Laporan dari Yale University, Amerika Serikat (AS) menyebutkan, ditemukan adanya bukti kuat bahwa sebagian besar warga dari kelompok minoritas itu dengan sengaja dijadikan korban oleh Pemerintah Myanmar. Laporan pun menyebutkan bahwa sebagian besar dari etnis Rohingya bahkan dibunuh.
Pada Sekolah Hukum Yale pada Rabu (28/10/2015) mengumumkan bahwa
"Ada bukti bahwa genosida dialami oleh etnis Rohingya di Myanmar," sebut laporan dari Sekolah Hukum Yale, yang dikeluarkan 28 Oktober 2015, seperti dikutip Sky News, Kamis (29/10/2015).
"Analisis ini dikeluarkan berdasarkan penyelidikan selama tiga tahun, oleh kelompok Fortify Rights. Termasuk juga melakukan wawancara terhadap saksi mata, pengakuan para korban dan dokumen Pemerintah Myanmar serta dokumen PBB," lanjut laporan itu.
Pihak Yale University pun mendesak PBB melakukan penyelidikan kejahatan internasional yang dialami oleh Rohingya. Ini termasuk dugaan genosida yang dialami oleh etnis minoritas itu.
Warga Rohingya yang saat ini hidup di penampungan di Myanmar, dikabarkan sangat takut untuk hidup di luar penampungan. Mereka khawatir akan diserang oleh warga Myanmar yang sebagian merupakan umat Budha.
Namun biksu kuil Shwe Zar Di di Sittwe, Aria Vansa justru berdalih bahwa mereka yang tengah diserang, bukan warga etnis Rohingya. Vansa bahkan menolak untuk mengakui kata "Rohingya".
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News