Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Siksa WNI, Seorang Warga Singapura Mengaku Dengar Bisikan

Internasional penganiayaan tki singapura
Fajar Nugraha • 30 September 2019 15:06
Singapura: Ketua Mahkamah Agung Singapura pada Senin 30 September memberi kesempatan kepada seorang warganya bersaksi telah mendengar adanya bisikan. Perempuan itu divonis penjara karena menyiksa asisten rumah tangga asal Indonesia.
 
Pelaku yang bernama Anita Damu ini mengaku mendengar bisikan ketika melakukan penyiksaan terhadap WNI bernama Siti Khodijah. Pelaku diketahui menyiksa Siti selama lebih dari satu tahun.
 
Anita yang dikenal juga dengan nama Shazana Abdullah dijatuhi hukuman penjara 31 bulan pada malam Natal tahun lalu. Dia juga diperintahkan untuk memberi kompensasi kepada Siti Khodijah sebesar delapan ribu dolar Singapura atau sekitar Rp82 juta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penyiksaan dilakukan oleh Anita dengan menampar Siti Khodijah menyiksanya dengan tang dan menyiramkan air panas ke punggung serta kaki perempuan berusia 27 tahun itu. Tidak hanya itu, pergelangan tangan Siti disetrika oleh Anita.
 
Tubuh Siti pun dipenuhi dengan bekas luka di wajahnya, bekas luka bakar di tangannya. Selain itu ada keloid atau bekas luka yang tumbah yang membuahkan kekhawatiran Siti tidak bisa menikah karena cacat fisiknya.
 
Baik Anita dan jaksa mengajukan banding terhadap hukuman pada Senin. Sementara Ketua Mahkamah Agung Sundaresh Menon mengesampingkan temuan hakim pengadilan rendah bahwa Anita mengaku ada halusinasi yang membuatnya seperti ada bisikan untuk melakukan tindak penyiksaan.
 
“Anita telah mengatakan dalam mitigasi selama sidang pengadilan negara bahwa ia menderita gangguan depresi berat. Dirinya telah mendengar suara-suara yang memintanya untuk melakukan pelanggaran,” ucap Ketua Mahkamah Agung Sundaresh Menon, seperti dikutip Channel News Asia, Senin, 30 September 2019.
 
Pembela telah memberikan bukti dua psikiater yang mendiagnosis Anita dengan gangguan tersebut. Tetapi Anita tidak memberikan kesaksian pada dirinya sendiri tentang mendengar suara-suara.
 
“Kegagalannya untuk bersaksi tentang halusinasi akan membuat temuan psikiater tentang kondisinya ‘praktis tidak berharga’,” sebut Menon.
 
“Dengan demikian, akan adil untuk mengizinkannya membuat keputusan apakah akan bersaksi tentang kondisinya sendiri atau tidak,” kata Hakim Menon.
 
Dia menunda masalah ini setelah mengarahkan penuntutan dan pembelaan untuk memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Anita berniat untuk memberikan bukti tentang pengalamannya yang dilaporkan sendiri tentang mengalami halusinasi pendengaran.
 
Kedua belah pihak harus menulis ke pengadilan setelah memutuskan bagian mana dari pernyataan fakta yang sebelumnya diakui Anita akan tetap ada.
 
Pengadilan juga harus menyarankan bagaimana kesaksian Anita akan didengar ,-apakah di hadapan Ketua Mahkamah Agung atau kembali ke pengadilan negara bagian,- jika demikian, terbuka peluang persidangan akan dipimimpin oleh hakim yang lebih mendengaran pembelaan Anita.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif