Lim, seorang ibu asal Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan. Foto: AFP
Lim, seorang ibu asal Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan. Foto: AFP

Ibu Pembelot Korea Utara Berjuang di Korea Selatan

Internasional korsel-korut
Arpan Rahman • 04 September 2019 20:16
Seoul: Ketika Lim mencapai Korea Selatan, dia pikir telah meninggalkan sengsara kemiskinan dan pernikahan yang tidak diinginkan untuk kehidupan yang lebih baik dengan putrinya.
 
Dia merupakan salah satu dari lebih dari 33.000 warga Korea Utara -- sebagian besar dari mereka perempuan -- yang telah melarikan diri ke Korsel dari kesulitan dan penindasan di tanah air mereka. Di mana pemerintahan Kim memerintah dengan tangan besi selama tiga generasi dan dituduh pelanggaran hak asasi manusia yang meluas.
 
Transisi menuju masyarakat yang sangat berbeda, demokratis dan kapitalis -- sambil menyulap pekerjaan, sekolah, dan menjadi ibu -- tidak mudah. "Kehidupan di Korsel adalah kebalikan dari apa yang saya harapkan," kata Lim, dikutip dari laman AFP, Rabu 4 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sembilan tahun setelah tiba, dia masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan, salah satu dari ratusan ibu tunggal Korut dalam situasi yang sama.
 
Nasib mereka disorot oleh kasus Han Sung-ok, yang kesulitan bekerja sambil merawat putranya berusia enam tahun yang menderita epilepsi. Mayat mereka ditemukan di sebuah flat Seoul dua bulan setelah mereka diyakini meninggal karena kelaparan.
 
Kabar kematian itu mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh negeri bulan lalu dan memicu kampanye belum pernah terjadi sebelumnya oleh komunitas pembelot yang mendesak Seoul merombak program bantuannya bagi para pengungsi Korut.
 
"Han meninggalkan Korut, tempat banyak orang meninggal karena kelaparan, hanya untuk mati kelaparan di Korsel," kata juru kampanye Heo Kwang-il.
 
Sebagian besar imigran Korut pergi dulu ke negara tetangga Tiongkok sebelum sampai ke Selatan.
 
Sebagai anak perempuan tertua, Lim -- yang minta untuk ditulis nama keluarganya saja -- meninggalkan rumah pada usia 24 tahun guna menghidupi keluarganya. Tetapi seperti banyak orang lainnya, dia diperdagangkan dan dijual kepada seorang lelaki Tionghoa yang kejam, dengan siapa ia lantas memiliki anak.
 
Setelah empat tahun dari apa yang dia sebut sebagai ‘penjara’, Lim melarikan diri dengan putrinya yang masih balita ke Seoul.
 
Awalnya, dia mengambil pekerjaan sambilan tetapi tak ada yang membantu merawat putrinya. Lim terpaksa suatu saat ingin menitipkannya dalam panti dan berpikir untuk bunuh diri, disiksa oleh rasa bersalah karena tidak mampu menyediakan kebutuhan untuk anak atau keluarganya di utara.
 
Terkadang dia meragukan keputusannya. "Kadang-kadang, saya ingin kembali ke Korea Utara," katanya kepada AFP di flatnya yang kecil.
 
Saat ini, ia bekerja sebagai pramusaji dan kadang-kadang dapat mengirim uang ke keluarganya di Utara melalui perantara.
 
Kehidupan di Korsel penuh tantangan budaya dan ekonomi bagi semua pendatang baru dari tetangganya. Kedua negara terbelah sejak pertempuran Perang Korea berhenti pada 1953. Tetapi ibu tunggal itu menghadapi komplikasi lebih lanjut tanpa jaringan dukungan keluarga.
 
"Ketika mereka harus merawat seorang anak, mereka akhirnya mencari pekerjaan paruh waktu, tidak stabil," kata Kim Sung-kyung, seorang profesor di University of North Korean Studies.
 
"Ini memulai lingkaran setan yang menahan mereka tidak bisa menyesuaikan diri secara finansial atau menemukan stabilitas," tuturnya.
 
Pemerintah Korsel memberi kepada pembelot yang baru tiba sejumlah santunan sekitar 8 juta won (USD6.600 atau setara Rp85 juta) untuk membantu mereka.
 
Sejumlah laporan media mengatakan Han telah mencari bantuan tetapi ditolak oleh seorang pejabat distrik yang menuntut surat-surat hukum untuk membuktikan statusnya, yang tidak dapat dia berikan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif