia yaitu rel kereta cepat Jakarta-Bandung, serta Tiongkok-Singapura Interconnection Demonstration Project.
 
Apa bentuk kerja sama yang akan dilakukan?
 
Tiongkok akan terus bekerja sama dengan ASEAN untuk mempromosikan sinergi antara One Belt One Road dengan ASEAN Vision 2025 dan Master Plan on ASEAN Connectivity 2025. Di samping itu, Tiongkok akan menjadi tuan rumah dari Second Belt and Road High Level Forum for International Cooperation di pertengahan tahun ini.
 
Dalam proses untuk mempromosikan kerja sama internasional di masa depan, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan sinergi strategis dengan ASEAN yang diikuti dengan prinsip: berbagi keuntungan melalui konsultasi dan kolaborasi, transparasi, keterbukaan, inkusif, dan membangun finansial yang baik.
 
Kami percaya, kerja sama Tiongkok dan ASEAN akan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan membuahkan hasil-hasil yang tak mengecewakan.
 
Apakah Tiongkok meragukan efektivitas ASEAN?
 
Tiongkok sangat mengakui ASEAN sebagai organisasi yang efektif. 51 tahun ASEAN terbentuk, banyak yang dilakukan ASEAN dan tentu kami percaya ASEAN akan terus mempromosikan perdamaian dan stabilitas di kawasan. Perdamaian dan stabilitas sangat diperlukan di kawasan ini.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif