Sultan Abdullah Shah menggantikan posisi Sultan Muhammad V sebagai Yang Dipertuan Agung ke-16. (Foto: AFP).
Sultan Abdullah Shah menggantikan posisi Sultan Muhammad V sebagai Yang Dipertuan Agung ke-16. (Foto: AFP).

Seberapa Penting Peran Raja Malaysia dalam Politik Jiran

Internasional malaysia politik malaysia
Arpan Rahman • 24 Januari 2019 16:55
Kuala Lumpur: Sembilan penguasa Melayu keturunan Malaysia memilih raja baru, atau Yang Dipertuan Agung. Hanya beberapa pekan setelah raja sebelumnya, Sultan Muhammad V, mengundurkan diri dalam kemunduran mengguncangkan yang tidak dapat dijelaskan sesudah spekulasi beberapa pekan.
 
Itu kali pertama kepala negara Malaysia turun tahta. Pada akhirnya penguasa negara bagian Pahang, Sultan Abdullah terpilih sebagai Yang Dipertuan Agung ke-16. Tetapi mengapa monarki begitu penting bagi Malaysia?
 
Berikut, beberapa fakta yang dirangkum Medcom.idmengenai Monarki di Malaysia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apa Peran Yang Dipertuan Agung?
 
Yang Dipertuan Agung berfungsi sebagai kepala negara Malaysia, tidak berbeda dengan peran yang dimainkan ratu di Inggris dan wilayahnya. Peran Agung sebagian besar bersifat seremonial karena walaupun ia memiliki kekuasaan konstitusional yang luas, ia harus melaksanakannya atas saran kabinet. Agung harus menyetujui pengangkatan individu untuk berbagai peran pemerintah senior, termasuk perdana menteri.
 
Sebagai kepala negara, ia juga dapat mengeluarkan pengampunan kerajaan sepenuhnya -- seperti dalam kasus ikon demokrasi Anwar Ibrahim pada 2018, ketika mantan raja Sultan Muhammad V menghapus catatannya sampai bersih dari berbagai tuduhan sodomi dan korupsi.
 
Kendati para penguasa sebelumnya memiliki kekuasaan lebih besar, pada 1983 dan 1993 Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengesahkan amandemen konstitusi yang membatasi wewenang mereka, melucuti dari kewajiban untuk menyetujui undang-undang yang disahkan di parlemen, menghilangkan kekebalan hukum mereka dari penuntutan, dan mendirikan pengadilan khusus buat menuntut mereka jika perlu.
 
Apa yang menjadikan Agung sebuah lembaga budaya dan simbol yang kuat bagi rakyat adalah tanggung jawabnya melindungi Islam di Malaysia yang mayoritas Muslim, merupakan faktor kunci di balik berlanjutnya dukungan luas bagi bangsawan di antara warga negara. Meskipun semakin banyak orang Malaysia mengkritik penggunaan aturan kolonial -- era Sedition Act untuk membatasi komentar negatif publik tentang institusi kerajaan.
 
Baru-baru ini, monarki Malaysia menjadi lebih vokal tentang politik sehari menyusul pemilihan umum 2008 yang penting ketika Pakatan Rakyat yang saat itu menjadi oposisi memenangkan negara bagian Perak. Setelah tiga anggota dewan membelot, Sultan Perak menolak untuk mengizinkan menteri utama membubarkan majelis negara, yang mengakibatkan krisis konstitusi dan negara bagian itu kemudian kembali ke aturan pemerintahan semula.
 
Para penguasa kemudian lebih vokal pada gerakan politik, seperti pada 2015 ketika mereka merilis pernyataan bersama yang menyerukan penyelidikan segera ke dalam skandal korupsi global 1Malaysia Development Berhad (1MDB).
 
Monarki pilihan: Bagaimana Agung didaulat?
 
Agung dipilih oleh dewan penguasa kekerabatan, yang disebut Conference of Rulers (Konferensi Penguasa), mencakup empat gubernur negara bagian yang dapat menghadiri bagian dari konferensi tetapi tidak dapat memilih. Masing-masing dari sembilan sultan, yang mengawasi negara bagian yang berbeda, bergiliran menjadi raja selama lima tahun menjalankan sistem rotasi.
 
Di bawah konstitusi, hanya ada tiga contoh di mana penguasa berikutnya dalam daftar rotasi dapat ditolak posisinya: jika calon raja masih di bawah umur; jika Konferensi Penguasa melalui pemungutan suara rahasia memutuskan bahwa ia tidak cocok dengan alasan kelemahan pikiran atau tubuh atau alasan lain buat menjalankan fungsi-fungsi raja; atau jika dia menolak untuk mengambil posisi. Jika ini terjadi, surat suara kemudian akan pindah ke penguasa berikutnya dalam daftar. Seperti yang berlaku, keluarga kerajaan Pahang akan naik takhta berikutnya, disusul oleh Johor dan Perak. Secara historis belum ada perbedaan dari daftar pemilihan bergilir, kecuali untuk 1984 ketika Johor dan Perak berganti setelah Sultan Perak meninggal beberapa bulan sebelum pelantikan.
 
Di balik kecurigaan PM Mahathir dengan anggota kerajaan
 
Mahathir – yang juga menjabat sebagai perdana menteri dari 1981 hingga 2003 dan kembali di tampuknya setelah memimpin koalisi Pakatan Harapan menuju kemenangan pada 2018 – memiliki hubungan yang rongseng dengan para bangsawan sesudah upayanya untuk memotong kewenangan mereka. Perselisihan besar pertama Mahathir dengan para sultan terjadi pada 1983, ketika dia memaksa mereka melepaskan hak untuk memveto undang-undang baru dengan menahan persetujuan melalui amandemen konstitusi.
 
Satu dekade kemudian, ia lebih lanjut membatasi kekuasaan raja dengan mengakhiri kekebalan hukum mereka dari penuntutan setelah pengaduan tentang perilaku yang keliru. Tahun lalu, setelah pemilu yang membuat mantan koalisi pemerintahan Barisan Nasional digulingkan untuk kali pertama dalam 61 tahun pemerintahannya, muncul spekulasi luas bahwa istana telah menunda pelantikan Mahathir sebagai perdana menteri.
 
Pada Juni, pemerintah dan Yang Dipertuan Agong terjebak jalan buntu mengenai penunjukan pengacara etnis India Tommy Thomas sebagai jaksa agung, posisi yang biasanya diperuntukkan bagi anggota ras mayoritas Melayu-Muslim -- meskipun konstitusi tidak menentukan ras tertentu, jenis kelamin atau persyaratan agama untuk peran tersebut. Agong menyetujui penunjukan setelah dua pekan. Baru-baru ini, ia membidik keluarga kerajaan Johor atas masalah tanah, membuat pernyataan publik tentang pentingnya ‘aturan hukum’.
 
Bentrokannya dengan keluarga kerajaan Johor, khususnya, telah didokumentasikan dengan cermat dan dimulai pada 1980-an; meskipun Mahathir menekankan bahwa dia bukan anti-monarki. Pada Januari, Mahathir bertemu Sultan Johor secara perdana sejak kembali berkuasa dalam sebuah rapat tertutup yang susah dipublikasikan.
 
Repetisi yang umum adalah bahwa Mahathir berhubungan hangat dengan tujuh Agong yang telah ia layani selama ini. "Jika sultan tidak menyukai saya, tidak apa-apa. Saya tidak meminta orang untuk menyukai saya, saya hanya akan membela apa yang benar," katanya kepada This Week in Asia pada 2017.
 
Sultan Abdullah Shah
 
Pada Kamis ini, Konferensi Penguasa memilih Yang Dipertuan Agong baru. Para pengamat percaya bahwa tidak mungkin para penguasa akan melanggar tradisi dan Sultan Pahang, Sultan Abdullah Shah, pada akhirnya naik takhta.
 
Seorang tokoh olahraga terkenal karena keterlibatannya dengan FIFA dan berbagai federasi hoki, Sultan Abdullah adalah putra mahkota Pahang sampai ayahnya turun takhta pada awal Januari untuk memberi jalan penobatannya, dengan alasan kesehatan yang buruk.
 
Sebelumnya muncul nama Sultan Ibrahim Sultan Iskandar dari Johor dapat menjadi Agung. Pada 2016, penguasa Johor, yang memiliki sejumlah bisnis dan merupakan penggemar sepeda motor, berkata bahwa ia telah melewatkan kesempatan untuk menjadi Agung karena menghormati sistem rotasi.
 
Dia bertemu Mahathir segera setelah pengunduran diri Muhammad V. Tidak diketahui secara pasti apa isi dari pertemuan itu.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi