Dalam edisi internasionalnya, tercatat Yomiuri Shimbun menggunakan istilah "sex slaves' atau 'budak seks', dalam menyebut perempuan-perempuan yang biasa dikenal dengan 'Jugun Ianfu' itu.
Tercatat ada 85 artikel yang menggunakan istilah budak seks ini atau ekspresi serupa antara 1992 hingga 2013. Atas artikel itu, Yomiuri Shimbun pun meminta maaf. Demikian diberitakan Reuters, Sabtu (29/11/2014).
Aktivis sayap kanan Jepang, sejak lama melakukan kampanye melawan istilah ini. Namun mereka bermaksud bukan untuk membela para perempuan ini. Mereka justru menilai bahwa perempuan itu melayani para prajurit Jepang tanpa ada paksaan.
Tentu ungkapan aktivis itu berseberangan dengan penyelidikan Pemerintah Jepang pada awal 1990 silam. Mereka menyimpulkan para Jugun Ianfur tersebut direkrut dengan dipaksa.
Selain disebut dipaksa, penyelidikan pemerintah Jepang juga menyebutkan kondisi para Jugun Ianfu juga menyedihkan. Mereka dikumpulkan di sebuah tempat dan dihadapkan pada atmosfer buruk.
Jugun Ianfu hadir di masa pendudukan Jepang di Asia. Indonesia yang dijajah Jepang, perempuannya juga menjadi korban dari prajurit Jepang di masa Perang Dunia II.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News