NEWSTICKER
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama Pemimpin Redaksi Medcom.id, Abdul Kohar dalam program Newsmaker. (Foto: Fajar Nugraha/Medcom.id).
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama Pemimpin Redaksi Medcom.id, Abdul Kohar dalam program Newsmaker. (Foto: Fajar Nugraha/Medcom.id).

Wawancara Khusus Menlu Retno Marsudi

Indonesia Menjadi Tumpuan Perjuangan Palestina

Internasional palestina israel menlu retno lp marsudi
Fajar Nugraha • 30 Maret 2019 10:32
Jakarta: Isu Palestina tak dipungkiri menjadi bagian dari kebijakan luar negeri Indonesia. Berbagai dukungan telah diberikan Indonesia kepada Palestina.
 
Melihat Timur Tengah yang saat ini terus bergejolak. Patut diperhatikan apa yang akan dimainkan Indonesia dalam waktu dekat terkait konflik Palestina Israel ini.
 
Kepada Medcom.id pada 28 Maret 2019, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan apa yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia untuk kemerdekaan Palestina.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu fokus utama menurut Menlu Retno adalah keberpihakan Indonesia kepada Palestina. Indonesia, termasuk di dalamnya Pemerintah dan Masyrakat sangat mendukung apa yang dilakukan pemerintah untuk mendukung perjuangan bangsa Palestina.
 
“Keberpihakan kita kepada bangsa palestina, sangat tebal, sangat obvious (jelas) dan ini sangat dihargai oleh Palestina. Oleh karena itu setiap kali ada debat diskusi di forum-forum internasional mengenai masalah Palestina, maka Indonesia adalah salah satu negara yang di consult (konsultasi) pertama kali,” ujar Menlu Retno Marsudi saat ditemui di kediamannya.
 
Adapun bentuk dukungan untuk Palestina, Pertama adalah dukungan politik. “So all the way (sepenuh hati) kita akan memberikan dukungan politik kepada bangsa Palestina untuk memperjuangkan hak-haknya. kita tahu, bahwa jalan ini bukan jalan yang mudah, jalan ini akan sangat bumpy (bergejolak) dan mungkin akan panjang, tidak masalah. Kita tahu,” tegasnya.
 
Tetapi bagi Menlu Retno keberpihakan Indonesia harus terus lakukan. tidak boleh bergeser. Kalau mau mudah sebutnya, 'ya sudah kita diam saja'. Tetapi ini adalah mandat konstitusi yang harus ditunaikan, oleh karena itu pemerintah memilih utuk melakukan sesuatu, memilih untuk berkontribusi.
 
Kemudian extra effort (usaha lebih) yang dilakukan oleh Indonesia untuk Palestina, seperti mempersiapkan juga kondisi ekonominya. Caranya konkret, beberapa produk ekspor Palestina ke Indonesia diberikan tarif nol persen (produk ketika masuk ke Indonesia.
 
Dengan begitu daya saing Palestina akan naik dan mudah-mudahan berarti produknya akan lebih banyak terjual. Dengan banyak produk terjual maka berarti ada penguatan kapasitas ekonomi Palestina.
 
Kepedulian lainnya ada pada pengungsi Palestina. Ada lebih dari 5 juta pengungsi Palestina yang tinggal di beberapa negara. Ada satu badan PBB yang ditugasi untuk mengurus para pengungsi ini yang disebut United Nations Relief and Works Agencyfor Palestine Refugees in the Near East (UNRWA). Namun pada perkembangan terakhir ada beberapa negara yang menurunkan dukungan finansialnya kepada UNRWA ini.
 
Indonesia berusaha untuk memberikan kontribusi lebih kepada UNRWA. Pemerintah pun memberikan kontribusi 20 kali lipat lebih banyak dari kontribusi awal yang sudah diberikan. Ini betul-betul merupakan satu sinyal yang kuat, mengenai Indonesia. Merah Putih jelas untuk mendukung perjuangan bangsa Palestina.
 
Pembangunan kapasitas juga diberikan oleh Indonesia. Sebagai contoh, pemerintah memberikan bantuan pembangunan kapasitas kepada perempuan Palestina yang berada di pengungsian di Amman, Yordania. “Jadi memang kita tidak hanya ngomong, tetapi kita melalukan hal-hal yang konkret yang alhamdullilah dunia mengakui upaya kita untuk terus memberikan kontribusi,” sebut mantan Dubes RI untuk Norwegia itu.
 
Pengungsi memang jadi perhatian lebih bagi Pemerintah Indonesia. Bantuan 20 kali lipat besarnya yang diberikan kepada UNRWA, jauh lebih besar sekitar 5-6 tahun lalu.
 
“Kita ingin melihat saudara-saudara kita. kalau kita melihat kamp pengungsi, itu bukan pemandangan yang bisa dinikmati. Saya masuk ke kamp pengungsi Cox’s bazaar di Bangladesh bersama dengan Presiden. Dengan palestina saya juga masuk ke kamp pengungsi,” sebut Menlu.
 
“Kalau lebih dari 5 juta pengungsi dan kemudian dia tidak mendapatkan dukungan, paling tidak dukungan finansial, apakah bukan berarti masa depan mereka jadi kelabu. Kalau mereka tidak memiliki harapan apapun, maka banyak sekali risiko. Risiko macam-macam lah,” tuturnya.
 
Menlu perempuan pertama Indonesia itu pun menegaskan, memang betul-betul harus ada affirmative action (tindakan nyata). Keberpihakan Indonesia sangat jelas untuk membela perjuangan bangsa Palestina.
 

Selengkapnya saksikan video wawancaranya di Newsmaker Medcom ID di kanal YouTube dan Facebook. Newsmaker episode "Jurus Diplomasi RI ala Retno Marsudi"
YouTube:https://bit.ly/2CExttR
Facebook:https://bit.ly/2HZZwI0
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif