medcom.id, Lahore: Kelompok militan Taliban Pakistan mengaku bertanggung jawab atas serangan bunuh diri kepada personel militer, yang menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai 18 lainnya. Aksi berdarah itu terjadi di Lahore, kota Pakistan timur.
"Ledakan menewaskan empat tentara dan dua pengamat sipil. Para korban berada di kendaraan militer, yang sedang ambil bagian dalam sensus Pakistan, saat ledakan menghantam," ujar Juru Bicara Pemerintah Daerah Punjab Malik Ahmed Khan, seperti dikutip Reuters, Rabu 5 April 2017.
"Ledakan menewaskan empat tentara dan dua pengamat sipil. Para korban berada di kendaraan militer, yang sedang ambil bagian dalam sensus Pakistan, saat ledakan menghantam," ujar Juru Bicara Pemerintah Daerah Punjab Malik Ahmed Khan, seperti dikutip Reuters, Rabu 5 April 2017.
Puluhan orang telah tewas sejak awal tahun dalam serangkaian serangan, yang telah memupus harapan akan berakhirnya kekerasan selama bertahun-tahun. Insiden terbaru menambah tekanan ke arah pemerintahan Perdana Menteri Nawaz Sharif agar meningkatkan keamanan.
Tayangan televisi menunjukkan petugas keamanan memblokir jalan-jalan di sekitar lokasi ledakan, dekat dengan sekolah pelatihan polisi elit, yang merupakan lokasi serangan Taliban Pakistan pada 2009.
Sasaran serangan jelas personel yang bertugas dalam sensus --yang kali pertama digelar dalam 19 tahun-- menggarisbawahi tantangan bagi instansi pemerintah di Pakistan, negara bersenjata nuklir berpenduduk 200 juta jiwa.
Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan dan ibu kota provinsi Punjab, sudah siaga tinggi menyusul serangan bom bulan lalu yang menewaskan sedikitnya 13 orang.
Muhammad Khurassani, juru bicara Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), sebuah gerakan militan terlarang yang sering disebut Taliban Pakistan, mengeluarkan pernyataan yang mengklaim bertanggung jawab.
Serentetan serangan telah meningkatkan ketegangan dengan negara tetangga, Afghanistan, yang dituduh beberapa pejabat Pakistan sebagai suaka bagi militan TTP. Pemerintah Kabul, lalu gantian, menuding Islamabad membantu Taliban Afghanistan, namun tudingan itu disangkal Pakistan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News