Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) John Chen (jas hitam) menjelaskan terkait dugaan mahasiswa Indonesia menjalani kerja paksa. (Foto: Sonya Michaell/Medcom.id).
Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) John Chen (jas hitam) menjelaskan terkait dugaan mahasiswa Indonesia menjalani kerja paksa. (Foto: Sonya Michaell/Medcom.id).

Taiwan Akui Ada Agen Ilegal Tarik Mahasiswa Indonesia

Internasional pendidikan taiwan Mahasiswa di Taiwan
Sonya Michaella • 04 Januari 2019 13:38
Jakarta: Taiwan menyangkal adanya kerja paksa bagi ratusan mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu. Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) John Chen menegaskan Taiwan memang menyediakan program beasiswa sekolah-magang.
 
Baca juga: Taiwan Tampik Isu Pekerjakan Paksa Ratusan Siswa Indonesia.
 
Program ini merupakan program baru yang diluncurkan sekitar dua tahun silam. Pemerintah Taiwan berkomitmen akan terus memperbaiki sistem program sekolah-magang ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, John mengakui bahwa ada sejumlah oknum yang memanfaatkan program baru ini, seperti misalnya agen-agen tidak resmi yang menyaring mahasiswa Indonesia yang ingin sekolah sambil bekerja di Taiwan.
 
“Di tahun pertama program ini, memang kami masih baru dan belum berpengalaman. Kami menemukan sejumlah agen ilegal yang menawarkan program ilegal pula,” kata John kepada awak media di Kantor TETO, Jakarta, Jumat 4 Januari 2019.
 
Namun, di tahun kedua, ujar dia, Pemerintah Taiwan menyaring dan mengawasi ketat jalannya program ini. Termasuk tidak memperbolehkan mahasiswa asing masuk secara ilegal.
 
“Program ini memang ditujukan bagi mahasiswa yang kurang mampu. Jadi sambil bekerja, mereka juga mendapatkan ilmu. Sepulangnya ke Indonesia, mereka mendapatkan gelar dan juga pengalaman,” tutur John.
 
Baca juga: Mahasiswa Indonesia di Taiwan Tolak Pemberitaan Kerja Paksa.
 
Di dalam program ini, Pemerintah Taiwan akan memberikan biaya para mahasiswa asing sebesar USD3.000 atau sekitar Rp42 juta untuk tahun pertama dan diperbolehkan mengambil kerja paruh waktu (part-time).
 
Di tahun kedua, mereka diharuskan mengambil internship (magang) dan diperbolehkan mengambil kerja paruh waktu, dengan risiko yang akan ditanggung masing-masing mahasiswa, misalnya lelah dan tidak dapat konsentrasi dalam sekolah.
 
Namun, jika memang tidak ingin mengambil program sekolah-magang, para calon mahasiswa asing bisa mengambil sekolah seperti pada umumnya di mana kerja paruh waktu akan dibatasi, 20 jam per minggu.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif