Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: AFP)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: AFP)

Pemberontak Ragu Duterte Ingin Akhiri Perjanjian dengan AS

Internasional amerika serikat as-filipina
Arpan Rahman, Marcheilla Ariesta • 13 Februari 2020 06:00
Lucena City: Pendiri Partai Komunis Filipina, Jose Maria 'Joma' Sison, meragukan keputusan Presiden Rodrigo Duterte yang berencana mengakhiri perjanjian Visiting Forces Agreement (VFA). Kesepakatan ini merupakan perjanjian militer Filipina dan Amerika Serikat yang telah berjalan 20 tahun.
 
"Pemberitahuan pemutusan VFA mulai berlaku setelah 180 hari. Orang-orang ragu Duterte tidak akan berubah pikiran sepanjang periode itu," kata Sison yang tengah menjalani pengasingan di Utrecht, Belanda, dikutip dari laman Inquirer, Rabu 12 Februari 2020.
 
Keraguan didasarkan pada pernyataan Duterte yang mengatakan VFA masih berlaku hingga 180 hari ke depan sejak pengumuman dibuat. Menurut Sison, Duterte bisa saja berubah pikiran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menegaskan dirinya mendukung keputusan Duterte, dan hanya meragukan tekad sang presiden.
 
"Satu panggilan telepon dari Presiden (AS) Donald Trump bisa mengubah Duterte," seru Sison.
 
Duterte pernah mengancam akan mengakhiri perjanjian militer dengan AS. Namun beberapa bulan kemudian, lanjut Sison, Duterte mengizinkan latihan Balikatan di bawah skema VFA.
 
Selain VFA, Filipina memiliki perjanjian militer lain dengan AS, yakni Perjanjian Pertahanan Bersama, Perjanjian Dukungan Logistik Bersama, dan Perjanjian Kerja Sama Peningkatan Pertahanan (EDCA).
 
"EDCA memungkinkan militer AS untuk merotasi lebih banyak pasukannya di Filipina dan membangun fasilitas di kamp-kamp militer Filipina. Mereka dapat menggunakan 'pasukan boneka' Filipina sebagai penjaga keamanan," terang Sison.
 
Selasa kemarin, Duterte memutuskan menarik diri dari perjanjian VFA. Menurut Duterte, sudah saatnya Filipina menjadi lebih independen dalam hubungan dengan negara-negara lain.
 
"Presiden tidak akan menerima inisiatif yang datang dari pemerintah AS untuk menyelamatkan VFA. Dia juga tidak akan menerima undangan resmi untuk mengunjungi Amerika Serikat," tutur juru bicara Duterte, Salvador Panelo.
 
Diakhirinya VFA dinilai dapat menyulitkan kepentingan militer AS di kawasan Asia-Pasifik di tengah meningkatnya ambisi Tiongkok.

 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif