Anwar Ibrahim Minta Tidak Ada Balas Dendam ke Najib
Tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim tidak ingin ada dendam terhadap Najib Razak (Foto: AFP).
Kuala Lumpur: Pimpinan Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim mengatakan dia tidak ingin ada orang lain dihukum tanpa menjalani proses hukum. Hal tersebut ditujukan kepada kasus yang dialami mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.
 
Berbicara kepada sekitar 500 pendukung yang menghadiri buka puasa di rumahnya di Segambut di Kuala Lumpur , Anwar bersikeras tentang masalah ini meskipun dia yakin ada cukup bukti untuk mengadili mantan Perdana Menteri Najib Razak.
 
"Meskipun saya percaya ada cukup alasan untuk mengadili Datuk Seri Najib, tetapi dapatkah saya memiliki cara untuk mengadili dia? Tidak. Dia harus melalui proses, mendapatkan kasus prima facie yang bagus sebelum tuduhan," tegas Anwar, seperti dikutip Malaysia Kini, Jumat 18 Mei 2018.
 
"Bisakah kita atur hukum? Tidak, kita hanya bisa mengikuti proses hukum itu," katanya.
 
Bersamaan dengan Ramadan, Anwar juga mengingatkan para pendukungnya untuk bersyukur kepada Allah SWT dan tidak membalas dendam terhadap individu.
 
"Jadi saya ingin mengatakan bahwa kita tidak kehilangan rasa syukur kepada Allah. Jika kita bersyukur kita mengikuti perintah Tuhan," ucapnya.
 
"Kami bersyukur kepada Tuhan, tetapi kami mengatakan kepadanya untuk membebaskannya (Najib), menangkapnya, dan ini bukan alasan balas dendam," katanya.
 
Pernyataan Anwar malam ini dibuat sehari setelah polisi melancarkan penggeledahan ke rumah Najib di Jln Langgak Duta dan diyakini sedang berlangsung.
 
Putri Anwar, Wakil Presiden PKR Nurul Izzah, sebelumnya mengutuk sikap dari pihak berwenang dan menyamakan pengalamannya ketika ayahnya ditangkap.
 
"Sebagai mantan korban penyerbuan di pagi hari, saya harus menekankan keberatan saya terhadap penggeledahan rumah pada waktu yang tidak sewajarnya," katanya.
 
Tegakkan hukum, bukan hukum rimba
 
Anwar mengatakan ia telah menyampaikan pesan yang sama kepada Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad tentang perlunya menegakkan supremasi hukum dalam pertemuan mereka Kamis 17 Mei.
 
"Saya mengatakan pada Tun M, dia berkata untuk pergi mencari dokumen dan sebagainya. Saya setuju tetapi dia harus melalui proses hukum itu," ungkap Anwar.
 
"Kita patut marah, kebencian kita, bukan berarti menjadi pembenaran bertindak tidak sesuai hukum. Negara ini memiliki hukum dan kita berusaha untuk menegakkan hukum, bukan hukum rimba," katanya.
 
Sebelumnya, Mahathir sebelumnya menolak campur tangan dengan urusan kepolisian dan mengatakan serangan itu didasarkan pada prosedur operasi standar.
 
Dia juga mengatakan tidak bermaksud untuk 'menyiksa' siapapun dan ingin setiap individu diperlakukan dengan baik.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id