Kaisar Akihito saat pidato perayaan Tahun Baru di hadapan warga Jepang. (Foto: AFP).
Kaisar Akihito saat pidato perayaan Tahun Baru di hadapan warga Jepang. (Foto: AFP).

Tangis Haru di Perayaan Tahun Baru Terakhir Kaisar Jepang

Internasional kaisar jepang
Arpan Rahman • 03 Januari 2019 16:59
Tokyo: Kaisar Jepang Akihito menyampaikan pidato Tahun Baru terakhirnya pada Rabu 2 Januari sebelum turun tahta tahun ini. Ia mengatakan kepada puluhan ribu rakyatnya bahwa dirinya mendoakan perdamaian.

Istana Kekaisaran mengatakan lebih dari 114.600 orang telah berbondong-bondong ke kediaman kerajaan pada Rabu sore. Lebih banyak lagi rakyat yang tiba dalam kesempatan terakhir melihat raja berusia 85 tahun itu menyampaikan salam tahunan tradisionalnya.

Kaisar akan menjadi raja Jepang pertama yang turun tahta sejak dua abad ketika dia turun dari tahta pada 30 April mendatang, mengakhiri pemerintahan tiga dasawarsa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Selamat Tahun Baru. Saya dengan senang setulusnya merayakan tahun baru bersama Anda di bawah langit yang cerah," katanya kepada kerumunan. Banyak warga yang mengibarkan bendera Jepang dan berteriak 'Banzai', yang berarti 'panjang umur'. "Saya berharap tahun ini akan menjadi tahun yang baik bagi sebanyak mungkin orang," kata Akihito yang bersuara lembut. Berbusana setelan gelap, ia diapit oleh Permaisuri Michiko dan anggota keluarga lainnya.

"Saya berdoa untuk perdamaian dan kebahagiaan orang-orang di negara kita dan dunia," tambahnya, seperti dinukil dari Telegraph, Rabu 2 Januari 2019.


Warga Jepang menyambut Kaisar Akihito. (Foto: AFP).

Kaisar menyampaikan salam Tahun Baru singkat setiap tahun, dan diharapkan muncul lima kali pada Rabu untuk menyambut sebanyak mungkin simpatisan.

Beberapa orang di kerumunan berteriak, "Terima kasih banyak" ketika sang kaisar melambai, sementara yang lain menyanyikan lagu kebangsaan. Seorang wanita di barisan depan meneteskan air mata saat dirinya memandang ke balkon.

"Saya datang ke sini dengan ibuku untuk menyaksikan penampilan terakhirnya sebagai kaisar dalam ingatan kami," kata Yume Nishimura, seorang mahasiswa, ketika dia menunggu dalam antrean panjang untuk memasuki istana.

"Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa kami menghargai kerja kerasnya untuk negara ini," katanya kepada AFP.

Kazuo Iwasaki, pensiunan 68 tahun, mengatakan: "Saya harap dia akan dapat menghabiskan masa pensiunnya dengan cara yang sehat dan santai dengan Permaisuri Michiko."

Akihito mengejutkan negara itu pada 2016 ketika dia mengisyaratkan keinginannya untuk mungundurkan diri, mengutip usia tua dan masalah kesehatannya.

Putra sulungnya, Putra Mahkota Naruhito, diatur untuk naik ke Tahta Krisan sehari setelah pengunduran diri ayahnya, melanjutkan pemerintahan keluarga kekaisaran tertua di dunia.

Status kaisar sensitif di Jepang mengingat sejarah perang abad ke-20 yang dilancarkan atas nama ayah Akihito, Hirohito, yang meninggal pada 1989.

Akihito telah menyandang peran yang lebih modern sebagai simbol negara -- dipaksakan setelah Perang Dunia II berakhir. Kaisar sebelumnya termasuk ayahnya telah diperlakukan sebagai setengah dewa.


Keluarga Kekaisaran Jepang dalam perayaan bersama warga. (Foto: AFP).

Istana, dikelilingi oleh tembok batu dan parit berlumut, dibuka untuk umum dua kali setahun -- pada hari ulang tahun kaisar dan hari kedua Tahun Baru -- bagi keluarga kerajaan buat menyambut para simpatisan.

Dalam pidato emosional yang langka untuk menandai ulang tahunnya yang ke-85 bulan lalu, Akihito menunjuk pada ‘nyawa yang tak terhitung jumlahnya’ yang hilang dalam perang.

"Ini memberi saya kenyamanan yang dalam bahwa Era Heisei (pemerintahannya) akan segera berakhir, bebas dari perang di Jepang," katanya dalam sebuah pernyataan pers.

Akihito telah memanfaatkan pidatonya dan melakukan perjalanan untuk mengekspresikan pandangan pasifisnya yang kuat, yang sangat bertentangan dengan ekspansionisme agresif yang diburu Jepang di bawah pemerintahan ayahnya.

Kaisar juga berupaya mendekatkan keluarga kerajaan dengan rakyat dan sering mengunjungi warga yang kurang beruntung dan keluarga yang dilanda bencana alam.


(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi