Wawancara Khusus Direktur Diplomasi Publik Kemenlu RI

Investasi Kekuatan Diplomasi Melalui Seni Budaya

Marcheilla Ariesta 03 Juli 2018 11:12 WIB
Beasiswa Seni dan Budaya
Investasi Kekuatan Diplomasi Melalui Seni Budaya
Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Aziz Nurwahyudi (Foto: Medcom.id).
Jakarta: Diplomasi tidak melulu mengandalkan kekuatan politik. Tetapi diplomasi bisa juga dilakukan melalui soft diplomacy yang lebih lembut, tetapi mampu memberikan hasil.
 
Menggunakan seni dan budaya sebagai bentuk diplomasi bisa menjadi kekuatan untuk melakukan diplomasi. Hal ini dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam menjalankan kebijakan luar negeri, selain dengan diplomasi konvensional.
 
Pertunjukkan seni budaya Nusantara yang dilakukan para warga asing kembali digelar di Indonesia. Indonesia Channel 2018 akan kembali hadir pada 4 Juli 2018 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
 
Penampilan warga asing dari 64 negara wajib ditonton. Para 'bule' ini belajar selama tiga bulan di berbagai daerah di Indonesia mengenai kebudayaan dan masyarakat daerah. Para warga asing ini merupakan peserta dari Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI).
 
Budaya asal Sumatera Barat, Yogyakarta, Bali, Kalimantan dan Sulawesi sudah dipelajari dengan baik oleh para peserta. Penasaran dengan pertunjukkan mereka? Sebelum menonton pentas para warga asing ini, yuk simak wawancara khusus Medcom.id dengan Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Aziz Nurwahyudi pada Senin 2 Juli 2018. Kemenlu RI merupakan penyelenggara BSBI dan Indonesia Channel 2018. Berikut wawancaranya:
 
Bisa dijelaskan Apa itu Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI)?
 
BSBI itu singkatan dari Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia. Mulai diberikan 2003 zaman Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Nah, BSBI ini awalnya diberikan kepada negara-negara Southwest Pasific Dialogue, negara-negara di kawasan Pasifik. Kemudian mulai berkembang, sesuai dengan tuntutan, kebutuhan kita ke luar, maka BSBI ini kemudian berkembang dari keanggotaannya, negara-negara yang mendapatkan beasiswa ini.
 
 
Awalnya kan hanya enam negara, kemudian, pada 2018, BSBI sudah mencakup 74 negara. Alumninya sudah terdapat 848 sampai 2018 ini.
 
BSBI ini merupakan satu soft power diplomacy kita, untuk membuat jembatan perdamaian dunia ini melalui seni dan budaya. Jadi selama tiga bulan, teman-teman dilatih untuk belajar tari, musik tradisional, bahasa dan kearifan lokal. Mereka belajar selama tiga bulan dan ketika kembali ke negaranya, mereka jadi Duta Indonesia. Mereka bisa memperkenalkan Indonesia melalui pengalamannya selama tinggal di Indonesia. Soalnya mereka kan tinggal di tengah masyarakat. Mereka tinggal di asrama, kos-kosan sehingga mereka memiliki pemahaman kuat dan baik tentang Indonesia, melalui seni, bisa menari, menyanyi, memainkan alat musik tradisional.
 
Mereka juga bisa mengenal value (nilai) Indonesia bagaimana masyarakat Indonesia berpikir, bisa melihat perbedaan di Indonesia terkait agama, suku dan sebagainya. Jadi mereka sebenarnya kita ajari seperti itu. Mereka nanti akan menjadi jembatan antara kita dengan negara asal mereka, atau pemuda di seluruh dunia. Karena kita kan mengumpulkan 72 orang dari 44 negara di Indonesia. Jadi itu mengapa terbentuk BSBI.


Foto: Dok.Kemenlu RI

 
Tujuan dibentuknya BSBI apa?
 
Untuk menjembatani hubungan kita dengan negara setempat. Untuk menjadi jembatan, dalam arti luas, pemahaman mengenai Indonesia. Jadi saat orang asing bertemu alumni BSBI ditanya Indonesia, mereka bisa menjelaskan. Mereka bisa membantu kita. Lagi pula kalau orang luar biasanya lebih percaya kepada sesamanya, misalnya orang Australia lebih percaya mengenai apa yang disampaikan orang Australia juga, dari pada diplomat.
 
Apa yang menginspirasi Kemenlu memberikan BSBI?
 
Awalnya, bagaimana kita bisa menyumbang kepada dunia terkait perdamaian. Seperti amanah dari Undang-Undang Dasar kita kan, kita harus menciptakan perdamaian dunia. Pakai alat apa? Ya alatnya lewat beasiswa ini tadi. Mereka kan future leaders (pemimpin masa depan). Berawal mereka masih muda, kita bekalkan pemahaman mengenai Indonesia.
 
Ada yang bercerita mereka takut saat tiba di sini. Mayoritas Islam, jangan-jangan seperti ini atau itu. Awalnya ada yang jengah mengenai itu, namun seiring berjalannya waktu, ada yang melihat oh begini Islam di Indonesia, keberagaman, toleransi,  dan juga bahwa masyarakat Muslim itu menerima mereka, pikiran mereka terbuka.

Ada salah satu peserta yang mengatakan hidup mereka berubah. Ternyata Indonesia ini beragam dan terbuka dan anehnya lagi, dia jadi ikut puasa, ikut ronda, dia menikmati. Setelah dia mendengar adzan setiap pagi, dia akan kangen kala itu.
 
Tapi anak-anak tahun ini di Banyuwangi mereka Qasidahan, memakai jilbab. Mereka tahu itu local wisdom. Yang di Bali juga begitu, mereka membuat sesaji, dan memang ada pelajaran mengenai local wisdom seperti itu. Mereka paling tidak paham budayanya berbeda. Dan mereka jadi paham kenapa ada di Makassar, Kutai Kertanegara, Bali, Yogyakarta dan Banyuwangi, karena Indonesia itu unik dan besar sekali serta banyak sekali kebudayaan yang harus diperkenalkan.
 
Awalnya mereka saat baru tiba, hanya mau budaya Bali. Inginnya belajar budaya Bali karena memang yang mereka tahu hanya itu. Mereka tidak tahu Kutai Kertanegara itu seperti apa, atau Makassar bagaimana. Dari awal kita sudah bilang Indonesia itu unik, jadi jangan bandingkan kebudayaan dari satu daerah ke daerah lain. Enjoy masing-masing karena itu unik.
 
Saat mereka kami ajak ke Jakarta untuk persiapan pentas, saya bilang minggu depan kalian pulang. Namun mereka diam saja, tidak mau dan malah menangis. Semuanya menangis. Jadi ya begitulah, menimbulkan rasa cinta kepada Indonesia lewat program ini. Dan hasilnya luar biasa.
 
Jika Anda ke Belanda, di sana ada Netherland-Indonesia Youth Society. Ini adalah organisasi anak-anak muda Indonesia dan Belanda yang sebagian besar adalah anak-anak alumni BSBI. Ini yang mendekatkan kedua belah pihak anak-anak Belanda dan Indonesia, bahkan mereka ada cabang di sini (Indonesia). Kegiatannya beragam, ada pengajaran juga. Kemudian di Serbia, ada sanggar tari dengan nama Bidadari-Bidadari.
 
Kemudian di Ceko ada organisasi namanya Kintari Foundation, kerjaannya menari, mereka perform ke mana-mana dan tentu mereka dapat fee. Hasil manggung itu mereka gunakan untuk bangun sekolah di desa Ngolang 2 Lombok. Mereka secara fisik membangun, tapi kalau mereka libur, mereka ke Lombok untuk liburan sekaligus mengajari bahasa Inggris, management. Sehingga perkembangan masyarakat di sana ada. Itu luar biasa, TK, SD sudah ada dan masyarakat diberi keterampilan.

Saat ini ada 13 anak yang meminta perpanjangan izin tinggal, diantaranya ingin memperdalam tari Bali, ada yang mau membuat buku, jadi dia perlu pengalaman. Bahkan ada yang jenius dari Benin, dia main saxophone. Begitu dia dengar lagu, langsung dihapal, kemudian dia memainkan dengan agak sedikit nge-jazz. Saat ini dia sudah hapal bermain saxophone dengan lagu Indonesia Raya.
 
Luar biasa ekspektasinya, namun di luar permasalahan yang timbul. Awalnya mereka datang perasaan bahagianya tinggi. Namun, begitu mereka latihan, masing-masing dari mereka kepribadiannya berubah. Tahun ini tidak ada yang aneh, biasanya komplain hanya makanan, seperti terlalu pedas.
 
Ada berapa budaya yang diajarkan ke peserta dan kenapa budaya itu yang dipilih?
 
Ini kan kita mau menunjukkan kemajemukan budaya Indonesia. Karena keterbatasan kita mengatur ini, kita memilih keterwakilan dari Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Kita carikan budaya itu kental. Sebenarnya ini akan bergeser, tidak melulu stuck di situ. Sebenarnya dulu ada Sunda, Solo, tapi kita geser pelan-pelan, seperti mozaik Indonesia. Misal Makassar sudah terlalu lama, mungkin Sulawesi-nya ke Gorontalo, atau Maluku.
 
Dari para peserta tahun ini, ada lima orang yang dari Indonesia. Mereka asal Papua Barat, Yogyakarta, Jakarta, Maluku dan Bengkulu. Mereka masuk jadi peserta. Mereka bisa jadi percepat blend di masyarakat, namun kita taruh di tempat berbeda. Jadi kepada teman-temannya dia mengatakan, meski pun saya orang Indonesia, saya juga baru belajar. Jadi pengembangan diri bagi dia, tahu tentang kebudayaan bangsanya dan bangsa asing.
 
Program ini sangat bagus, hasilnya juga sangat bagus, beberapa kali dipuji. Dan kita memang harus mensosialisasikan program ini. Tahun ini saja pelamar asal Indonesia sudah 283 orang. Untuk yang di luar negeri ada 400an, dan mereka awalnya diseleksi dulu oleh perwakilan kita di sana. Dilihat mereka kemampuannya apa dan nanti bisa kita cocokan dengan di sini.
 
Ada kriteria khusus untuk peserta?
 
Ada. Kriterianya pertama tentu harus tertarik dengan Indonesia. Karena kalau sudah tertarik, dia akan eksplor ketertarikan dia dengan Indonesia. Yang kedua usia, harus 21 hingga 27 tahun, supaya tidak ada gap. Ketiga, semoga teman-teman ini jika pulang ke negaranya melakukan sesuatu untuk Indonesia. Misalnya menjembatani kita Indonesia dengan negara asalnya. Dia bisa menjadi pembicara di public lecture tentang Indonesia, bisa diajak menari.
 

Foto: Dok.Kemenlu RI.

 
Selama 16 tahun diadakan, peserta paling aktif mempromosikan Indonesia dari mana saja?
 
Banyak sekali yang aktif, misalnya Prancis, seorang alumni BSBI mendokumentasikan tari Pakarena dari Makassar. Dia mendokumentasikannya dari sang maestro saat masih hidup. Banyak diplomat eks BSBI, ada jadi guru, chef, jadi dia bisa promosikan Indonesia dari kuliner.
 
Kegiatan yang mereka lakukan kan banyak, yang paling mudah dan sulit diserap peserta apa?
 
Yang paling mudah diserap itu ya jalan-jalan. Karena kita harus menunjukkan potensi pariwisata. Mau ke mana saja dan setiap weekend kita ajak jalan. Kalau Bali kan banyak tuh tempat wisata. Banyuwangi, Makassar, itu yang mereka suka.
 
Tapi yang paling sulit ketika mereka memahami budaya, bukan sekedar tarian, tapi pemahaman filosofinya. Kenapa tari Bali seperti ini, apa filosofinya? Kenapa ada tari yang orang haid tidak bisa ikuti, di Yogya kan ada. Yang paling sulit itu memberikan pemahaman kepada mereka, karena kan budayanya berbeda. Kalau gerakan tari, fisik, musik itu mereka sudah pintar-pintar, tapi switching mind itu agak sulit.
 
Misalnya Islam, mereka baru tahu Islam di Indonesia itu toleran. Mereka berpikir, kenapa orang-orang Indonesia tidak punya freedom. Padahal permasalahannya dia tidak tahu, kalau ingin pergi harus pamit. Mereka harus ngomong sama pengelola sanggar, merasa freedomnya hilang.
 
Kami bilang bukannya kamu tidak boleh, tapi kan kamu berada di bawah pengawasan sanggar, setidaknya pamit saja kalau mau pergi, karena kamu tidak tahu tempat mana saja yang tidak boleh. Misalnya di Yogya, kamu kan tidak tahu mau berenang di pantai mana saja, karena pantai di Yogya kan pantainya landai. Sebenarnya yang paling sulit yaitu perbedaan budaya itu.
 
Usai diberikan pemahaman itu, berpengaruh ke kehidupan mereka?
 
Ya berpengaruh, sekarang kalau mereka salaman cium tangan. Awalnya mana mereka tahu. Mau pergi keluar, mereka pamit dan cium tangan. Itu ada pengaruhnya, bagaimana Anda respect the elder (menghormati orangtua). Ini yang mereka rasakan, bahwa family di Indonesia close (kekeluargaan di Indonesia sangat dekat). Ada pengaruhnya. Karena mereka tinggal bersama masyarakat. Mereka dengan lingkungannya seperti itu.
 
Mereka diajarkan Bahasa Indonesia?
 
Iya. Tapi hanya basicnya (dasarnya) saja, mereka bisa berbicara bahasa sehari-hari. Mereka bahkan ke pasar sendiri, belanja sendiri. Karena ada program masak setiap akhir pekan. Tawar menawar harga mereka sudah jago. Bisa Bahasa Indonesia terbatas, tapi tidak bisa akademis. Karena untuk mereka bercakap-cakap sehari-hari dengan masyarakat sekitar.
 
Dari sekian banyak alumni BSBI ada yang jadi public figure?
 
Ada di Belanda Rene Rose, dia tokoh muda, di Hungaria ada seniman, sudah terjemahkan buku Saman. Ceko juga ada. Mereka rata-rata berprestasi pada usianya. Bahkan ada yang kerja di kedutaan kita, sebagai staf lokal.
 
Komitmen mereka mempromosikan kebudayaan Indonesia masih sangat kuat?
 
Masih. Di Suriname bahkan ada yang buka rias pengantin Jawa. Kan orang Jawa banyak di Suriname, mereka menikah ada yang masih pakai adat Jawa. Jadi saat si alumni ini ikut BSBI, dia ditempatkan di Solo dan belajar paes, disela-sela belajar nari. Bahkan ada yang jadi tour guide keliling dunia.
 
Di Belanda, waktu saya masih ditempatkan di sana, para alumni BSBI selalu dikerahkan saat kita adakan kegiatan. Mereka senang pakai kebaya, dan sebagainya.
 
Dari perwakilan kita di luar negeri, apakah masih ada pelajaran lanjutan untuk mereka? Misalnya bahasa?
 
Ya tentu sama perwakilan masih digandeng, kalau ada acara mereka diajak, tapi kita ada program baru. Kami ingin mengirim pelatih sanggar ini untuk melatih mereka. Misalnya di Fiji perlu di-upgrade, ya diingetin lagi, nanti kita latih tari, walaupun hanya tiga atau empat hari, tapi full (penuh). Biar yang belum tahu jadi tahu, yang sudah tahu diingatkan lagi.
 
Tiga bulan belajar dan mereka akan tampil di Indonesia Channel. Tema Indonesia Channel tahun ini apa?

Temanya ‘The Colours and Beautiful Indonesia’. Warna-warni banyak sekali. Karena kan ada yang ditaruh di beberapa daerah, nanti saat dikumpulkan mereka akan berwarna-warni, beragam. Ini bagian dari kemajemukan kita, akan kita jual keluar. Dari situ kita bisa melihat pesan perdamaian, bermacam-macam tapi tetap rukun. Misalnya di Padang agamanya kuat, di Bali Hindu, bermacam-macam.

Apa yang menarik di Indonesia Channel ini supaya orang-orang menontonnya?

Yang bikin menarik itu bagaimana mereka melihat orang-orang bule, rambut pirang, tapi mereka bisa menari budaya Indonesia. Sementara, kita saja belum tentu bisa menarikannya. Jadi kita lihat, bagaimana orang-orang asing itu, kok mau untuk merawat budaya kita. Pasti aneh melihat hidung mancung nari Jawa, ada Silat Randai dari Padang, nari Enggang dari Dayak. It will be something different (ini akan menjadi sesuatu yang berbeda), orang enggak pernah lihat. Sesuatu yang beda, You have to see (Anda harus melihatnya langsung).

Budaya kita kan banyak yang melibatkan hal yang mistis, penerimaan mereka bagaimana?

Mereka antara percaya dan tidak. Saat di Banyuwangi, ada kesenian Seblang, di daerah Oleh Sari, desa sampingnya tidak bisa melakukan kesenian itu. Seblang tarian dilakukan tujuh hari setelah hari raya, ditarikan 7 hari berturut-turut dan orangnya tidak sadar dari pukul 2.00 siang hingga Maghrib. Mukanya ditutup daun pisang, pakaian Jawa, dia pakai selendang, dia lempar. Orang yang kena selendang harus menari sama dia. Dan menarinya harus menginjak tanah.
Ini kan ada filosofinya. Tapi saat kita menonton, banyak penonton yang kesurupan, dan anak-anak itu melihat hal tersebut.

Saya bilang local wisdom (kearifan lokal), hal yang mungkin kamu tidak percaya bisa terjadi di sini. Di Bali juga, di Banyuwangi, di Kalimantan, jadi untuk local wisdom, please (silakan) diikuti. Mereka mengikuti saja.

Saat di Banyuwangi, ada satu anak BSBI kena lemparan selendang ya dia menari saja. Saat ditanya pengalaman, dia mengatakan sebenarnya saya takut.




Bagaimana Kemenlu mengkapitulasi BSBI untuk diplomasi Indonesia?
 
Soft power diplomacy ini kan harus dilihat hasilnya dalam waktu lama. Tetapi ini kan untuk memenangkan hati dan pikiran, harus penuh kesabaran, perawatan, menjadi diplomasi untuk kita ke berbagai negara.

Ada di beberapa tempat mereka menjadi penerjemah, simple tapi kan ini masih muda. Kita bisa lihat ke depan mungkin mereka sudah bisa menjadi decision maker (pembuat keputusan). Kita selalu kembangkan kualitas, tempat, dan lain-lain.
 
Memang tidak bisa langsung ke semua tempat. Di Australia, seorang alumni BSBI, dia melakukan acara Indonesian Day, kita enggak bisa lakukan, mereka yang bisa. Di Rusia yang main gamelan alumni BSBI. Kita tidak pernah lelah.
 
Bahkan pengajar di sanggar mengatakan kalau BSBI diputus, kita kehilangan nyawa karena sudah 16 tahun kita lakukan ini.
 
Hasil nyata BSBI buat Indonesia?
 
Paling nyata di depan mata, anak BSBI itu kan sudah 72 orang, keluarga mereka sudah 66 yang memesan tempat. Mereka kan engga mungkin cuma Jakarta, bisa saja mereka keliling-keliling.
 
Kedua, mereka mempromosikan Indonesia lewat media sosial. Pergi ke Pulau Merah, ke Derawan, mereka foto-foto dibagikan ke media sosial dan teman-teman mereka jadi tahu.
 
Investasi jangka panjang?
 
Ya benar. Semoga nanti teman-teman BSBI ini menjadi orang penting, misalnya menteri dan sebagainya.
 
Harapan untuk BSBI dan Indonesia Channel?
 
Buat Indonesia Channel saya berharap berjalan lancar, semoga tidak ada kendala. Harapannya para teman-teman bisa menunjukkan hasil belajar mereka, bukan untuk orang lain, tapi diri sendiri.
 
Untuk BSBI, saya harap bisa terus lanjut ke depannya. Jika ada yang kurang, nanti kami perbaiki, semoga bisa menambah budaya untuk dipelajari di tahun depan. Sudah ada beberapa provinsi yang meminta tapi kami harus melakukan studi dulu ke sana.

Harus ada anak muda, untuk belajar, airport, rumah sakit dan sanggarnya bagus untuk mengajarkan kepada para peserta. Kita sudah punya standar untuk sanggar, jadi harus dipenuhi dulu.



Program Beasiswa Seni dan Budaya sudah dilaksanakan sejak 2003. Beasiswa ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam meningkatkan kerja sama dalam bidang sosial budaya antar berbagai negara di dunia. Kemenlu RI melihat program ini bertujuan menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang keberagaman budaya Indonesia.

(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id