medcom.id, Paris: Indonesia menegaskan kembali keinginan untuk meningkatkan jumlah personel dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB.
"Sebagai salah satu negara penyumbang pasukan terbesar di Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB, dengan total 2.867 personel, Indonesia akan terus tingkatkan kontribusinya di misi pemeliharaan perdamaian PBB, termasuk misi PBB yang berada di negara yang berbahasa Perancis," ujar Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M. Fachir, di dalam Pertemuan Tingkat Menteri 'Peacekeeping in the Francophone Area,' 26-27 Oktober 2016, di Paris, Prancis.
"Pentingnya program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas, keahlian dan profesionalisme personel pasukan untuk misi di negara-negara berbahasa Prancis. Untuk itu, perlu didorong kerja sama antara negara berbahasa Pperancis dan negara non-francophone, dengan dukungan PBB," tutur Wamenlu Fachir, dalam pernyataan yang dikutip dari situs Kemlu.go.id, Kamis (27/10/2016).
Ditegaskan pula pentingnya keseimbangan keterwakilan personel dari negara–negara penyumbang pasukan dalam posisi-posisi strategis, baik di Markas Besar PBB maupun di misi. Khususnya juga bagi negara-negara yang memiliki kontribusi terbesar, seperti halnya Indonesia.
Pertemuan di Paris dilaksanakan pasca pertemuan tingkat Menteri Pertahanan di London, pada September 2016 yang bertujuan untuk mengkoordinasikan kontribusi negara-negara terhadap Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB. Sementara untuk pertemuan kali ini difokuskan untuk mendukung implementasi mandat misi yang ditempatkan di wilayah yang menggunakan bahasa Prancis.
Undangan Menlu Prancis kepada Menlu RI didasarkan pada komitmen dan partsipasi aktif Indonesia dalam misi perdamaian PBB sejalan dengan Visi 4.000 Peacekeepers. Delegasi RI dipimpin oleh Wamenlu RI, dalam kapasitasnya mewakili Menlu RI, dan didampingi oleh Dirjen Multilateral Kemlu RI, Dubes Hasan Kleib, dan Komandan PMPP, Brigjen Ahmad Marzuki, serta Wakil KBRI Paris.
Dari 16 misi perdamaian PBB saat ini, terdapat tujuh misi yang berada di wilayah yang berbahasa Prancis. Kontingen Indonesia saat ini berpartisipasi pada enam misi berbahasa Perancis yaitu UNIFIL (Lebanon), MINUSCA (Republik Afrika Tengah), MINUSMA (Mali), MINUSTAH (Haiti), MONUSCO (Republik Demokratik Kongo), dan MINURSO (Sahara Barat), dengan total 1.858 personel.
Sejumlah misi pemeliharaan perdamaian PBB di daerah berbahasa Prancis dikategorikan sebagai misi-misi paling berbahaya dengan berbagai tantangan situasi politik dan keamanan yang sangat rentan.
Beberapa misi PBB tersebut juga menghadapi ancaman keamanan dari kelompok bersenjata, termasuk kelompok ekstremis, radikal dan teroris. Kendala lain yang dihadapi adalah kesenjangan jumlah peralatan serta personel.
Sementara itu, pada pertemuan tingkat pejabat senior pada 26 Oktober 2016, Dirjen Multilateral Kemenlu RI, Dubes Hasan Kleib, menekankan pentingnya pelatihan pasukan sebelum penugasan ke misi, khususnya dalam hal pelatihan bahasa Perancis dan pemahaman mengenai situasi, budaya dan kondisi di daerah misi.
"Walaupun Indonesia bukan merupakan negara yang menggunakan Bahasa Prancis, namun Pemerintah RI tetap berkomitmen tinggi untuk membantu misi perdamaian PBB yang berada di wilayah francophone, melalui pengiriman personel Indonesia yang berkualitas dan profesional serta peralatan (alutsista) dengan standar PBB,” tegas Hasan Kleib.
Pertemuan Tingkat Menteri ini juga digunakan oleh Wamenlu RI untuk menggalang dukungan terhadap pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020, serta memperkuat kerja sama dengan sejumlah Negara melalui pertemuan bilateral dengan beberapa negara peserta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News