Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memaparkan langkah politiki luar negeri. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memaparkan langkah politiki luar negeri. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta

Enam Langkah Penguatan Diplomasi Ekonomi Politik Luar Negeri RI

Internasional kemenlu menlu retno lp marsudi Diplomasi Ekonomi
Marcheilla Ariesta • 29 Oktober 2019 18:58
Jakarta: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan prioritas politik luar negeri Indonesia, yang disebut Prioritas 4+1. Dalam empat prioritas ini, penguatan diplomasi ekonomi menjadi yang pertama dan terutama.
 
Retno menyampaikan, ada beberapa langkah strategis untuk melaksanakan penguatan diplomasi ekonomi tersebut. Yang pertama adalah kapitalisasi penguatan pasar domestik.
 
Indonesia, kata Retno, merupakan pasar yang besar dengan lebihbdari 260 juta jiwa. "Ini harus kita jadikan daya tawar kita untuk menjalin kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan baik di tingkat bilateral, kawasan, maupun dunia," tutur Retno dalam pemaparan prioritas politik luar negeri RI periode 2019-2024 di Jakarta, Selasa,29 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Retno menjelaskan, menjaga pasar domestik dari produk-produk yang masuk secara ilegal merupakan salah satu hal yang perlu diwaspadai. Tak hanya itu, Indonesia juga perlu waspada terhadap pertumbuhan ekonomi global yang rendah.
 
Langkah kedua yakni penguatan pasar tradisional dan terobosan pasar non-tradisional. Menurutnya, diplomasi akan terus bekerja untuk memperkokoh kerja sama ekonomi yang strategis dan saling menguntungkan pasar tradisional Indonesia.
 
"Selain itu, langkah terobosan juga akan dilakukan untuk menembus pasar non-tradisional Indonesia lebih banyak lagi," ungkapnya.
 
Setelah menembus pasar Afrika lewat Indonesia-Africa Forum dan Indonesia-Africa Infrastructure Dialog, kini sasaran pasar RI ada di kawasan non-tradisional lainnya, yaitu Latin Amerika, Asia Selatan dan Tengah, Timur Tengah, dan Pasifik.
 
"BUMN dan swasta Indonesia akan terus melanjutkan engagement dengan Afrika terutama di bidang perdagangan barang dan jasa, serta investasi, termasuk pembangunan infrastruktur dan konstruksi di kawasan tersebut," imbuhnya.
 
Langkah ketiga diplomasi ekonomi yaitu penguatan perundingan perdagangan dan investasi. Ini dilakukan untuk memperkuat akses pasar.
 
Karenanya, dalam lima tahun ke depan penyelesaian berbagai perundingan seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Free Trade Agreement (FTA), dan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan berbagai negara akan dipercepat.
 
"Dengan catatan akan bermanfaat bagi kepentingan nasional Indonesia dan saling menguntungkan," kata Retno.
 
Langkah keempat adalah promosi terpadu perdagangan dan investasi serta mendorong outbond investment. Retno mengatakan langkah ini merupakan upaya untuk mengintegrasikan promosi perdagangan dan investasi agar lebih terarah dan menghasilkan hal konkret.
 
Promosi ke luar negeri, kata Retno, akan dilakukan secara sinergis. Salah satu cara untuk promosi adalah dengan mulainya ekspansi BUMN dan sektor swasta Indonesia. Menurut dia, sudah waktunya Indonesia mengembangkan kebijakan outbound investment ke luar negeri yang sinergis dengan kepentingan ekonomi nasional.
 
Langkah kelima yaitu diplomasi juga akan dioptimalkan untuk menjaga kepentingan strategis ekonomi Indonesia. Retno menegaskan kepentingan kelapa sawit Indonesia adalah hal fundamental karena menyangkut kehidupan 16 juta orang, khususnya petani kecil dan keluarganya.
 
"Kita terus akam menolak berbagai tindakan diskriminatif yang ditujukan terhadap kelapa sawit, karena bukan hanya merugikan kepentingan nasional, namun juga mengancam terpenuhinya kebutuhan mayoritas populasi dunia akan minyak nabati yang memenuhi kriteria SDGs," tegas Retno.
 
Langkah keenam, sekaligus yang terakhir adalah mendorong economy 4.0. Ini meliputi industri digital, ekonomi kreatif, dan pengembangan sumber daya alam.
 
Retno menyebutkan kebijakan mendorong economy 4.0 diperlukan, baik untuk meningkatkan produktivitas berbagai industri Indonesia, maupun untuk membuka akses yang makin besar bagi kelompok menengah ke bawah ke pasar internasional.
 
"Hal lain yang penting adalah isu terkait financial inclusion dan ekonomi kreatif, sehingga pertumbuhan ekonomi nasional akan semakin tinggi dan merata," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif