Menlu perempuan melihat pentingnya peran dalam demokrasi. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta
Menlu perempuan melihat pentingnya peran dalam demokrasi. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta

Bali Democracy Forum 2019

Empat Menteri Bertukar Pikiran Terkait Peran Strategis Perempuan

Internasional bali democracy forum
Marcheilla Ariesta • 05 Desember 2019 21:36
Nusa Dua: Bali Democracy Forum ke-12 mengangkat partisipasi perempuan sebagai topik khusus untuk dibicarakan di dalam pertemuan berskala internasional tersebut.
 
Partisipasi perempuan dianggap memiliki peran strategis dalam mewujudkan demokrasi inklusif, yang tidak lain adalah tema besar BDF 2019. Karenanya, empat menteri luar negeri perempuan diminta menyampaikan pandangan masing-masing tentang partisipasi perempuan dan demokrasi.
 
Empat menteri luar negeri perempuan tersebut berasal dari Australia, Kenya, Namibia, dan tentunya Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Keempat menteri ini mewakili dari masing-masing benua, Asia, Australia, dan Afrika,” ujar Retno saat memberikan keterangan pers di Bali Nusa Dua Conference Center, Nusa Dua, Bali, Kamis 5 Desember 2019.
 
Retno berpandangan demokrasi yang inklusif membutuhkan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan. Retno mengatakan, perempuan harus mengambil peran dalam pengambilan keputusan di segala tingkatan.
 
"Perempuan harus diberdayakan, harus bisa sepenuhnya berpartisipasi dan dilibatkan di segala aktivitas serta pembuatan kebijakan," kata Retno.
 
Sepakat dengan Retno, Menlu Australia Marise Payne dan Menlu Kenya Monica Juma juga menginginkan agar perempuan lebih berani untuk memainkan peran sebagai seorang pemimpin.
 
"Anak-anak perempuan hari ini adalah seorang siswa untuk esok hari dan akan menjadi seorang pemimpin perempuan dalam beberapa tahun ke depan," kata Payne.
 
Namun, Retno menekankan partisipasi perempuan harus dibarengi dengan kualitas dan dukungan lingkungan sekitar.
 
“Keterlibatan perempuan ini tentunya juga harus didukung dengan pendidikan, disupport oleh keluarga, komunitas, dan tentunya pembuat kebijakan. Tanpa itu, akan sangat sulit bagi perempuan untuk ikut berpartisipasi di dalam masyarakat,” ungkap Retno.
 
Peran perempuan dalam perdamaian, imbuh Retno juga diamini oleh Selandia Baru. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menjadi contohnya.
 
Ardern dinilai melakukan pendekatan yang pas saat terjadi serangan di dua masjid di Christchurch pada Maret tahun ini. Pendekatan Ardern bahkan dipuji dunia internasional karena tidak menyalahkan agama apa pun.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif