Ilustrasi Medcom.id
Ilustrasi Medcom.id

Kondisi Warga Xinjiang di Tengah Meningkatnya Kasus Covid-19

M Rodhi Aulia • 19 Agustus 2022 18:36
Jakarta: Kasus Covid-19 di Xinjiang, Tiongkok meningkat drastis sejak awal Agustus 2022 yang diduga dibawa warga Tiongkok dari Provinsi Gansu. Kini total jumlahnya mencapai 1.727 kasus positif.
 
Otoritas setempat memberlakukan Undang-Undang Karantina. Otoritas melarang warga di Xinjiang keluar rumah dalam beberapa waktu yang ditentukan. Otoritas menebar ancaman keras kepada siapa pun yang melanggar Undang-Undang Karantina.
 
Warga Xinjiang yang diwajibkan karantina itu tersebar di beberapa daerah, baru-baru ini. Di antaranya kota Urumqi (Wulumuqi), Ghulja (Yining), Aksu (Akesu), Kumul (Hami), Chochek (Tacheng), Bortala (Bole), dan Kashgar (Kashi).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Otoritas melakukan patroli ketat di tengah permukiman warga. Otoritas mengancam warga yang melanggar aturan karantina dan memasang CCTV untuk memantau aktivitas warga.
 
Bahkan di sebuah desa, pihak bewenang memantau khusus 10 keluarga. Mereka dilarang keluar dari rumah. 
 
"Jika melanggar (mereka) akan dihukum dan dikirim ke 15-20 hari untuk ‘pendidikan ulang' (penahanan)," kata pejabat yang enggan disebut namanya seperti dilansir dari Radio Free Asia (RFA), Jumat 19 Agustus 2022.
 
Obat-obatan mengalir kepada warga. Obat-obatan berwarna krem itu diklaim untuk mencegah penyakit.
 
Hal itu sebagaimana diungkap Pemimpin Komite Perempuan Desa kawasan Xinjiang yang enggan disebutkan namanya. Pemimpin itu tidak mengetahui jenis obat tersebut.
 
Beberapa warga Xinjiang mulai merasakan dampak buruk karantina. Masyarakat tidak bisa leluasa melakukan aktivitas sehari-hari dan sejumlah produk di pasar membusuk. 
 
Itu terlihat dari sebuah video yang beredar di media sosial. Masyarakat setempat 'tersiksa' atas wabah yang kembali masuk diperkirakan dibawa turis yang ada di Tiongkok masuk Xinjiang.
 
Sejumlah warga mengatakan penguncian di beberapa wilayah membuat para petani tidak dapat mengurus ladang mereka. Pemilik toko kelontong tidak dapat menjual bahan makanan dan barang-barang yang mudah rusak, karena harus dijual dalam kuurn waktu tertentu.
 
Direktur Keamanan Desa Mazar di Ghulja mengatakan para petani memang diberi kesempatan untuk bekerja di ladang dan sawah. Namun tidak semua petani.
 
Direktur itu menyebut petani yang mendapat izin adalah mereka yang harus memperbaiki sistem irigasi atau mereka yang harus memanen hasil pertanian. Para petani ini diizinkan keluar dari rumah. 
 
"Pintu rumah-rumah warga telah disegel, petani dengan kebutuhan mendesak yanh diperbolehkan keluar secara bergilir. Petani terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan dari perangkat desa untuk pergi ke ladang,” kata direktur keamanan tersebut.
 
Masih di Ghulja, tepatnya di Desa Samyuzi, pejabat setempat menyebut para petani diizinkan untuk bekerja di ladang mereka di bawah pengawasan, di mana kamera keamanan telah dipasang di seluruh area untuk memantau apakah ada orang yang meninggalkan rumah mereka tanpa izin. 
 
“Jika mereka ingin keluar untuk keperluan bertani, mereka akan didampingi aparat desa ke sawah. Kami telah memasang kamera keamanan di setiap rumah, untuk memastikan tidak ada yang mengabaikan penguncian,” tambahnya.
 
Dari laporan RFA, setidaknya selama tiga hari, karantina juga berlaku di Lhasa, Ibu Kota Provinsi Tibet. Di sana tercatat 20 kasus Covid-19 bergejala dan 127 tanpa gejala.
 
Atas temuan tersebut, pejabat di Ibu Kota Lhasa memerintahkan operasi disinfeksi seluruh kota mulai 12-15 Agustus lalu, di mana siapapun tidak diperbolehkan meninggalkan rumah mereka. 
 
Sumber-sumber di kota itu mengatakan perintah itu merupakan penguncian tiga hari secara de facto, meskipun para pejabat telah menahan diri untuk tidak menggunakan istilah itu. 
 
Sementara warga yang telah dikonfirmasi positif langsung dikarantina dan pengujian kepada warga lainnya juga diterapkan meskipun pihak berwenang tidak dapat atau gagal memastikan bahwa penduduk telah menjaga jarak yang tepat saat itu.
 
“Karena kasus Covid meningkat di Lhasa dan beberapa wilayah lain, orang-orang yang tinggal di hotel dan penginapan di daerah ini dan mungkin memiliki kontak dengan yang terinfeksi sekarang dikarantina untuk keselamatan,” kata seorang sumber di Tibet kepada RFA Tibetan. 
 
“Orang-orang sedang menjalani pengujian terus menerus, Istana Potala dan situs keagamaan lainnya ditutup, sekolah telah menunda pembukaan kembali, dan orang-orang menimbun bahan makanan dan membeli masker wajah,” lanjutnya. 
 
Sementara itu, musim pariwisata pada musim panas terus berjalan lancar di Lhasa meskipun ada kekhawatiran bahwa ada penyebaran wabah dari pengunjung atau para pelancong Tiongkok yang tiba berbondong -bondong dengan pesawat, kereta api, dan mobil dari bagian lain Tiongkok, kata sumber itu.
 
Namun tidak ada langkah dari otoritas setempat untuk membatasi akses keluar-masuk Lhasa. Bahkan otoritas setempat melarang warganya membagikan berita apa pun terkait Covid-19 yang sedang terjadi di media sosial.

 
(DHI)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif