Wakil oposisi Kamboja, Mu Sochua (baju biru), dari Partai Cambodia National Rescue Party (CNRP). Foto: Medcom.id/Sonya Michaella
Wakil oposisi Kamboja, Mu Sochua (baju biru), dari Partai Cambodia National Rescue Party (CNRP). Foto: Medcom.id/Sonya Michaella

Oposisi Kamboja Sebut Indonesia Berjasa untuk Negaranya

Internasional kamboja Indonesia-Kamboja
Sonya Michaella • 06 November 2019 12:47
Jakarta: Wakil pimpinan oposisi Kamboja, Mu Sochua, dari Partai Cambodia National Rescue Party (CNRP) menyebut Indonesia berjasa bagi kemerdekaan Kamboja, sejak disepakatinya Perjanjian Damai Paris pada April 1991.
 
“Indonesia sangat berjasa bagi Kamboja dan ini berkat mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas kala itu di mana Indonesia bersama Prancis menggelar konferensi damai berujung pada dibentuknya perjanjian tersebut di Kamboja,” kata Mu, kepada awak media di Jakarta, Rabu 6 November 2019.
 
Dituding masuk ke Indonesia dan menggelar konferensi pers secara ilegal oleh perwakilan pemerintah Kamboja di Jakarta, Mu berdalih dirinya datang ke Indonesia dengan tujuan yang jelas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Saya sudah menulis surat kepada Menteri Luar Negeri agar saya bisa bertemu dengan beliau,” ungkap Mu lagi.
 
Mu juga mengatakan, Indonesia adalah negara paling demokrasi di kawasan ASEAN. Untuk itu, ia memilih Indonesia ketika tidak diterima di Thailand.
 
Sebelum ke Indonesia, Mu sempat ditolak masuk ke Thailand di mana dirinya akan pulang ke Kamboja melalui perbatasan darat Aranyaprathet. Namun, dia dicekal oleh imigrasi Bandara Suvarnabhumi pada Minggu kemarin.
 
“Kami ingin pulang ke negara kami, tempat kami lahir dan berasal. Kami ingin menyuarakan keadilan untuk rakyat Kamboja di bawah kediktatoran Hun Sen,” ucap Mui.
 
Insiden ini terjadi menjelang kembalinya Mu dan Sam Rainsy, yang juga berasal dari Partai CNRP, dari pengasingan. Mereka akan kembali bertepatan dengan HUT kemerdekaan Kamboja pada 9 November mendatang.
 
Salah satu pendiri CNRP, Sam Rainsy, melarikan diri ke Prancis empat tahun lalu. Dia juga dihukum karena pencemaran nama baik di mana ia diperintahkan untuk membayar denda sebesar USD1 juta dan hukuman penjara lima tahun dalam kasus berbeda.
 
Bulan lalu, Kamboja juga menangkap enam aktivis yang diduga menantikan kembalinya Sam Rainsy dan Mu Sochua.
 
Dua tahun lalu, pemimpin CNRP, Kem Sokha, juga ditahan dan diasingkan dengan tuduhan merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Hun Sen.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif