Maskapai Korean Air. Foto: AFP
Maskapai Korean Air. Foto: AFP

Harga Bahan Bakar Melonjak, Korean Air Aktifkan Mode Darurat

Annisa ayu artanti • 31 Maret 2026 13:16
Ringkasnya gini..
  • Korean Air aktifkan mode darurat akibat lonjakan harga bahan bakar jet global.
  • Harga minyak Brent naik >50% sejak konflik geopolitik memanas.
  • Maskapai fokus efisiensi biaya demi menjaga stabilitas keuangan.
Jakarta: Manajemen maskapai Korean Air mengatakan pihaknya beralih ke mode manajemen darurat untuk meredam dampak lonjakan biaya bahan bakar jet. Hal itu dilakukan imbas dari kondisi ekonomi global yang tengah terguncang oleh perang AS-Israel dengan Iran.
 
Melansir BBC, Selasa, 31 Maret 2026, seorang juru bicara maskapai penerbangan nasional tersebut mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka akan menerapkan langkah-langkah pengurangan biaya internal untuk mengelola keuangannya guna memastikan stabilitas perusahaan di tengah kenaikan harga bahan bakar dan ketidakpastian ekonomi global.
 
Sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari, harga minyak mentah Brent telah naik lebih dari 50 persen menjadi lebih dari USD110 (£83,33) per barel, yang menyebabkan biaya bahan bakar jet melonjak tajam.

Karyawan maskapai penerbangan terbesar di negara itu pertama kali diberitahu tentang langkah-langkah tersebut dalam sebuah memo yang telah dilihat oleh BBC.
 
"Kami berencana untuk beralih ke sistem manajemen darurat pada bulan April untuk mempersiapkan kenaikan biaya karena lonjakan pengeluaran bahan bakar," kata Wakil Ketua Woo Ki-hong mengatakan kepada staf.
 
Baca juga: Efek Domino Konflik Timteng: Maskapai Global Merugi Besar, Tiket Pesawat Bisa Melonjak

Maskapai penerbangan tersebut juga akan mengupayakan efisiensi biaya di seluruh perusahaan melalui langkah-langkah yang didasarkan pada harga minyak.
 
Menurutnya, langkah-langkah ini bukan hanya inisiatif pengurangan biaya sekali waktu, tetapi lebih merupakan kesempatan untuk memperkuat fondasi struktural perusahaan.

Pasokan energi Korea Selatan dari Timur Tengah

Korea Selatan sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah karena sangat bergantung pada minyak dan gas dari Teluk.
 
Maskapai penerbangan terbesar kedua di negara itu, Asiana Airlines, dan maskapai penerbangan murah Busan Air juga telah memasuki mode manajemen darurat. Ketiga maskapai penerbangan tersebut dimiliki oleh konglomerat Korea Selatan, Hanjin Group.
 
Harga rata-rata bahan bakar jet naik menjadi hampir USD200 (£151,45) per barel pada 20 Maret, lebih dari dua kali lipat dari harga pada bulan Februari, menurut angka terbaru dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional.
 
Dalam perdagangan Asia pada hari Selasa, harga energi sedikit naik, dengan minyak mentah Brent naik 0,3 persen menjadi sedikit di atas USD113 per barel.
 
Harga minyak yang diperdagangkan di AS naik 0,2 persen menjadi USD103. Pada hari Senin, harga minyak ditutup di atas USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan