Pesawat AirAsia lepas landas dari Bandara Changi, Singapura, Senin (29/12/2014) - AFP / MOHD FYROL
Pesawat AirAsia lepas landas dari Bandara Changi, Singapura, Senin (29/12/2014) - AFP / MOHD FYROL

Pengamat Penerbangan: AirAsia QZ8501 Terbang Terlalu Lamban

Willy Haryono • 29 Desember 2014 11:27
medcom.id, Canberra: Berbagai spekulasi mengenai penyebab hilangnya pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 bermunculan, mulai dari cuaca buruk hingga kerusakan teknis. Pakar penerbangan internasional Geoffrey Thomas memiliki pandangan berbeda.
 
"Sesuai data di radar, pesawat itu terbang dengan kecepatan 353 knots, 100 knots lebih lamban dari seharusnya," ucap Geoffrey pada BBC, Minggu (28/12/2014).
 
Walaupun hanya spekulasi, Geoffrey menyebut mungkin pilot QZ8501 kehilangan data kecepatan karena beberapa bagian pesawat membeku terkena udara dingin di ketinggian 32 ribu hingga 38 ribu kaki.

Geoffrey menyebut kejadian semacam ini diduga kuat sebagai penyebab jatuhnya Air France Airbus A330 di Samudera Atlantik pada 2009,
 
Seorang mantan pilot A320 mengungkapkan hal serupa pada AirlineRatings.com, dan menduga QZ8501 mengalami stall atau terhenti di udara.
 
"Terbang lamban di ketinggian ekstrem sangat berbahaya," sebut dia. QZ8501 sempat terlihat di radar dalam kecepatan 36 ribu kaki dengan kecepatan 353 knots, 100 knots lebih lamban dalam situasi cuaca seperti itu.
 
Hilangnya QZ8501 adalah tragedi besar pertama AirAsia. CEO AirAsia Tony Fernandes mengatakan QZ8501 dalam kondisi baik sebelum diperbolehkan terbang.
 
"Ini mimpi terburuk saya," tulis Tony dalam akun Twitter.
 
QZ8501 membawa 155 penumpang, yang terdiri dari 138 orang dewasa, 16 anak-anak dan seorang bayi. Sedangkan kru pesawat terdiri dari dua pilot, empat awak kabin dan satu teknisi. Tujuh warga negara asing ada dalam penerbangan itu, yakni tiga asal Korsel, satu Singapura, satu Inggris, satu Malaysia dan seorang first officer dari Perancis.
 
Pencarian hari ini oleh Basarnas dan pihak terkait lain, termasuk BPPT, dibagi ke dalam tujuh sektor. Salah satu fokus pencarian Basarnas di Kalimantan Barat, yang berhadapan langsung dengan Selat Karimata dan juga perairan Bangka Belitung.
 
Hingga saat ini, alat Emergency Locator Transmitter atau ELT dari QZ8501 belum juga memancarkan sinyal.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WIL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan