Rahaf Mohammed al-Qunun berjabat tangan dengan petinggi imigrasi Thailand dengan didampingi pejabat UNHCR di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand, 7 Januari 2019. (Foto: AFP/Handout/Thai Immigration Bureau)
Rahaf Mohammed al-Qunun berjabat tangan dengan petinggi imigrasi Thailand dengan didampingi pejabat UNHCR di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand, 7 Januari 2019. (Foto: AFP/Handout/Thai Immigration Bureau)

Rahaf al-Qunun Takut Dibunuh Keluarga Karena Murtad

Internasional arab saudi thailand Rahaf Mohammed al-Qunun
Willy Haryono • 08 Januari 2019 12:01
Bangkok: Kisah pelarian Rahaf Mohammed al-Qunun, seorang perempuan muda asal Arab Saudi, untuk mencari suaka menyedot perhatian dunia. Ia mengaku terpaksa melarikan diri karena takut dibunuh pemerintah atau keluarganya sendiri.
 
Berbicara kepada kantor berita BBC, Rahaf menyebut alasan di balik ketakutannya itu adalah karena dirinya menyatakan keluar dari Islam, atau disebut juga murtad. Setelah terancam dideportasi, Rahaf akhirnya tetap berada di Bangkok di bawah perlindungan Thailand dan Agensi Pengungsian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Senin 7 Januari malam waktu setempat.
 
Setelah bersama UNHCR, al-Qunun menuliskan perkembangan situasinya di Twitter.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hei, saya Rahaf. Saya dengan ayah saya baru saja tiba (di Bangkok), dan hal itu membuat saya takut. Saya ingin pergi ke negara lain untuk mendapat suaka. Tapi setidaknya sekarang saya merasa aman di bawah perlindungan UNHCR dan perjanjian dengan otoritas Thailand. Dan saya akhirnya kembali mendapatkan paspor," tulisnya, seperti dilaporkan di laman BBC, Selasa 8 Januari 2019.
 
Paspor Rahaf sempat disita seorang diplomat Arab Saudi saat dirinya mendarat di Bangkok pada Sabtu 5 Januari. Thailand awalnya mengaku hendak mendeportasi Rahaf karena perempuan berusia 18 tahun itu tidak memiliki visa Thailand.
 
Baca:Kabur dari Keluarga, Wanita Saudi Ditolak Masuk Thailand
 
Namun Rahaf menegaskan dirinya memiliki visa Australia, dan sejak awal juga tidak ingin tinggal di Thailand. Sementara Arab Saudi mengatakan otoritas Thailand menahan Rahaf karena "melanggar aturan."
 
Namun pada Senin kemarin, otoritas Thailand menegaskan akan melindungi Rahaf dari siapapun, termasuk pihak kedubes. Rahaf kemudian dibawa perwakilan UNHCR setelah sempat membuat perjanjian dengan otoritas Thailand.
 
Phil Robertson, Wakil Direktur Asia di Human Rights Watch (HRW), mengatakan kepada BBC bahwa "pemerintah Thailand sempat mengarang cerita bahwa dia (Rahaf) pernah mencoba mengajukan visa dan ditolak. Padahal faktanya, dia sudah punya tiket (dan visa) ke Australia. Dia tidak ingin masuk Thailand sejak awal."
 
Rahaf al-Qunun Takut Dibunuh Keluarga Karena Murtad
Rahaf Mohammed al-Qunun. (Foto: AFP)
 
Kebebasan Beragama di Arab Saudi
 
Kebebasan beragama tidak secara resmi dilindungi di Arab Saudi. Warga yang meninggalkan Islam atau berpindah ke agama lain berpotensi dijerat hukum kemurtadan (apostasy).
 
Warga Saudi yang dijerat hukum semacam itu terancam divonis hukuman mati.
 
BBC World Service sempat berbicara dengan Noura, seorang teman yang sempat menulis di akun Twitter Rahaf. Dia mengatakan kenal dengan Rahaf di grup feminis Saudi, dan dia juga mengaku telah "melarikan diri" dari Arab Saudi karena sudah menjadi "eks Muslim."
 
Noura mengatakan Rahaf adalah mahasiswi di sebuah universitas Saudi. Dia meyakini ayah Rahaf bekerja untuk pemerintah Saudi.
 
"Keluarga dia mengurungnya di rumah selama sekitar enam bulan karena dia memotong rambutnya," tutur Noura kepada BBC. "Saya terus berbicara dengannya setiap 20 menit. Dia sangat ketakutan," ungkap Noura.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif