Kapal penjaga pantai Tiongkok lakukan latihan bersama Filipina. Foto: AFP
Kapal penjaga pantai Tiongkok lakukan latihan bersama Filipina. Foto: AFP

Tiongkok Gabung Pasukan Filipina Berlatih di Laut China Selatan

Internasional laut china selatan tiongkok filipina
Arpan Rahman • 17 Januari 2020 15:32
Manila: Penjaga pantai militer Tiongkok ikut serta dalam latihan bersama dengan mitra Filipina di perairan Filipina pekan ini. Meskipun muncul usai pengaduan bahwa kapal-kapal Tiongkok bersenjata menangkap ikan secara ilegal di perairan Filipina.
 
Latihan itu dilakukan setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte melakukan beberapa kunjungan ke Tiongkok guna mencari dukungan keuangan untuk memungkinkannya melanjutkan kebijakan infrastruktur.
 
Filipina memiliki kebutuhan investasi infrastruktur yang serupa dengan Indonesia, yang pekan lalu mengerahkan kapal perang dan jet tempur setelah Tiongkok mengirim kapal penjaga pantai bersenjata ke zona ekonomi eksklusifnya. Tanggapan Jakarta tampaknya telah mengusir mereka, tetapi beberapa kapal Tiongkok sejak itu kembali ke perairan dekat kepulauan Natuna.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Klaim teritorial Tiongkok yang luas di Laut China Selatan tumpang tindih dengan Indonesia di dekat Natuna. Tetapi pendekatan tangan besi Beijing didukung kekuatan militer dan angkatan laut serta kesadaran akan kekuatan keuangannya di wilayah yang bermasalah.
 
NATO telah memperingatkan "kekuatan yang meningkat" dari Beijing memberi beberapa "tantangan serius" ke seluruh dunia.
 
Jens Stoltenberg, Sekretaris Jenderal NATO menyoroti pengaruh Tiongkok yang berkembang di Laut China Selatan, benua lain, dan bahkan Antariksa.
 
Stoltenberg mengatakan kepada jaringan TV AS, CNBC: "Apa yang kita lihat adalah bahwa kekuatan Tiongkok yang meningkat menggeser keseimbangan kekuatan global dan kebangkitan Tiongkok."
 
"Peningkatan ekonomi, peningkatan militer, memberikan beberapa peluang tetapi juga beberapa tantangan serius," tukasnya, disiarkan dari Daily Express, Jumat 17 Januari 2020.
 
Tuduhan 'militerisasi' Laut China Selatan sudah meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat yang telah lama mengamati ekspansi Tiongkok di Pasifik dan dengan sendirinya mempertahankan kehadiran militer dan angkatan laut yang signifikan di wilayah tersebut.
 
Sekarang Jepang bergabung dengan seruan seruan agar komunitas internasional untuk mengambil tindakan lebih kuat terhadap kehadiran Tiongkok yang semakin meningkat di perairan yang disengketakan.
 
Anggota parlemen Jepang, Akihisa Nagashima, mengatakan kepada lebih dari 200 perwakilan di Forum Parlemen Asia-Pasifik ke-28 di Canberra, dunia seharusnya tidak "duduk di sela-sela" pengaruh Beijing yang muncul di wilayah tersebut.
 
Tiongkok mengklaim wilayah luas perairan kaya energi dan telah mendirikan pos-pos militer di pulau-pulau buatan. Perairan yang diperebutkan juga diyakini mengandung banyak minyak dan gas alam.
 
Nagashima, yang juga duduk di Komite Keamanan Nasional Jepang, mengatakan kepada perwakilan dari lebih dari 30 negara, termasuk Rusia dan AS, tindakan Beijing merupakan ancaman bagi ketertiban regional.
 
"Tiongkok secara paksa melakukan reklamasi cepat besar-besaran atas fitur-fitur maritim yang sedang dikonversi menjadi pos-pos militer,” ucap Nagashima.
 
"Kita tidak boleh duduk diam dalam menghadapi perkembangan ini, jika tindakan semacam ini diulangi, dimaafkan, dan dibiarkan tidak terselesaikan, mereka dapat sepenuhnya menumbangkan tatanan regional yang ada," tegasnya.
 
“Kita harus menegaskan kembali prinsip bahwa tindakan sepihak dengan paksa atau paksaan untuk mengubah status quo tidak dapat diterima. Saya tidak bisa terlalu menekankan pentingnya aturan dan prinsip yang sulit didapat untuk stabilitas dan kemakmuran Asia Pasifik," bubuhnya.
 
Laut China Selatan juga merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Sebuah laporan Kementerian Pertahanan AS 2015 menemukan bahwa barang yang diperkirakan senilai USD5,3 triliun atau setara Rp7,2 kuadriliun diangkut melalui Laut China Selatan setiap tahun.
 
Di bawah hukum internasional, sebagian besar Laut China Selatan berada di bawah kedaulatan Vietnam. Beijing menegaskan seluruh jalur air hingga pantai Filipina, Malaysia, dan Taiwan adalah milik Tiongkok. Klaim itu ditolak oleh pengadilan arbitrase internasional pada 2016.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif