Selain Korupsi, Najib Hadapi Tuntutan Pelanggaran Kepercayaan
Mantan PM Malaysia Najib Razak melambaikan tangan saat hendak ditransfer ke pengadilan tinggi usai hadir di kompleks pengadilan Duta di Kuala Lumpur, 4 Juli 2018. (Foto: AFP/MOHD RASFAN)
Kuala Lumpur: Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak ditangkap Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia dengan tuduhan korupsi dan pelanggaran kriminal terkait skandal keuangan perusahaan 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Dalam persidangan perdana ini, Najib dituduh menerima uang suap RM42 juta atas nama pemerintah Malaysia untuk mendapat pinjaman dari dana pensiun Kumpulan Wang Persaraan (KWAP) senilai RM4 miliar. Dana pinjaman itu kemudian disalurkan ke perusahaan SRC International Sdn Bhd.

Tak hanya itu, Najib juga menghadapi tiga tuntutan pelanggaran kepercayaan (CBT) lainnya dalam kapasitasnya sebagai Perdana Menteri, Menteri Keuangan dan penasihat Emeritus dari SRC International.


Baca: Najib Muncul di Pengadilan atas Tuduhan Korupsi

Berdasarkan laporan The Star, Rabu 4 Juli 2018, Najib dituduh telah menyalahgunakan dana melalui berbagai bank di Malaysia pada tiga kesempatan, antara 24 Desember 2014 hingga 2 Maret 2015. Dana tersebut masing-masing sebanyak RM27 juta, RM10 juta dan RM5 juta.

SRC International adalah anak perusahaan dari 1MDB, yang ditempatkan di bawah yuridiksi Kementerian Keuangan pada 2012.

Dalam persidangan, Najib akan dikenakan pasal berlapis, yaitu Pasal 23 Undang-Undang Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC), dengan hukuman penjara hingga 20 tahun dan denda yang sama lima kali jumlah suap. Tuduhan lainnya di bawah Pasal 409 KUHP dan dapat dihukum hingga 20 tahun penjara.

Najib ditangkap pada Selasa 3 Juli 2018 di rumahnya di Kuala Lumpur. Saat ini, mantan PM Malaysia tersebut tengah menjalani sidang di Mahkamah Kuala Lumpur.



(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id