Riza Sukma dalam sesi wawancara di KBRI New Delhi, India, Rabu 14 Agustus 2019. (Foto: Medcom.id/Willy Haryono)
Riza Sukma dalam sesi wawancara di KBRI New Delhi, India, Rabu 14 Agustus 2019. (Foto: Medcom.id/Willy Haryono)

Tantangan Mengajar Bahasa Indonesia di India

Internasional indonesia-india
Willy Haryono • 15 Agustus 2019 12:40
New Delhi: Bahasa Indonesia semakin populer di mata komunitas global dari tahun ke tahun. Penutur asing dari banyak negara terus menunjukkan ketertarikan mereka untuk mempelajari dan menguasai Bahasa Indonesia dengan baik.
 
Merespons tren positif ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka program pengiriman guru untuk mengajarkan Bahasa Indonesia kepada penutur asing. Program yang dibuka sejak 2016 ini meliputi 42 negara, termasuk India.
 
Riza Sukma, salah satu staf Kemendikbud, mendapat kesempatan menjadi guru Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di India. Menurutnya, menjadi guru BIPA bukan perkara mudah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini sebuah tantangan bagi saya. Kenapa? Karena saya harus menyampaikan materi dalam bahasa kita ke orang asing agar mereka paham. Pemahaman Bahasa Indonesia saya harus tinggi," kata Riza saat ditemui Medcom.id di KBRI New Delhi, India, Rabu 14 Agustus 2019.
 
"Bagi orang asing, terutama yang pemula, mereka sama sekali tidak mengerti Bahasa Indonesia. Untuk itu diperlukan kreativitas dari pengajar," lanjutnya.
 
Tantangan Mengajar Bahasa Indonesia di India
KBRI New Delhi. (Foto: Medcom.id/Willy Haryono)
 
Pengenalan Budaya Indonesia
 
Sebelum di India, Riza telah mengajar BIPA di sejumlah tempat, seperti Universitas Negeri Jakarta dan Kedutaan Besar Rusia. Pernah suatu ketika kelas tempat Riza mengajar diisi murid dari banyak negara, diantaranya Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara Afrika serta Arab.
 
Ada seorang siswi dari Yaman. Ia cenderung diam dan terlihat kebingungan sepanjang pelajaran. "Ternyata siswi saya dari Yaman itu hanya bisa Bahasa Arab. Saya pun memberikan dia sesi tambahan selama 10-15 menit," ucap Riza.
 
Sesi tambahan ternyata belum mampu memecah kebuntuan. Riza memutar otak, dan memutuskan mengajar dengan menggunakan gambar. Semisal, Riza menggambar karakter wanita yang memegang balon untuk mengajarkan kalimat, "Ibu memiliki sebuah balon."
 
Setelah satu bulan belajar dengan giat, siswi dari Yaman itu mulai bisa bercerita dalam Bahasa Indonesia. "Dia bilang pernah ditipu saat beli teh dan kopi, serta ketika naik taksi di Jakarta," tutur Riza.
 
Selain mengajarkan bahasa, seorang guru BIPA juga harus mengenalkan budaya Indonesia. Oleh karenanya, guru BIPA dituntut memiliki keahlian lain selain mengajar, seperti bermain musik, menari, menggambar dan lainnya terkait kebudayaan Indonesia.
 
Untuk kelas BIPA di India, Riza mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi hampir sama dengan beberapa tempat mengajar lain. Tantangan pertama adalah perbedaan gramatika Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris -- satu dari dua bahasa resmi di India.
 
Tantangan Mengajar Bahasa Indonesia di India
Gedung BIPA di KBRI New Delhi. (Foto: Medcom.id/Willy Haryono)
 
Train Fire
 
Walau sejumlah ahli bahasa menyebut gramatika Bahasa Indonesia relatif sederhana, ternyata tidak mudah saat diajarkan ke penutur asing. "Sedikit ada kesulitan saat mengajar ke pemula, tapi untuk yang kemampuannya sudah lebih tinggi tidak terlalu sulit," sebut Riza.
 
Terdapat satu lagi cerita unik saat Riza mengajar BIPA. Salah satu murid menerjemahkan kata "Kereta Api" ke dalam Bahasa Inggris menjadi "Train Fire." Riza kemudian menjelaskan bahwa Bahasa Indonesia, dan juga beberapa bahasa lain, tidak bisa semuanya diterjemahkan kata per kata. "Saya ajarkan ke mereka bahwa dalam Bahasa Indonesia ada yang namanya frase, atau phrase dalam Bahasa Inggris.
 
Kelas BIPA di India diadakan di salah satu gedung di KBRI New Delhi. Kelas diikuti 17 siswa tahun ini, meski jumlah pendaftar awal berada di kisaran 60 hingga 100 orang.
 
"Jumlah murid berkurang karena beberapa kendala. Terkadang ada yang tiba-tiba harus kuliah ke luar kota, atau susah menyesuaikan jadwal belajar dengan pekerjaan di kantor," sebut Riza.
 
Terbuka untuk masyarakat umum di India, kelas BIPA di KBRI New Delhi tidak dipungut biaya. Mereka yang tertarik hanya perlu mendaftar melalui situs resmi KBRI New Delhi.
 
"Anak didik saya sedang berada di Indonesia. Mereka mengikuti perlombaan Bahasa Indonesia, bersaing dengan murid BIPA dari seluruh dunia. Dalam lomba sebelumnya, dua pemenang berasal dari kelas saya, lho," pungkas Riza bangga.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif