Sekitar 15 ribu WNI mengikuti pemilu di Melbourne, Australia, 13 April 2019. (Foto: KJRI Melbourne)
Sekitar 15 ribu WNI mengikuti pemilu di Melbourne, Australia, 13 April 2019. (Foto: KJRI Melbourne)

Antre Berjam-jam, WNI di Australia Gunakan Hak Pilih

Willy Haryono • 14 April 2019 11:00
Melbourne: Warga negara Indonesia di Australia mengantre selama berjam-jam untuk dapat menggunakan hak pilih mereka dalam pemilihan umum. Menurut Panitia Penyelenggara Pemilu Luar Negeri (PPLN) Australia, terdapat sekitar 15 ribu WNI yang mengikuti pemilu di KJRI Melbourne, Sabtu 13 April.
 
Sekitar dua juta WNI pemilih terdaftar berada di luar negeri, termasuk 65 ribu di Australia. Para WNI di luar negeri ini dibolehkan memilih dalam periode 8 hingga 14 April, dan semua suara baru akan dihitung di hari yang sama dengan penyelenggaraan pemilu di Indonesia, yakni 17 April mendatang.
 
Banyak WNI di Australia adalah mahasiswa yang baru pertama kali mengikuti pemilu, yang berlangsung antara pasangan 01 Presiden Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin melawan pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Salah satu yang ikut serta dalam pemilu di Australia adalah Albert Witanto, mahasiswa di Melbourne. Ia menyebut pemilu 2019 ini sebagai "kompetisi yang sangat ketat, sama seperti saat Donald Trump melawan Hillary Clinton."
 
"Saya berharap Indonesia akan tumbuh dan berkembang lebih cepat. Saya juga berharap pemerintahan baru nanti menjadi pemerintahan efektif," kata Albert kepada kantor berita ABC News.
 
Seorang WNI lainnya di Melbourne, Siauw Exel Prasadhana Setiawan, mengaku sempat berdebat dengan keluarganya mengenai apakah akan mengikuti pemilu atau tidak. Hal ini dikarenakan "kedua kandidat sama-sama memiliki kekurangan."
 
Meski menyadari tidak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat menyelesaikan masalah di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun ke depan, Siauw menginginkan seorang pemimpin yang dapat memberantas korupsi, menjaga lingkungan hidup dan juga lebih melindungi hak-hak minoritas.
 
Dalam proses pemungutan suara di Melbourne, besarnya jumlah WNI sempat menghambat arus lalu lintas di depan gedung konsulat. Antrean memanjang hingga ratusan meter.
 
Antrean diakibatkan adanya sekitar 2.000 WNI yang gagal mendaftar via online. Mereka yang gagal diwajibkan datang dan mendaftar di tempat pada Sabtu pagi, dan kembali lagi ke gedung tersebut satu jam sebelum tempat pemungutan suara ditutup.
 
Anggraini Prawira, yang mendaftar via online, mengaku kaget saat melihat antrean panjang, berbeda dari pemilu sebelumnya. "Semua orang antusias untuk datang. Kami ingin memilih. Kami ingin yang terbaik untuk Indonesia," tutur Anggraini.
 
Lebih dari 193 juta warga akan mengikuti pemilu pada 17 April mendatang. Pemilu di Indonesia akan menjadi yang terbesar di dunia dalam kategori pemilihan langsung dan serentak dalam satu hari. Selain memilih presiden, para pemilih juga harus menentukan siapa-siapa saja perwakilan mereka di legislatif.
 
Baca: Meriahnya Pesta Demokrasi Indonesia di Hongaria
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WIL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan